Kembali ke Ara(h)

ada detak kembali tembusi jarak

bacai tiap jengkal langkahan kaki

kian nyata pula

ruangruang mulai berdebu


ada pepohonan tumbuh di tubuh waktu

teduhkan gerah dari ara(h) napas sendiri

ke mana membaring tubuh selain pada peluk


ada detak, berjalan perlahan ke ara(h) eliksir

di mana pepohonan tumbuh di tubuh waktu

di mana kamu memuja doa


rumahkekasih, 20 Mei 2019


Jarak Paling Dekat dari Rindu



 Ilustrasi Jarak/foto YourTango

dua orang membentang jarak, antara jari telunjuk dan ibu jari.
menanam penantian di tengahnya,
seperti pengembara meminta jeda menarik napas
meyakinkan dirinya telah berjalan jauh

di tepi sebuah jurang, ketakutan tertanam
dua jalan lain jadi pilihan, berjalan atau mundur.
keduanya menawarkan akhir
serupa kunang kunang kelelahan, meminta segera pagi

atau matahari yang mulai gatal menjenguk jendela sepasang kekasih lewat cahaya.
atau rindu yang ngotot melipat jarak agar lebih dekat dari desah napas, melebur diri dalam pelukan di musim yang lupa berganti.

atau aku dalam satu hentak, rindu bergerak laju menabrakkan dirinya di mataku.
 lalu yang ada hanya bayangmu, tak ada antara.
 lebih dekat dari kaki depan dan belakang ketika berjalan sepelan mungkin.

dua orang yang bentangkan jarak itu; aku dan kamu.
dalam satu sempat, pernah ingin saling mengunjungi dalam segelas kopi. mencukupkan kenangan, katamu.

aku ingin bertanya, masihkah kita di mimpi yang sama?
tentang kain sobek yang akan direkatkan jadi baju pengantin di tanggal merah bulan nanti?

aku rasa jarak ini bukan lagi antara jari telunjuk dan ibu jari
tapi antara keraguan dan keyakinan.

Rumah kekasih, 6 Mei 2016

Penuli: Irhyl R Makkatutu

Buku Pinjaman yang Membuat Jatuh Cinta


                Ayu Wahida bersama buku bacaannya

Kau duduk di belakang meja kasir yang terletak di sebelah kiri jalan keluar. Sesekali pandangan kau larikan ke pengunjung warkop yang kau jaga. Tak banyak yang memperhatikan yang kau lakukan, di antara banyak pengunjung, barangkali hanya dirinya yang tertarik memperhatikan yang kau lakukan itu. Ia bisa pahami kenapa demikian, sebab yang kau lakukan adalah membaca buku. Sesuatu yang dianggap kurang menarik.

Tapi, baginya, yang telah berbulan-bulan mencari perempuan yang membaca buku di tempat umum namun gagal, merasa saat itu pintu  ide menulis tentang buku dan perempuan terbuka. Untung pula saat itu ia duduk tak jauh dari tempat dudukmu. Ia leluasa menanyaimu. Membuatmu menutup buku yang ada di tanganmu.

“Saya suka membaca sejak kelas satu SMA,” katamu sambil mengangkat buku yang kau baca. SMA yang kau maksud tentu saja Sekolah Menengah Atas.

Tahun 2017 lalu, kau tamat dari SMAN 3 Bireuen, Aceh Utara, di tahun yang sama pula kau sampai di tanah Gowa mengikuti jejak ayahmu. Sementara ibumu dan satu orang saudaramu masih setia di Aceh. 

“Pertama saya membaca buku, selain buku pelajaran adalah buku pinjaman,” jelasmu sambil tersenyum. Buku yang kau pinjam itu telah kau lupa judulnya.  Buku yang telah membuatmu jatuh cinta pada buku itu sendiri. Barangkali karena suka membaca itulah sehingga di kelasmu, kau selalu masuk 10 besar peringkat terbaik.

Tahun 1998 lalu kau lahir ke dunia ini, tepat saat itu tanggal 20 April. Orang tuamu memberi nama Ayu Wahida. Kau lahir sebagai anak ketiga dari lima bersaudara, lalu alur takdir membawamu ke Gowa, alur takdir pula mempertemukanmu dengan buku Boy Candra yang sedang kau baca.

Saat banyak orang lebih senang bermain gadget daripada membaca buku. Kau seakan membalikkan itu, tapi bisa dimaklumi jika kesempatan membaca buku bagimu sangat kurang, sebab harus melayani pembeli di Warkop yang kamu jagai.

“Buku fisik selalu lebih menarik daripada e-book, karenanya saya lebih suka membaca buku fisik,” lanjutmu. Buku fisik bagimu adalah teman yang selalu setia menemani saat pulang sekolah dulu di Aceh Utara dan hingga kini saat kau menjagai warkopmu bersama saudara-saudaramu, ayah, dan juga pamanmu.

Membaca buku fisik di zaman android sekarang ini memang perkara tidak mudah. Orang lebih suka main game atau membuat status di media sosial. Banyak pula yang memanfaatkan media sosialnya menjadi media untuk menghujat dan menebar kebencian.

“Membaca buku sangat penting, karena bisa menambah wawasan kita,” katamu lagi.

Percakapan denganmu harus berakhir malam itu, Minggu, 16 Desember 2018.  Selain karena kamu ingin melanjutkan bacaanmu. Ia merasa hal yang dibutuhkan darimu sudah cukup untuk memulai tulisannya mengenai buku dan perempuan. Kau menjadi yang pertama yang ditulisnya pada mimpi yang ia namai “proyek kecil” itu

Ia harus akui, tak mudah menemukan perempuan yang membaca buku di tempat umum, buku yang bukan buku pelajaran, diktat kuliah dan tempat yang bukan perpustakaan, kampus atau sekolah..

Kopi Aceh, 19 Januari 2019

Penulis: Irhyl R Makkatutu