Sekalipun

sejauh mana kau akan berjalan
dan puisi akan tetap mengikutimu
atau lagu kesukaanmu
yang kau nyanyikan di kamar mandi atau dalam hati


puisi dan dirimu, es buah di meja makan
sabun pencuci piring di dapur
tak ada tawar menawar
es buah harus bercampur dengan beberapa buah
dengan irisan kecil
dan sabun harus pula disi1rami air

di jalan dekat lampu merah
kau akan ingat
bahwa kelak kita akan singgah
memesan es buah
peluhmu membulir
siang itu, yang akan datang

kau akan menikmati pula mataku
dan aku menikmati rimbun alismu

pergilah sejauh bisamu
dan puisi akan terus mengikutimu
akan kau baca saat terbaring sendiri
atau saat merasa asing di tengah kota

puisi-puisi yang kuutus untukmu
tak pernah pulang
tak pernah
ia terus saja mengikutimu
temanimu, menemanimu
pada saat paling tak kau inginkan sekalipun

Makassar-Gowa, 7-12 Nop 2018

Jalan yang Selalu Saja Sama; Kamu

kita tiba pada banyak hal. pada teka teki itu. ruang serasa sempit dan jalan semakin panjang tergesa.


benang kusut bertumpuk di kepala. panci satu persatu bocor di atas kompor. semakin kelam malam, semakin gerah pagi.


kau bisa jadi jarum menjahit semua luka di sekujur waktu. kau bisa jadi gula dituang pada gelas teh. membikin pagi punya cerita.


pada aku, jalan berubah puluhan rambu lalu lintas untuk sampai padamu. itu semakin jauh, semakin rumit.


sedang kunikmati teh, pada gelas yang sejak kemarin dicuci. gelas itu tersimpan di rak piring yang belum dibersihkan sejak lima bulan lalu. debu telah membentuk peta perjalanan.


aku bayangkan (aku suka membayangkan semua perihal adalah kamu). air dalam gelas itu adalah peluhku sendiri yang berjalan sendiri pada pencarian; tentangmu.


dan kau semakin jauh saja, semakin sulit ditemukan dan semakin banyak air keluar dari poriku. tubuhku berubah sumur di kemarau.


jalan-jalanw semakin panjang, piring-piring di dapur semakin menumpuk hendak di cuci, sumur dalam tubuhku perlahan kering, perlahan susut dan perlahan semua menjadi kamu


aahh, malam-malam selalu sampai pada pagi, seperti pagi ini, selalu saja sama, di mana aku mencintaimu, menempuh jalan panjang yang rumit..


Rumah kekasih, 2 November 2018





Dan Cinta Memang Selalu Sederhana

aku sedang menunggu jemputan dengan tiga karung kecil berisi cengkeh. jalan kaki sambil memikul jadi hal mahal karena malas, juga korban iklan.

suara motor telah bermukim di kepala orang. mengurangi capek dan membuncitkan perut. obat pegal diperankan para wanita berdandan,
dan pria berdasi: cantik dan gagah
jalan kaki dari kebun pulang ke rumah adalah kemunduran. katanya

jalan-jalan mulai mulus, tapi pikiran banyak berlubang. serupa rindu yang terus menemukan lubang lolos dari logika. seolah semua benar, seolah saja. tak benar-benar.

aku masih menunggu jemputan di pinggir jalan. duduk di atas karung, mencari orang jalan kaki sambil memikul hasil panen. tak ada. waktu benar-benar telah berlari kencang, hingga ke kamar mandi dan dapur.

bagaimana menjelaskan perihal cinta yang sederhana di kampung ini kepadamu. saat kelak kau benar-benar tiba sebagai seorang pengunjung atau bagian dari kampung ini.

tapi, bukankah cinta selalu sederhana, yang buatnya rumit dan runyam adalah keinginan dan khayalan.

jadi, aku tak perlu menjelaskan apa-apa. kau akan tiba dengan cinta di hatimu dan cinta menyambutmu. seperti aku akan menyambut jemputan yang akan membawaku pulang ke rumah, membawa hasil panen...

Kindang, 21 Oktober 2018


Sebelum Kita Makan

subuh itu, aku cari kantuk di instagram. bacai caption fotomu yang bara lara.


ingin kutanyakan
apa kau ingat pertemuan pertama kita?


ingin kukatakan
"pulang adalah kata kerja bagi perantau"


tapi...


jaringanku eror
komentar itu tak pernah terkirim
aku menyimpannya di kepala


banyak komentar di kepalaku
harusnya kutulis di foto unggahanmu


tapi...


kuotaku tak kuat
kelak kau akan temukan di kepalaku
saat mengusap rambutku di hari tua


di mana kau butuh bicara secara nyata
bukan berbicara di instagram


aku tidur saat subuh
bangun lebih cepat
ingin ajakmu berdoa


...bumi kian tua, kau tahu?
tempat berdoa bukan di atas sajadah
tempat itu pindah ke instagram


jika kelak kau pulang
kita akan menyimpan hp
sebelum menuju meja makan...


Rumah kekasih, 8 Oktober 2018


Pada Banyak Hal, Aku Ingin

kantuk tiba, lelah di matamu akar bambu. menahan longsoran putus asa.
kalimat panjang berderet di kepala. kertas terletak retak di lantai kos. napas nyaris keropos.


masa depan, pertanyaan panjang yang berakhir dengan pertanyaan baru. ada kamu di sana, bertarung melawan segala angin. tubuhmu pohon pinus di ketinggian melawan gigil.


kau tangguh pada semua cerita, dan keraguan yang di sematkan musim pada pohon di tubuhmu. kau akan berjalan ke gunung, ke pantai, ke halaman sebuah rumah.


malam terus saja liar. memanah kemalasan, kau masih harus terjaga, aku menjaga pada doadoa. tak ada jarak dalam doa cinta


kerap aku ingin jadi film paling menarik untukmu. tiap adegan betah di ingatan atau namaku adalah lagu yang kau nyanyikan jelang tidur.


aku juga ingin jadi puisi atau teori dalam makalahmu. kau paparkan di depan kelas dengan cemas sedikit malumalu, seperti kelak ketika kau bertemu ibu.


kantuk menjenguk matamu. masa depan membentang jauh di pikiran. kau akar bambu, kau pohon pinus itu, angin hanya datang membelai, tak merobohkan.


kerap aku ingin menjadi banyak hal untukmu, tapi kemudian luruh. tanggal satu demi satu 3di mana aku ingin menjadi bukan siapa siapa untukmu selain cinta...


Alauddin-rumah kekasih, 30 Agustus 2018



Malam puncak PKMM, Benteng Sombaopu, Gowa

Vhee, Perempuan yang Menunggu di Perempatan Jalan

Kamu duduk di aspal yang dialasi seadanya. Menekuk lutut agar kakimu tidak berselonjor yang bisa mengundang protes karena dianggap tidak sopan. Sesekali kamu tersenyum memperlihatkan kawat gigimu.

     
Tatapanmu lebih banyak memperhatikan orang yang lalu lalang di sekitarmu yang berjubel. Hari itu hari Ahad, 16 September 2018. Kamu bersama tiga orang perempuan datang ke Jl. Masjid Raya, Gowa menikmati liburan sekaligus menambah uang saku. 


"Sudah tiga minggu saya jualan di sini," akumu. Tiga minggu artinya sudah tiga kali kamu datang (sekali dalam sepekan) ke jalan yang menghubungkan Jl. Tumanurung Raya, jl Masjid Raya dan Jl. H. Agus Salim. Kamu duduk tepat di tengah pangkana 'perempatan' jalan itu. Melangitkan harapan. Menunggu uang mengalir ke saku.


"Boleh tahu namamu," tanyanya. Kamu menatapnya, barangkali menganggap lelaki yang jongkok di depanmu itu sambil memegang HP terlalu lancang menanyakan namamu.


"Nama asli atau nama panggilan," tawarmu bernada lembut.


"Nama panggilan saja," jawabnya sambil melihat matamu yang sedang fokus melihat sepatu dan sandal di depanmu. Ada seorang ibu sedang menanyakan harganya. Kamu menjawab pertanyaan ibu itu dengan baik, meski gagal memikatnya membeli barang yang kamu jual. Kamu tersenyum.


"Namamu?"

 tanyanya lagi mengalihkan perhatianmu. Kamu menatapnya 


"Vi," ucapmu. "V, H, E, E," ejamu pada nama sendiri. 


Ia mengucapkan terima kasih karena kamu membiarkannya mengetahui nama dan nomor WA-mu. Mungkin kamu melakukannya karena ia berjanji akan menulis tentangmu, tentang aktivitasmu setiap hari Ahad pagi berjualan cakar (pakian bekas) tanpa rasa malu. Itu mengagumkan.


"Kami bersepupu," ujarmu sambil melihati tiga orang perempuan yang tak jauh dari tempat dudukmu. Ketiganya sedang sibuk menawarkan cakar yang ditumpuk seenaknya saja.


 Ia berkunjung ke jalan depan kantor Bupati Gowa itu tanpa maksud apa-apa selain jalan-jalan, biasanya ia bertemu teman atau kerabatnya yang juga datang membuang kantuk paginya ke jalan itu. Namun, begitu melihat banyak anak-anak muda yang berjualan cakar, ia tertarik untuk menuliskannya. Niat itu pula yang menyeretnya mengenalmu.


Kamu bercerita banyak mengenai jualanmu. Sepatu, sandal, dan pakian bekas adalah koleksimu dan koleksi sepupumu yang tidak terpakai lagi karena berganti dengan yang baru, atau tidak lagi muat di tubuhmu.


 "Biasanya dapat 200-300 ribu," akumu. Ia mencoba membagi 4 angka itu. Hasilnya lumayan untuk untuk menopang hidup di rantau sebagai mahasiswa.


Ia lupa bertanya apakah sepupu-sepupumu tersebut juga berasal dari Belopa-Luwu, tempat turunnya manusia pertama di dunia tengah ini dalam kisah La Galigo yang kini menjadi sastra terpanjang dunia.


Idemu menjual cakar sungguh menarik, sebab tak semua orang bisa melakukannya karena rasa gengsi dan minder. Apalagi jika ia perempuan dan berstatus mahasiswa magister (S2) sepertimu.


"Saya kuliah S2 di Universitas Islam Negeri. S1 saya di Unhas, tapi karena jurusanku untuk S2 tidak ada di sana, jadi saya lanjut di UIN," kisahmu dengan ringan.


Ia jadi ingat beberapa tahun lalu, barangkali dikisaran tahun 2015 pemerintah melarang peredaran cakar karena diduga mengandung penyakit. Banyak cakar disita dan dimusnahkan. Itu jadi kisah pilu bagi pedagang dan penikmat cakar.


Larangan itu perlahan pudar seperti kasus korupsi yang dipudarkan. Di banyak tempat cakar tetap tersedia dan orang menjualnya terang-terangan seperti yang kamu lakukan. Meski saat itu yang dilarang adalah cakar dari luar negeri, tapi petugas di negara ini kerap menyapuratakan saja, tak peduli itu dari luar atau dari dalam negeri sendiri, tak peduli apa koleksi pribadi yang dijual atau bukan.


                        ****


Kini ia sedang berpikir bagaimana menuliskan kisahmu. Menunaikan janjinya agar orang tahu ada seorang mahasiswa S2 yang rela duduk di tengah jalan, di atas aspal dengan alas seadanya menjagai barang jualannya yang berupa baju, celana, sepatu, dan sandal bekas tanpa rasa minder.


........sesekali ia ingin menghubungimu untuk bertanya banyak hal mengenai aktivitasmu setiap hari Ahad pagi di perempatan Jl. Masjid Raya, Gowa tapi ia ragu, maka kisahmu bisa saja hanya ia dan kamu yang tahu, Vhee...


Rumah kekasih, 22 Sept 2018


Suasana di depan kantor Bupati Gowa setiap hari Ahad pagi

Cakar di Musim Cakar-cakaran

Sesekali tangannya dimasukkan ke toples mengambil kacang mekar. Penganan itu terasa pas pagi ini. Apalagi ada segelas kopi jadi pasangannya, dan buku Layla Majnun.


      Teras rumah kekasih pagi ini terasa nyaman sebab lebih bersih dari sebelum-sebelumnya. Riuh kendaraan di depan rumah mengusir banyak hal, termasuk ide yang ingin ditulisnya perihal yang kemarin pagi di depan kantor Bupati Gowa.


      Kemarin pagi, di hari Ahad itu seperti biasa. Di depan kantor Bupati Gowa akan disesaki orang yang menikmati liburannya. Jalan itu sengaja ditutup dari kendaraan roda dua dan empat agar warga bisa menikmatinya dengan jalan kaki yang semakin jarang dilakukan.


       Seperti ciri khas Indonesia pada umumnya di mana ada keramaian di situ ada pedagang. Seperti itu pula jalan di depan kantor Bupati Gowa itu yang sengaja di tutup dari raungan kendaraan setiap hari Ahad mulai pukul 06.00-10.00 pagi. Jika kamu tak punya sibuk, datanglah merayakan hari liburmu di sana.


       Segala jenis barang bisa kamu dapatkan di sana, mulai dari obat kuat hingga pakian bekas yang  lebih dikenalnya dengan nama cakar. Tepat di depan jalan masuk halaman kantor bupati. Penjual cakar tersebar di beberapa titik. Beberpa dari penjual cakar itu berkelompok dan masih muda.


       Mario misalnya, masih berstatus siswa di salah satu sekolah kejuruan di Makassar rela "ke daerah" bersama teman-temannya berjualan cakar. Mereka datang saat pagi belum benar-benar tiba demi mendapatkan tempat meletakkan dagangannya


       "Panggalangan dana untuk acara kesenian. Kalau mengharapkan dana dari sekolah agak susah," kata Mario dipertegas anggukan teman-temannya.


       Pakian bekas itu adalah koleksi mereka dan donasi dari orang yang peduli pada pada kegiatan yang akan dilaksanakan tersebut. Tak jauh dari kelompok Mario, sekelompok perempuan muda juga melakukan hal yang sama. Mereka juga menggalang dana untuk kegiatannya. Jika Mario dkk masih sekolah. Sekelompok cewek itu berstatus mahasiswa, mereka kuliah UNM.


        Jika sempat kamu boleh berjalan-jalan ke jalan itu, menyaksikan para kaum melenial tidak gengsi menjual cakar demi menunaikan janjinya pada lembaga atau organisasi yang digelutinya, demi melaksanakan program kerjanya.


        Cakar selalu identik dengan orang yang secara ekonomi kurang mapan dan tingkat pendidikan yang rendah, tapi anak-anak muda itu membungkam anggapan tersebut. Mereka rela datang, duduk di aspal beralaskan tikar seadanya dan berteriak memanggil pembeli agar membeli jualannya dengan harga yang sangat murah, rata-rata 5.000-10.000 rupiah dan hasil jualan itu tidak ada masuk ke kantong pribadinya, tapi untuk sebuah tanggung jawab yang bernama program kerja.


      Apakah yang berjualan cakar di jalan depan kantor Bupati Gowa itu hanya untuk penggalangan dana? ternyata tidak (mungkin kamu ketawa karena ia membanta pendapatnya sendiri di paragraf sebelum ini). Ada beberapa kamu milenial itu yang menjual barang bekas untuk menambah uang saku. 


      "Daripada pakian bertumpuk tidak dipakai lebih baik dijual untuk biaya hidup," kata Vhee, perempuan dari Belopa itu. Perihal Vhee, akan ia kisahkan tersendiri (tunggu saja)


     Apa pun alasannya, sebuah langkah maju untuk mengikis budaya gengsi anak muda. Ia dan kamu pasti sering mendengar anggapan miring bahwa pemuda dan pemudi Makassar (Sulsel) memiliki tingkat gengsi  melebihi tingginya gunung Bawakaraeng, mereka malu untuk bekerja atau melakukan hal yang dilakukan oleh orang yang tidak keren (jualan cakar dianggap jualan yang tidak keren)


     Tapi, jika kamu datang ke jalan yang ia maksud, kamu akan mengubah anggapan itu perlahan-lahan (semoga begitu) bahwa para kaum milenial di daerah ini tidak gengsian seperti anggapan kebanyakan orang. Mereka meretasnya dengan cara elegan. Bukan hanya meretas anggapan "buruk" itu, tapi juga kembali memasyarakatkan cakar yang pernah dilarang beredar. Dan tentu saja masyarakat bisa tidak berharap pemberian baju kampanye di musim yang serba cakar-cakaran ini..      

      

Rumah kekasih, 17 Sept 2018


Mereka berjualan cakar dengan riang gembira


Orang-orang yang merayakan liburan

Mabuk itu Menetak Jarak

Perempuan itu menyimpan hapenya di sebuket bunga. Ia melangkah masuk ke dalam gereja. Tangannya menggenggam bunga itu. Ketika ia melangkah masuk, semua mata tertuju padanya. Seorang lelaki yang duduk dikursi undangan menatapnya tanpa kedip. Tatapannya menyimpan pertanyaan.


Di altar seorang lelaki tersenyum bahagia menanti kedatangan perempuan itu. Detik yang mendebarkan segera tiba. Perempuan itu melangkah anggun ke atas altar suci, tempat sumpah setia dalam perkawinan akan diucapkan.


Sepasang kekasih itu melangkah ke depan berhadapan, mereka akan saling menggenggam tangan, perempuan itu menyerahkan buketan bunga pada perempuan lain di atas altar, hape yang tadi disimpan di dalamnya terjatuh. Lelaki itu tampak gelisah. Dan tanpa pikir panjang, ia membatalkan pernikahan itu. Semua undangan kaget, termasuk lelaki yang duduk di kursi undangan itu.


Ia melangkah ingin meninggalkan ruangan pernikahan tersebut, tapi karena langkahnya tergesa ia tersandung dan hampir jatuh. Suara gaduh yang disebabkan lelaki itu sontak membuat orang menoleh, termasuk perempuan itu yang tak kalah kagetnya. Dari bibirnya yang seksi terucap kata


"Father 'ayah'"


Setelah berpisah 25 tahun. Perempuan itu kembali melihat ayahnya. Waktu yang panjang itu, 25 tahun ia tak lupa wajah ayahnya, begitu pun ayahnya yang berharap bisa menyaksikan hari bahagia putri tercintanya yang diberi nama Rachel itu. Diperankan oleh Kristen Bell.


Untuk menghibur putrinya yang asing itu-yang ia tinggalkan sejak usia 5 tahun, Harry yang diperankan Kelsey Grammer membujuk putrinya untuk minum hingga keduanya mabuk berat.


Kebencian Rachel kepada ayahnya redup saat mabuk itu, maka ketika mobil datang menjemput untuk perjalanan bulan madu Rachel dengan Owen, lelaki yang meninggalkannya di altar. Tanpa pikir panjang, bahkan tanpa membawa pakaian Rachel mengajak ayahnya menggantikan Owen di kapal pesiar yang telah terlanjur dibooking itu.


Karena mabuk berat, anak dan ayah itu berlayar bersama di sebuah kapal pesiar. Awalnya memang tak mudah untuk berdamai, apalagi Rachel membenci ayahnya karena merasa diabaikan. Rachel perempuan yang nyaris sial itu, ditinggalkan dua lelaki. Ayahnya saat usia 5 tahun dan kekasihnya, Owen meninggalkannya di altar pernikahan hanya karena ia menelepon sebelum masuk gereja mengucapkan ikrar sebagai suami istri.


Namun setiap kisah memiliki sisi positifnya. Kegagalan pernikahan itu, mabuk berat itu mengantarkan Rachel berdamai dengan ayahnya. Kisah ini bisa kamu temukan dalam film Like Father. Bagaimana kebencian diakhiri dengab mabuk. Namun di balik semua itu,  jarak tak pernah bisa menetak cinta


Rumah Kekasih, 11 Sept 2018


Adegan film Like Father

Jendela Hujan


Hujan mengiris ribang. Menetak sekujur tubuh. Geligis lahirkan cemas.


Di tatapnya hujan lebih lama dari biasanya. Ia sedang mencari celahnya—sia-sia saja, menunggunya reda juga percuma. Sementara malam hampir tiba. Resah biak di wajahnya yang pucat di tetak gigil. Ia singgah bernaung, tapi hanya sekejap saja lalu menerabas kembali hujan.


Tetesan hujan serasa jarum menerpa wajah.  Dan hanya sepersekian menit,  baju dan celana dalamnya kuyup.  Namun, tekad untuk sampai ke rumah lebih gelitar. Bayangan seseorang mengerumuni matanya—bayangan neneknya yang  rentah.  


Pikirannya sedang dirimbuni tanya, bagaimana jika neneknya jatuh dari tempat tidur karena berusaha mengemasi barang-barang agar tak terjamah banjir, atau bagaimana jika buku-bukunya terendam  lalu kisah di dalamnya menghilang. Sungguh ia tak tega jika itu terjadi. Maka, tak ada bernaung lebih lama. Ia harus lacciri ‘cepat’ sampai ke rumah.


Hujan mengganas. Ia  dilibas—remuk.


Mestinya lebih awal ia sampai agar bisa menyaksikan air merasuk lembut ke dalam rumah dan menggenanginya.  Ya, harusnya begitu, tapi perjalanan selalu punya aral yang kerap tak terduga. di perjalanan pulang dari pesta pernikahan  kerabat  jelang malam itu. Hujan tumpah dan ban motornya bocor. Ia mendorong motor cukup jauh sebelum menemukan penambal ban. Gigil meramu derita sedemikian memikat, gigil  tembus ke tulang. Tapi ia tak berhenti.


Aral itu mengandaskan inginnya tiba di rumah lebih cepat. Setelah ban motornya ditambal, ia tak bisa melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Jalan mulai diserang air, macet membuatnya mengelus dada. Tapi ia harus menerabas semua tantangan itu,  tak dihirau  rammusu ‘demam’ yang akan menetak sekujur tubuhnya.  Suara klakson bersahutan sampai ke telinganya mengalahkan suara hujan. Semua orang seperti dirinya,  ingin sampai ke rumahnya dengan cepat.


Hujan merintih. Riciknya gaduh. Ia kuyup. Ia melaju.


Di rumah tua itu ia hanya tinggal berdua dengan neneknya yang   renta. Kedua orangtuanya lupa pulang dari rantau. Ia telah berjanji akan menjaga neneknya melebih apa pun, bahkan melebihi dirinya sendiri.


Ia suka jika hujan, neneknya akan bercerita banyak hal. Ia ingin menyaksikan air masuk ke rumahnya dengan lembut sambil mendengar neneknya  ma’royong. Royong adalah musik entik Makassar yang mengandung nilai moral. Ketika kecil neneknya biasa ma’royong mengantarnya pada tidur. 


Hujan menganga. Perihkan luka. Setubuhi rindu. Ia mencarimu dalam hujan.


“Aku ada dalam hujan.” Tetiba saja sebuah suara merasuki kokleanya. Suara  itu nyaring kalahkan ricik hujan, lalu ia mengingatmu, Miala. Dulu kamu kerap mengajaknya menikmati hujan di malam hari. Katamu, hujan lebih romantis jika malam. Hanya saja ia selalu abai. Dan malam ini ia nikmati tanpamu—penyesalan tanak di matanya.   Ia mencari sisi romantis dalam hujan, juga  mencari kebenaran perkataanmu tentang hujan. Ia juga mencarimu, Miala.


Diakuinya dengan jujur, kamu perempuan yang memaksanya mengerahkan segala cintanya. Tapi, cintanya tak pernah cukup menahanmu bertahan di sisinya. Kamu pergi tanpa jejak sama sekali.  Setelah pergimu, beberapa kali ia ingin jatuh cinta pada perempuan lain, namun selalu gagal.  Napasnya telah tassikko’ ‘terikat’ kepadamu. Ia mencintaimu seperti hujan mencintai riciknya, seperti malam mencintai gelapnya. Dengan mencintaimu, segala kekurangan yang meraja dalam dirinya jadi kesempurnaan.


“Cinta akan menggenapi kita, sayang,” kata-katamu memesrainya dalam hujan.  Ia perlahan paham kenapa kamu menyukai hujan, kenapa kamu acap memintanya menikmatinya bersamamu? Dalam hujan, pelukan dan ciuman lebih menggemaskan, dan segala kenangan mampu dihadirkan  lebih  mendebarkan. Hujan adalah cinta itu sendiri.


Hujan berkisah. Luapkan kenangan. Ia terengah


Malam mulai menua.  Ia masih berjibaku dengan macet dalam hujan. Dicobanya  abaikan bayangan neneknya dan juga bayanganmu, Miala.  Hujan kian deras, tusukan di wajahnya lebih menikam lagi. Ia sedang mencari celahnya.  Sia-sia saja, menunggunya reda juga percuma. Ia terus saja melaju—mengabaikan rammusu yang akan peluki tubuh kurusnya.


Hujan merengek. Bayangan berkelabat. Cinta berwajah samar.


Meski laju motornya  lambat. Ia akhirnya sampai di ujung lorong rumahnya. Genangan  menggila. Nyaris motor yang dikendarainya  tak bisa lewat.  Beberapa kali pula ia nyaris jatuh. Ketika sampai di pintu rumahnya, hujan belum reda. Diketuknya pintu tiga kali. Ketukan tiga kali adalah isyarat yang memberitahukan neneknya kalau ia sudah pulang.  Setelah pintu yang tak terkunci terkuak. Genangan air di dalam rumah membuatnya tertegun lama. Sebelum suara batuk-batuk perempuan tua itu menyadarkannya. Ia segera menemuinya—perempuan itu menyambutnya dengan senyum.


“Air yang masuk ke rumah tadi sangat lembut, seperti cinta kakekmu yang begitu lembut merasuk ke hatiku. Kakekmu adalah cinta pertama dan terakhirku. Namun, ia bukan lelaki terakhir bagiku, yakinlah, Nak, tak ada orang yang bisa menjadi yang terakhir dalam hidupmu, karena akan selalu ada orang lain yang datang mengisi sisi hati kita yang lain,” terang neneknya panjang lebar.


Ia hanya tertegun menatapnya. Bayanganmu kembali membanjir dan menetes ke hatinya, Miala. Pada ‘seperti’ tetesan hujan dari pakaiannya yang kuyup, menyatu dengan air yang menggenangi lantai rumahnya malam itu.


“Akan selalu ada cinta bagi orang yang mencintai, Nak,” ujar neneknya lagi.  Neneknya  menunjuk air yang masuk ke rumah dengan lembut. Beliau tak pernah memaki hujan yang menyebabkan rumah kebanjiran. Karena ia menyukai hujan. Banyak kenangan dalam hujan bersama suaminya. Bagi perempuan renta itu, hujan adalah jendela menemukan kekasihnya, lelaki yang mengajarinya menjadi perempuan.


Hujan bertasbih. Ribang meruah di hatinya. Kamu menari di pelupuk. Ia mencarimu, Miala. ###


Cat: posko Malut, Sabtu, 20 Januari 2018