Berkah Bakau yang Memukau di Utara Makassar


Oleh: Irhyl R Makkatutu

------***-------


Lelaki berkacamata itu sedang sibuk mencari spot foto.  Kameranya diarahkan ke jembatan kayu yang telah dicat warna-warni serupa  pelangi.  Ranselnya menggantung di pundaknya. Ia terlihat puas dengan beberapa hasil jepretannya sore di hari Senin itu, 23 Juli 2018 meski air sedang surut.


Suasana sepi sehingga membuatnya leluasa mengatur  tripod yang menyanggah kameranya di atas jembatan yang panjangnya 270 meter. Pengunjung hutan bakau  atau mangrove Lantebung memang tidak banyak sore itu.  Hanya  lima orang , termasuk lelaki berkacamata itu. Empat orang lainnya adalah pemuda yang sedang menikmati sepoi angin laut di ujung jembatan di sebuah gazebo.  


Lelaki berkacamta itu  bernama Azwir Mandala, berprofesi sebagai fotografer di Kota Makassar. Ia datang melepas rasa penasarannya pada hutang mangrove  di Kelurahan Bira, Kecamatan Tamalanrea, tepat  di sisi utara Makassar  tersebut. 


“Ini pertama kalinya saya ke sini. Setelah melihat foto teman-teman,  saya  penasaran, jadi datang melihat langsung.  Tempat ini membuat saya terkesan, sebab ini unik berada di pinggiran Kota Makassar dengan akses yang cukup mudah,” terangnya.


Apa yang dikatakan Azwir memang benar, hutan mangrove Lantebung memang unik, bukan hanya karena letaknya yang berada di dekat pusat kota, tetapi juga karena diinisiasi oleh masyarakat sendiri, bukan oleh pemerintah. Sambil membetulkan kacamatanya, Azwir mengalihkan pandangannya dari kameranya, menyapu hutan mangrove yang luasnya 2 km itu.  


Ia berharap penanaman  mangrove terus bertambah dan mendapat dukungan dari pemerintah.  Tapi, ia tidak setuju jika  jika hutan mangrove Lantebung pengelolaannya diambil alih oleh pemerintah. 


“Jika ingin melanjutkan ini ke tujuan wisata, maka fasilitas harus diperadakan, khususnya WC umum dan keamana yang perlu ditingkatkan, serta jangan dikelola oleh pemerintah, cukup dikelola oleh warga setempat dan relawan saja. Sangat banyak tempat wisata dikelola pemerintah pada  akhirnya terbengkala dan hanya menjadi tempat  mistik,” harapnya.


Mekail, pemuda asal Sudiang yang datang bersama tiga temannya juga  mengharapkan fasilitas harus ditingkatkan, khususnya pembangunan gazebo yang lebih besar agar  bisa memuat orang yang datang berkunjung. Mekail juga untuk pertama kalinya mengunjungi hutan mangrove tersebut.


“Tempat ini bagus untuk refreshing, hanya saja sepertinya masih kurang dipromosikan, tempatnya terkesan tersembunyi. Harus ada gerbang yang menunjukkan tempat ini agar masyarakat mudah menemukannya,” ujarnya. Ia mengaku sempat kesasar saat menuju lokasi.


Keberadaan hutan mangrove Lantebung  tidak bisa lepas dari sosok sederhana Saraba. Dari usaha kerasnyalah  yang tidak kenal menyerah menaklukkan penentangnya sehingga hutan mangrove Lantebung bisa dinikmati Izwar dan Mekail serta pengunjung lainnya.

Semuanya bermula dari keresahan dan kekhawatiran akan kelangsungan hidup warga kampung Lantebung, maka  pada tahun 1996 ia memulainya mengajak masyarakat   menanam dan memelihara mangrove. Ajakan itu tidak mulus, sebab ditentang oleh RT, RW, dan lurah setempat serta orang-orang yang punya kepentingan.


“Semua ini saya lakukan untuk masa depan anak cucu warga Lantebung. Kalau tidak berpikir ke depan bagaimana anak cucu warga di sini, mau ke mana mereka tinggal dan mencari nafkah?” ujar Saraba  serius.


Demi mewujudkan mimpinya, Saraba kerap mengajak warga Lantebung mengikuti pelatihan yang diadakan di hotel meski itu tidak mudah. Namun, setelah   Internasional Fund For Agricultural Develoment (IFFAD) yang merupakan lembaga internasional mulai melirik dan terlibat,  maka upaya penanaman dan pemelihara mangrove di Lantebung mulai memperlihatkan hasilnya. 


“Pada tahun 2006, saya mengajak masyarakat studi banding ke Tangke-tangke, Sinjai,  sepulang dari sana kesadaran akan pentingnya pelestarian mangrove semakin mantap hingga sekarang,” ungkap Saraba. Kini setiap bulan selalu ada aksi penanam mangrove di Lantebung, bukan hanya dilakukan oleh warga loka,  tapi juga warga asing seperti Spanyol, Korea, Portugal, Amerika Serikat, Belanda dan lainnya.


Mimpi lelaki empat anak itu hanya ingin melihat perekonomian warga Lantebung meningkat. Ia tidak rela warga Lantebung terus berkabung dalam kemiskinan dan menjadi warga teringgirkan dari segi ekonomi dan pendidikan. Mimpi itu perlahan terwujud, apalagi setelah Dinas Kelautan dan Perikanan(DKP) Kota Makassar  tahun 2010 ikut membantu dan mendukung konservasi mangrove di sisi utara Kota Makassar itu.


Apalagi sejak dibangun jembatan yang berfungsi sebagai tempat menambatkan perahu warga. Jika dulu sebelum jembatan dibangun, warga Lantebung yang dominan nelayan hanya sekali sehari melaut, kini para nelayan bisa keluar melaut dua kali dalam sehari. 


Basri, lelaki yang lahir di Lantebung  itu merasa bersyukur dengan adanya hutan mangrove sebab perekonomian keluarganya meningkat dan rumahnya terhindar dari bencana banjir dan angin laut saat musim hujan.


“Sebelum adanya hutan mangrove ini, setiap musim hujan air naik hingga ke jalan dan menggenangi rumah warga. Bukan hanya terhindari banjir dan angin,  tapi mangrove telah membawa dampak ekonomi yang baik bagi warga, sebab dengan adanya mangrove kepiting rajungan mudah ditemukan, begitu pun tirang  yang nilai ekonominya bisa menutupi kebutuhan keluarga," ujarnya


Rasa syukur juga diungkapkan Salma, perempuan berkulit putih yang berusia di kisaran tiga puluh tahun itu mengaku sejak adanya budidaya hutan mangrove perekonomian keluarganya meningkat. Ia berjualan tepat di sisi kiri pintu masuk jembatan pelangi.


“Jika hari libur ramai, saya biasa jualan gorengan. Saya baru tiga bulanan jualan dan hasilnya bisa diandalkan,” katanya sambil bersandar di pembatasan jembatan.


Salma berharap agar fasilitas hutan mangrove bisa lebih ditingkatkan lagi. Apalagi yang datang bukan hanya wisatawan lokal, tapi juga dari mancanegara. Harapan Salma, Izwar, dan Mekail sepertinya akan terwujud karena Saraba selaku pengelola dan inisiator konservasi hutan mangrove Lantebung sedang merencanakan pembangunan jembatan di tengah-tengah hutan mangrove sehingga pengunjung bisa lebih nyaman menikmati mangrove dan cericit burung.


Selain itu, Saraba juga berharap pondokan yang berfungsi sebagai pusat informasi bisa digunakan dijadikan rumah baca sehingga pengunjung bukan hanya menikmati ekowisata saja tetapi juga nilai ada nilai pendidikan.


“Namun, semua itu butuh perjuangan dan tekad yang keras, sebab  musuh laut sekarang bukan ketiadaan mangrove, tetapi  reklamasi pantai” tutupnya....

-------

Cat: pernah dimuat di majalah Mitra Hijau 2018



Perjalanan Menuju Tabir


Puisi-puisi Damar I Manakku


Perjalanan Menuju Tabir


Mendengar kisah berlalu dari Tambo, tentang perempuan bermukim di bukit rindu yang layu. Jelitanya terhuyung di dalam gadang dengan kaca penantian, gadis berparas yang hanyut pada pelukan harapan.


Ingatkah tentang bumi yang lebih paham mengabarkan lewat mulut Kaba dibanding suara tanya perempuan berkulit sawo berdandan anak daro dengan mata basah? Isak terdengar dari rintihan rindu tanpa isyarat.


Perjalanan ini tak sekadar menghabiskan tenaga, lelaki ini baru saja keluar dari sangkarnya, bertualang menuju pencarian jawaban dari rahasia-rahasia kehidupan ranah Minangkabau.


Kota Padang, Juli 2018


---------------


Di Tubu Puisiku adalah  Jalan Kembaraku


Dua buah gunung antara Singgalang dan Marapi telah riuh kabutnya, di tengahnya rumah-rumah puisi berkhias bunga dan buku, inilah tanda bahwa tempat ini adalah rahim lahirnya para pecinta.


Akulah lelaki dari timur matahari, mengejar zikir pada ingatan dan hati, tibalah kaki kembara ini di ranah Minang yang diasuh oleh Mande, tempat surau memeluk tubuh.


Di tubuh puisiku adalah jalan kembaraku, kisah pertautan antara timur dan barat menjadi jalur undangan datang dengan penuh rindu, dari mata yang rimba dan pulang pada rimbun kisah yang kututurkan pada mereka, Kita memang Dun Sanak..


Padang Panjang, 17 Juli 2018


-------------------

Menemukan Hayati


Diperantauanku, ini kali pertama kukunjungimu dengan sungguh, kau harus tahu, bayangan kisahmu selalu bertualang dalam ingatan


Lubuk Linggau, SUMSEL 2018


----------------


Jangan Biarkan Aku Terbelenggu Bagai Burung dalam Sangkar


Kemarin, dari adat yang mengubur mimpi, segala piutang pada hati telah reda. Kebaikan pada siapa


--------------


Daeng Mabella

(Kisah Lelaki Makassar Berjuang di Bengkulu)


Kusengaja merenung di balik dinding benteng Marlborough, dari surat kabar yang melayang menuju bisikan, aku terima bahwa seorang lelaki dari tanah timur matahari telah mendaratkan perahunya di tepian pantai panjang


Seringkali berita tanpa pewarta berbisik di hati yang masih sunyi, aku mendaras bisikan itu sampai tiba pada cerita perangai lelaki Makassar tanggalkan halaman dan berlayar tanpa peta


Wahai Daeng Mabella, panglima yang mangkat dari jabatan, lelaki maha dari timur matahari menggulung tiga jenderal inggris, kupanggil namamu sejak amukan pantai samudera indonesia, kabarnya engkau adalah anak Daeng Maruppa, lelaki perkasa yang melihat cahaya di balik kegelapan

Lelaki yang Menolak Dicintai



Oleh: La Ndolo Conary

Di salah satu malam,Dawan terbangun jam dua dini hari. Ia tertidur setelah orang-orang pulang sholat Isya di masjid. Kondisinya kurang sehat sehingga sudah beberapa hari tak menjalankan aktivitasnya sebagai buruh bangunan di kampung-kampung. Malam itu ia menjerit kesakitan, ia tindis perutnya dengan ujung jari, sakit perutnya bertambah parah, keringat di keningnya mulai bercucuran, matanya tak bisa melihat secara jelas benda-benda di sekitarnya. Dalam kamar yang sempit, ia hanya mampu mengeluhkan segala derita kepada tembok dan beberapa helai pakaian yang tergantung. 

Dua tahun terakhir ia memang sering sakit, tubuhnya sangat kurus, urat dan tulang sangat mencolok, kalau jalan badannya merunduk.  Sejak umur lima tahun, Dawan telah ditinggalkan oleh ibunya yang pergi menjadi TKI di Malaysia, tetapi hingga kini ibunya tak ada kabar. Ia pasrah saja dengan keadaan yang menimpahnya, menyendiri menjalani hidup sebagai anak yang tak jelas ayahnya. Ia tak pernah bertanya pada ibunya tentang seorang ayah, sejak kecil hanya sosok seorang wanita saja yang ada di rumahnya.

Selama ibunya pergi, ia sering numpang makan pada pamannya atau di rumah teman sebayanya, kadang ia membantu pekerjaan orang sekedar mendapat upah sesuap nasi. Dan, pada usia dua belas tahun ia mulai hidup mandiri, bekerja keras untuk bertahan hidup.

Suara ayam yang berkokok di rumah tetangga terdengar, sebentar lagi subuh akan tiba, rasa sakit terus mengendarai tubuhnya. Ia memaksa bangun dan berjalan ke dapur untuk melihat sesuatu yang bisa dimakan, tapi tak ada apa-apa yang bisa dicicipi, kosong dan nihil. Kecuali air putih dalam ember kecil, secepatnya ia meneguk segelas air untuk menawar rasa lapar.

Ia menarik nafas dan kembali berbaring, tanpa ia sadari air matanya tumpah. Perihnya tak mampu lagi dibendung, ia sangat sedih mengingat liku-liku perjalanan hidup yang tak kunjung membaik. Di usianya yang dewasa, dua puluh tiga tahun masih saja hidup terlunta-lunta. Walau pun demikian deritanya, ia tetap semangat seperti kebanyakan orang dan telah tamatkan sekolah menengah atas. 

Matanya tertutup, bibirnya ia gigit, tangannya masih melilitkan perut. Dawan merasa tak berdaya menghadapi rasa sakit. Kepalanya pusing-pusing, badan terasa pegal-pegal, dan rasa lemas menggerogoti seluruh tubuhnya. Ia menanti azan subuh di masjid yang belum juga bunyi, baginya azan subuh semacam lonceng hidup karena pagi akan tiba dan cahaya harapan tertatap. Walau sekadar untuk mendengar suara orang-orang yang mondar-mandir di depan rumahnya. 

Ia melihat jam di handphone, tertulis angka 03.25, “Ahh, masih lama,” keluhnya yang tak berbunyi.  Wajah ibunya terbayang dalam gulita yang sepi, ia ingat masa kecil yang dimanja walau selalu meratapi kemiskinan, 

“Mungkin itu bahagia yang sering disebut orang-orang,” ia coba terjemahkan realitas dalam pikirannya. 

Sebab, di usia yang tergolong dewasa, ia masih sulit memahami arti kebahagiaan, dari kecil hingga kini ia tak pernah mampu memiliki seperti yang dipunyai oleh teman-temannya. Tak punya motor, pakaian saja hanya beberapa lembar dan bisa beli baru butuh waktu tahunan, rokok dibeli perbatang atau numpang kerelaan orang lain, kalau ada uang hasil buruh cukup untuk mendapatkan beras agar bisa kenyang lebih dari sehari.

Wajah yang tampan, kulit sawo, tinggi seratus lima puluh, murah senyum, akrab dengan banyak orang, penyabar, dan badan terlihat kurus, sehingga membuat wanita seusianya mengagumi. Titian, wanita di kampung seberang sangat mengagumi Dawan. Saat duduk di kelas dua SMA, Titian sudah meliriknya, hampir tiap hari di sekolah Dawan menjadi perhatian khusus. Dan, kini Titian masih menyimpan rasa yang sama, walau waktu sudah melompat berkali-kali. Titian sudah menjadi mahasiswa dan sedang berjalan semester lima di salah satu kampus di kotanya. Ketika libur semester, ia sempat bertemu dengan Dawan di pantai gusar, mereka saling bercakap tentang isyarat mata dan debar hati;

“Sakit?” tanya Titian ketika melihat Dawan yang makin kurus.

“Bagaimana kabarmu? Kau makin cantik,” Dawan memujinya, tanpa menjawab pertanyaan Titian.

“Baik. Tak ada yang berubah.”

“Bahagia bisa melihatmu tersenyum. Sebuah tulisan yang kau titip buatku dulu masih kusimpan, kunikmati baris tuturmu yang jujur itu.”

“Benarkah?” Titian tak percaya kalau ungkapan kekaguman di secarik kertas itu masih diingat, tapi tak pernah dibalas.

“Kenyataanya begitu.”

“Lalu?,” Titian penasaran.

“Tak bisa.”

“Ada orang lain?” Titian menelan rasa kecewa.

“Tak ada.”

“Mengapa?”

“Apa yang kau harapkan padaku?”

“Mengertilah yang kutulis dulu. Terima pengakuan yang jujur itu, kemudian bersamalah saling menggenggam kasih yang utuh,” Titian memandikan harapan pada debur ombak yang manja di pantai gusar itu.

“Serumit itukah?” ujar Dawan spontan, ia menatap langit kemudian melihat pohon yang berdamai dengan angin.

“Haaa,” Titan kaget, ia menatap wajah Dawan dengan keheranan. Tak disangkanya hal itu itu dianggap rumit. Baru ia rasakan ada lelaki yang menganggap sulit hanya karena diminta menerima rasa cintanya. “Lelaki macam apa ini?” amarah memanas dalam  hatinya.

“Aku hanya mampu mencintai angin yang sejuk tapi tak nampak. Aku hanya mengagumi matahari dan bulan yang terang tapi tak pernah menyakiti. Aku hanya senang pada laut yang kadang membahayakan tapi tak menakutkan. Aku hanya menyukai malam yang menakutkan tapi tak membunuh. Setelah itu, aku hanya mencintai kematian yang ditakuti tapi abadi,” kata Dawan sambil melemparkan kerikil ke laut. Ia tak menatap wajah Titian saat berbicara.

“Sudahlah. Aku juga hanya meminta pada hati yang punya kelapangan untuk sebuah harapan dan impian. Tak pernah kuharap matahari muncul pada malam atau bulan pada siang, aku juga tak pernah berniat menanam pohon di samudera luas. Tentu, itu semua mustahil terwujud,” Titian kesal, ia tenggelamkan rasa sukanya yang berlebihan itu.

“Tak ada masalah,” jawab Dawan tanpa peduli.

Titian bergegas, ia lebih dulu tinggalkan Dawan di pantai gusar itu, ia sangat sedih mendengar jawaban itu. Ia menyimpan rasa cinta pada Dawan sudah tiga tahun dan tak ada sedikit pun bergeser, tak peduli kalau Dawan lelaki yang miskin dan tak jelas orang tuanya, tak pernah ia pikirkan kalau lelaki itu hidupnya melarat seperti gelandangan. Ia terlanjur mencintainya dalam waktu yang lama sebagai tonggak ujian kesetiaan yang sunyi, namun tak dipahami oleh Dawan.

Lalu, benarkah Dawan tak mencintai Titian? Dalam detak jantung dan getar hati yang tulus, Dawan sangat menyukai wanita itu. Disaksikan oleh bulan saat di malam yang retak, ia selalu membayangkan beberapa wanita, baik yang disukainya secara sembunyi-sembunyi maupun wanita yang pernah mengutarakan perasaanya secara langsung. Ia pun ingin hidup seperti orang lain, mencintai dan dicintai, tapi setiap keinginan itu akan dituntaskan selalu saja hatinya menolak.

“Tidak bisa,” kata yang sering muncul di hatinya. Ia merasa tak seorang pun yang benar-benar tulus, baginya sudah cukup hinaan orang-orang di sekitarnya. Ia tak ingin seseorang yang dicintainya suatu saat akan menyakiti atau membuatnya kecewa baik melalui kata-kata maupun sikap, maka dari awal ia membantai perasaanya sendiri. Ia kubur dalam-dalam tentang perasaan mencintai itu, dikeringkan hatinya untuk menerima basuhan kasih sayang dari seorang wanita. Setiap ulur tangan kasih sayang seorang wanita dihempaskan begitu saja, sendiri menyiksa diri lebih mulia dari pada membiarkan orang lain mencabik perasaannya, ia lebih rela melukai diri sendiri. Membunuh perasaanya sendiri.

Ketika malam diacuhkan oleh bulan dan bintang, Dawan duduk bersandar di teras rumahnya, ia menonton orang yang berjalan dan anak-anak yang masih bermain. Beberapa nama wanita yang ia kenal terucap dalam hatinya, “Lilis, Mami, Ratu, Misnah, Maya, ….,” ia berhenti saat mendengar ucapan, “Bajingan,” suara itu muncul mendadak dari rumah tetangganya.

“Bajingan. Binatang,” kata-kata itu semakin keras.

“Diam,” suara lelaki membentak.

“Aku sudah cukup sabar tapi kau tak peduli. Aku minta diceraikan saja dari pada tanggung sakit hati dan dibohongi terus,” wanita itu semakin memuntahkan amarahnya.

“Dasar wanita yang tak punya rasa syukur.”

Suara teriakan semakin kencang, suara barang-barang yang  dibanting bertambah ramai. Wanita itu teriak berkali-kali sambil menangis, semenit kemudian keluarlah lelaki yang bertubuh kekar berjalan menjauh dari rumahnya.”Bajingan kau,” wanita itu sempat mengantar dengan kata makian. Dawan merasa ngeri mendengar dan melihat peristiwa itu, sesuatu yang sulit ia pahami dan tak pernah diharapnya. Seketika hatinya sesak, ia bayangkan kepedihan dan kesedihan ibunya yang dicampakan seorang lelaki, hinggi kini belum ia melihat raut wajahnya.

Ia ingat Ririn, wanita cantik berkerudung. Lulusan pondok setahun setelah ia taman SMA, Ririn menyukainya karena cara hidupnya yang sederhana. Bagi Ririn sesuatu yang istimewa, lelaki yang serba kekurangan tapi tetap bisa jujur. Selama ini yang sering nakal dan mencuri di kampung dari kalangan orang yang hidupnya berkecukupan. Sangat beda dengan Dawan, “Tapi sayang, dia sulit ditebak,” gumam Ririn mengingat sisa percakapan dengan Dawan.

Pada waktu yang gegabah, Dawan berkata;

“Aku lebih takut dicintai dari pada mencintai, sebab mencintai itu upaya memberi tapi dicintai harus ada kesiapan menerima. Menerima tak cukup menampung pemberian melainkan ia harus bertanggungjawab dan merawatnya. Aku lelaki yang hidup tanpa kekuatan untuk dicintai.”

“Aku ingin kau pahami,” pinta Ririn.

“Aku sudah tak punya hati untuk mengerti. Telah kucabut dan dibiarkan mengelana seperti binatang buas, biarlah akan menemui segala keganasan di hutan, di gurun, di lembah, dan mungkin ia kembali tak seperti hatiku sebelumnya. Hati itu bisa berubah wujud, jadi binatang, jadi batu, jadi pohon kering. Jadi bagaimana aku harus memahami?” tuturnya.

“Tak kuminta apa-apa,” lirih Ririn.

“Kau mencintaiku sama halnya meminta.”

“Kotorkah rasa sukaku padamu?”

“Tidak. Tapi jangan kau letakan permata pada lumpur karena akan hilang keindahanya.”

“Sungguh beku hatimu,” hati Ririn meronta.

Dawan diam, ia langsung bergegas menjauh. Hatinya sudah ditikam puluhan kali oleh tangan dan belati yang ia asah sendiri. Wanita yang ia cintai dan mereka yang mencintanya selalu dirindunya, jika sunyi ia pun ingin ada wanita yang menemani menelerai semua kesepian. Setiap keinginan akan tetap berjalan jadi keinginan, sudah ia pasung hasrat ber-keinginan itu supaya tak sampai pada seseorang.

Azan subuh telah berlalu, pagi menerobos resah hiruk-pikuk anak manusia, Dawan di rumah sakit. Jeritan kesakitan tadi malam terdengar oleh tetangganya, setelah subuh ia dibawa ke rumah sakit dalam keadaan lemas. Hampir dua jam berbaring di rumah-sakit, belum juga ada dokter yang memeriksanya. Malah para medis banyak tanya tentang kelengkapan adminitrasi yang ada kaitan identitasnya, wajah para medis itu tak menunjukan rasa kemanusiaan. Ia menjerit kesakitan, matanya sudah tertutup dari tadi, kadang ia menggigil.

"kalau tak ada kartu apa-apa, kami tak bisa melayaninya." Seorang perawat memberi tahu kepada orang yang membawa Dawan

"Tolong bantu, Bu!”

 “Apa tak mendengar ucapan tadi, Pak!” perawat pertegas perintahnya.

 “Jadi, saya harus apa, Bu?” 

“Bawa pulang.”

 Lelaki yang mengantar Dawan ke rumah-sakit, melihat wajahnya yang memelas, keringat asin bercucuran di mukanya, air matanya terus menetes. Dawan belum menyadari kalau ia sudah tak di rumahnya lagi, ia sudah pasrah sebelum kehidupanya menyerahkan pada maut. Jangankan kartu sehat atau sejenisnya sebagai tanda ia pernah hidup di negeri ini, tak ia miliki, nama seorang lelaki yang menitip kepalanya melalui rahim wanita yang hilang, itu belum juga ia tau. Ia hanyalah seonggak daging yang berjalan, mungkin wajar mata pendataan kepedulian luput dan lupa memasukan namanya. 

“Ya Allah,” suara yang patah terdengar dari perihnya. Dawan temui hatinya yang liar itu, kini sudah kembali dari kelana yang lama. Segala rimba gelisah dan derita berdarah telah tunai. 

 “Armiati,” Dawan memanggil nama perempuan yang meninggalkannya saat usia lima tahun. Ia hanya membuka mata sejenak, entah melihat apa. Gelap menyelimutinya.***
.................
La Ndolo Conary, lahir dan menetap di Bima. Buku puisinya Tuhan Tergadai telah beredar luas. Ia menyukai sastra dan petualang





Malam yang Hilang di Sebuah Kota

Ini hari yang terasa lebih panjang dari biasanya. Ia bosan mondar mandir dari kamar ke ruang tamu, ke dapur, ke ruang tamu, ke kamar. Begitu saja hingga sore ini.


Sedari pagi ia telah siap keluar rumah, tapi hujan datang dengan amat manja, berhenti saat siang hari. Jas hujan yang bisa menghuni sadel motornya sedang dipinjam seseorang. Meminjamkan pada yang lebih membutuhkan tentu jauh lebih baik. Dan ia dengan tabah menunggu hujan reda.


Saat hujan reda, acara yang akan dikunjunginya telah bubar. Ia batal keluar rumah. Tinggal di rumah seharian bukanlah hal baru baginya. Apalagi saat laptopnya belum rusak, ia lebih suka menghabiskan waktunya di rumah, akan keluar ke tempat teman atau warkop saat usai salat isya.


Dua minggu  ini, laptop itu rusak. Tak ada yang bisa dilakukan selain mencari laptop baru, tapi laptop rusak berarti laporan rekeningnya juga akan malas berbunyi (ini terlalu dramatis, kamu boleh tidak mempercayainya)


Rasa bosan itu sangat berbahaya, ia bisa sampai di kepala lalu membuatnya pening. Rasa bosan bisa pula tiba dengan cepat ke hati lalu membuatnya galau dan terasa hampa. Bosan adalah penyakit yang berbahaya. Ia sedang merasakan itu.


Namun, seberbahaya apa pun rasa bosan, bagi orang yang kreatif ia bisa menjadikan kebosanan itu jembatan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Sesuatu yang bisa mengalihkan pikirannya dari rasa bosan itu.


Ia sedang berpikir bagaimana keluar dari rasa bosan ini. Di kepalanya sedang tumbuh ide untuk melakukan hal yang pernah di sukainya dulu, berkeliling kota saat malam telah jatuh pada titik larutnya yang romantis.


Meski cukup sulit sekarang ini menemukan kenyamaman malam yang benar-benar sepi di sebuah kota, malam seakan telah kehilangan identitasnya, sakral, menakutkan, penuh mistik, sepi, gelap. Saat ini malam yang seperti itu telah kehilangan rohnya.


Ini hari yang terasa sangat panjang. Untuk pertama kalinya ia merasakannya. Media sosial tak mampu jadi hiburan, maka nanti malam saat sedang larut ia akan keluar malam, berkeliling kota mengendarai motornya dengan sangat pelan.


Ia tak perlu takut dengan malam, malam telah kehilangan rohnya sebagai malam, yang ditakutkan hanyalah begal dan genk motor yang bisa beraksi kapan saja, tak peduli malam atau siang. Barangkali roh malam yang gelap dan menakutkan telah pindah hati para begal dan genk motor itu...


Jika kau menemukan seseorang nanti malam, saat malam sedang larut sedang mengendarai motor dengan sangat pelan, barangkali itu adalah dirinya


Rumah kekasih, 13 Des 2018


Sekalipun



Puisi; Irhyl R Makkatutu

sejauh mana kau akan berjalan
dan puisi akan tetap mengikutimu
atau lagu kesukaanmu
yang kau nyanyikan di kamar mandi atau dalam hati

puisi dan dirimu, es buah di meja makan
sabun pencuci piring di dapur
tak ada tawar menawar
es buah harus bercampur dengan beberapa buah
dengan irisan kecil
dan sabun harus pula disirami air

di jalan dekat lampu merah
kau akan ingat
bahwa kelak kita akan singgah
memesan es buah
peluhmu membulir
siang itu, yang akan datang
kau akan menikmati pula mataku
dan aku menikmati rimbun alismu
pergilah sejauh bisamu

dan puisi akan terus mengikutimu
akan kau baca saat terbaring sendiri
atau saat merasa asing di tengah kota
puisi-puisi yang kuutus untukmu
tak pernah pulang
tak pernah
ia terus saja mengikutimu
temanimu, menemanimu
pada saat paling tak kau inginkan sekalipun

Makassar-Gowa, 7-12 Nop 2018

Jalan yang Selalu Saja Sama; Kamu

Puisi; Irhyl R Makkatutu

kita tiba pada banyak hal. pada teka teki itu. ruang serasa sempit dan jalan semakin panjang tergesa.

benang kusut bertumpuk di kepala. panci satu persatu bocor di atas kompor. semakin kelam malam, semakin gerah pagi.

kau bisa jadi jarum menjahit semua luka di sekujur waktu. kau bisa jadi gula dituang pada gelas teh. membikin pagi punya cerita.

pada aku, jalan berubah puluhan rambu lalu lintas untuk sampai padamu. itu semakin jauh, semakin rumit.

sedang kunikmati teh, pada gelas yang sejak kemarin dicuci. gelas itu tersimpan di rak piring yang belum dibersihkan sejak lima bulan lalu. debu telah membentuk peta perjalanan.

aku bayangkan (aku suka membayangkan semua perihal adalah kamu). air dalam gelas itu adalah peluhku sendiri yang berjalan sendiri pada pencarian; tentangmu.

dan kau semakin jauh saja, semakin sulit ditemukan dan semakin banyak air keluar dari poriku. tubuhku berubah sumur di kemarau.

jalan-jalanw semakin panjang, piring-piring di dapur semakin menumpuk hendak di cuci, sumur dalam tubuhku perlahan kering, perlahan susut dan perlahan semua menjadi kamu

aahh, malam-malam selalu sampai pada pagi, seperti pagi ini, selalu saja sama, di mana aku mencintaimu, menempuh jalan panjang yang rumit..

Rumah kekasih, 2 November 2018






Dan Cinta Memang Selalu Sederhana

aku sedang menunggu jemputan dengan tiga karung kecil berisi cengkeh. jalan kaki sambil memikul jadi hal mahal karena malas, juga korban iklan.

suara motor telah bermukim di kepala orang. mengurangi capek dan membuncitkan perut. obat pegal diperankan para wanita berdandan,
dan pria berdasi: cantik dan gagah
jalan kaki dari kebun pulang ke rumah adalah kemunduran. katanya

jalan-jalan mulai mulus, tapi pikiran banyak berlubang. serupa rindu yang terus menemukan lubang lolos dari logika. seolah semua benar, seolah saja. tak benar-benar.

aku masih menunggu jemputan di pinggir jalan. duduk di atas karung, mencari orang jalan kaki sambil memikul hasil panen. tak ada. waktu benar-benar telah berlari kencang, hingga ke kamar mandi dan dapur.

bagaimana menjelaskan perihal cinta yang sederhana di kampung ini kepadamu. saat kelak kau benar-benar tiba sebagai seorang pengunjung atau bagian dari kampung ini.

tapi, bukankah cinta selalu sederhana, yang buatnya rumit dan runyam adalah keinginan dan khayalan.

jadi, aku tak perlu menjelaskan apa-apa. kau akan tiba dengan cinta di hatimu dan cinta menyambutmu. seperti aku akan menyambut jemputan yang akan membawaku pulang ke rumah, membawa hasil panen...

Kindang, 21 Oktober 2018


Sebelum Kita Makan

subuh itu, aku cari kantuk di instagram. bacai caption fotomu yang bara lara.


ingin kutanyakan
apa kau ingat pertemuan pertama kita?


ingin kukatakan
"pulang adalah kata kerja bagi perantau"


tapi...


jaringanku eror
komentar itu tak pernah terkirim
aku menyimpannya di kepala


banyak komentar di kepalaku
harusnya kutulis di foto unggahanmu


tapi...


kuotaku tak kuat
kelak kau akan temukan di kepalaku
saat mengusap rambutku di hari tua


di mana kau butuh bicara secara nyata
bukan berbicara di instagram


aku tidur saat subuh
bangun lebih cepat
ingin ajakmu berdoa


...bumi kian tua, kau tahu?
tempat berdoa bukan di atas sajadah
tempat itu pindah ke instagram


jika kelak kau pulang
kita akan menyimpan hp
sebelum menuju meja makan...


Rumah kekasih, 8 Oktober 2018


Pada Banyak Hal, Aku Ingin

kantuk tiba, lelah di matamu akar bambu. menahan longsoran putus asa.
kalimat panjang berderet di kepala. kertas terletak retak di lantai kos. napas nyaris keropos.


masa depan, pertanyaan panjang yang berakhir dengan pertanyaan baru. ada kamu di sana, bertarung melawan segala angin. tubuhmu pohon pinus di ketinggian melawan gigil.


kau tangguh pada semua cerita, dan keraguan yang di sematkan musim pada pohon di tubuhmu. kau akan berjalan ke gunung, ke pantai, ke halaman sebuah rumah.


malam terus saja liar. memanah kemalasan, kau masih harus terjaga, aku menjaga pada doadoa. tak ada jarak dalam doa cinta


kerap aku ingin jadi film paling menarik untukmu. tiap adegan betah di ingatan atau namaku adalah lagu yang kau nyanyikan jelang tidur.


aku juga ingin jadi puisi atau teori dalam makalahmu. kau paparkan di depan kelas dengan cemas sedikit malumalu, seperti kelak ketika kau bertemu ibu.


kantuk menjenguk matamu. masa depan membentang jauh di pikiran. kau akar bambu, kau pohon pinus itu, angin hanya datang membelai, tak merobohkan.


kerap aku ingin menjadi banyak hal untukmu, tapi kemudian luruh. tanggal satu demi satu 3di mana aku ingin menjadi bukan siapa siapa untukmu selain cinta...


Alauddin-rumah kekasih, 30 Agustus 2018



Malam puncak PKMM, Benteng Sombaopu, Gowa