Sebelum Kita Makan

subuh itu, aku cari kantuk di instagram. bacai caption fotomu yang bara lara.


ingin kutanyakan
apa kau ingat pertemuan pertama kita?


ingin kukatakan
"pulang adalah kata kerja bagi perantau"


tapi...


jaringanku eror
komentar itu tak pernah terkirim
aku menyimpannya di kepala


banyak komentar di kepalaku
harusnya kutulis di foto unggahanmu


tapi...


kuotaku tak kuat
kelak kau akan temukan di kepalaku
saat mengusap rambutku di hari tua


di mana kau butuh bicara secara nyata
bukan berbicara di instagram


aku tidur saat subuh
bangun lebih cepat
ingin ajakmu berdoa


...bumi kian tua, kau tahu?
tempat berdoa bukan di atas sajadah
tempat itu pindah ke instagram


jika kelak kau pulang
kita akan menyimpan hp
sebelum menuju meja makan...


Rumah kekasih, 8 Oktober 2018


Pada Banyak Hal, Aku Ingin

kantuk tiba, lelah di matamu akar bambu. menahan longsoran putus asa.
kalimat panjang berderet di kepala. kertas terletak retak di lantai kos. napas nyaris keropos.


masa depan, pertanyaan panjang yang berakhir dengan pertanyaan baru. ada kamu di sana, bertarung melawan segala angin. tubuhmu pohon pinus di ketinggian melawan gigil.


kau tangguh pada semua cerita, dan keraguan yang di sematkan musim pada pohon di tubuhmu. kau akan berjalan ke gunung, ke pantai, ke halaman sebuah rumah.


malam terus saja liar. memanah kemalasan, kau masih harus terjaga, aku menjaga pada doadoa. tak ada jarak dalam doa cinta


kerap aku ingin jadi film paling menarik untukmu. tiap adegan betah di ingatan atau namaku adalah lagu yang kau nyanyikan jelang tidur.


aku juga ingin jadi puisi atau teori dalam makalahmu. kau paparkan di depan kelas dengan cemas sedikit malumalu, seperti kelak ketika kau bertemu ibu.


kantuk menjenguk matamu. masa depan membentang jauh di pikiran. kau akar bambu, kau pohon pinus itu, angin hanya datang membelai, tak merobohkan.


kerap aku ingin menjadi banyak hal untukmu, tapi kemudian luruh. tanggal satu demi satu 3di mana aku ingin menjadi bukan siapa siapa untukmu selain cinta...


Alauddin-rumah kekasih, 30 Agustus 2018



Malam puncak PKMM, Benteng Sombaopu, Gowa

Vhee, Perempuan yang Menunggu di Perempatan Jalan

Kamu duduk di aspal yang dialasi seadanya. Menekuk lutut agar kakimu tidak berselonjor yang bisa mengundang protes karena dianggap tidak sopan. Sesekali kamu tersenyum memperlihatkan kawat gigimu.

     
Tatapanmu lebih banyak memperhatikan orang yang lalu lalang di sekitarmu yang berjubel. Hari itu hari Ahad, 16 September 2018. Kamu bersama tiga orang perempuan datang ke Jl. Masjid Raya, Gowa menikmati liburan sekaligus menambah uang saku. 


"Sudah tiga minggu saya jualan di sini," akumu. Tiga minggu artinya sudah tiga kali kamu datang (sekali dalam sepekan) ke jalan yang menghubungkan Jl. Tumanurung Raya, jl Masjid Raya dan Jl. H. Agus Salim. Kamu duduk tepat di tengah pangkana 'perempatan' jalan itu. Melangitkan harapan. Menunggu uang mengalir ke saku.


"Boleh tahu namamu," tanyanya. Kamu menatapnya, barangkali menganggap lelaki yang jongkok di depanmu itu sambil memegang HP terlalu lancang menanyakan namamu.


"Nama asli atau nama panggilan," tawarmu bernada lembut.


"Nama panggilan saja," jawabnya sambil melihat matamu yang sedang fokus melihat sepatu dan sandal di depanmu. Ada seorang ibu sedang menanyakan harganya. Kamu menjawab pertanyaan ibu itu dengan baik, meski gagal memikatnya membeli barang yang kamu jual. Kamu tersenyum.


"Namamu?"

 tanyanya lagi mengalihkan perhatianmu. Kamu menatapnya 


"Vi," ucapmu. "V, H, E, E," ejamu pada nama sendiri. 


Ia mengucapkan terima kasih karena kamu membiarkannya mengetahui nama dan nomor WA-mu. Mungkin kamu melakukannya karena ia berjanji akan menulis tentangmu, tentang aktivitasmu setiap hari Ahad pagi berjualan cakar (pakian bekas) tanpa rasa malu. Itu mengagumkan.


"Kami bersepupu," ujarmu sambil melihati tiga orang perempuan yang tak jauh dari tempat dudukmu. Ketiganya sedang sibuk menawarkan cakar yang ditumpuk seenaknya saja.


 Ia berkunjung ke jalan depan kantor Bupati Gowa itu tanpa maksud apa-apa selain jalan-jalan, biasanya ia bertemu teman atau kerabatnya yang juga datang membuang kantuk paginya ke jalan itu. Namun, begitu melihat banyak anak-anak muda yang berjualan cakar, ia tertarik untuk menuliskannya. Niat itu pula yang menyeretnya mengenalmu.


Kamu bercerita banyak mengenai jualanmu. Sepatu, sandal, dan pakian bekas adalah koleksimu dan koleksi sepupumu yang tidak terpakai lagi karena berganti dengan yang baru, atau tidak lagi muat di tubuhmu.


 "Biasanya dapat 200-300 ribu," akumu. Ia mencoba membagi 4 angka itu. Hasilnya lumayan untuk untuk menopang hidup di rantau sebagai mahasiswa.


Ia lupa bertanya apakah sepupu-sepupumu tersebut juga berasal dari Belopa-Luwu, tempat turunnya manusia pertama di dunia tengah ini dalam kisah La Galigo yang kini menjadi sastra terpanjang dunia.


Idemu menjual cakar sungguh menarik, sebab tak semua orang bisa melakukannya karena rasa gengsi dan minder. Apalagi jika ia perempuan dan berstatus mahasiswa magister (S2) sepertimu.


"Saya kuliah S2 di Universitas Islam Negeri. S1 saya di Unhas, tapi karena jurusanku untuk S2 tidak ada di sana, jadi saya lanjut di UIN," kisahmu dengan ringan.


Ia jadi ingat beberapa tahun lalu, barangkali dikisaran tahun 2015 pemerintah melarang peredaran cakar karena diduga mengandung penyakit. Banyak cakar disita dan dimusnahkan. Itu jadi kisah pilu bagi pedagang dan penikmat cakar.


Larangan itu perlahan pudar seperti kasus korupsi yang dipudarkan. Di banyak tempat cakar tetap tersedia dan orang menjualnya terang-terangan seperti yang kamu lakukan. Meski saat itu yang dilarang adalah cakar dari luar negeri, tapi petugas di negara ini kerap menyapuratakan saja, tak peduli itu dari luar atau dari dalam negeri sendiri, tak peduli apa koleksi pribadi yang dijual atau bukan.


                        ****


Kini ia sedang berpikir bagaimana menuliskan kisahmu. Menunaikan janjinya agar orang tahu ada seorang mahasiswa S2 yang rela duduk di tengah jalan, di atas aspal dengan alas seadanya menjagai barang jualannya yang berupa baju, celana, sepatu, dan sandal bekas tanpa rasa minder.


........sesekali ia ingin menghubungimu untuk bertanya banyak hal mengenai aktivitasmu setiap hari Ahad pagi di perempatan Jl. Masjid Raya, Gowa tapi ia ragu, maka kisahmu bisa saja hanya ia dan kamu yang tahu, Vhee...


Rumah kekasih, 22 Sept 2018


Suasana di depan kantor Bupati Gowa setiap hari Ahad pagi

Cakar di Musim Cakar-cakaran

Sesekali tangannya dimasukkan ke toples mengambil kacang mekar. Penganan itu terasa pas pagi ini. Apalagi ada segelas kopi jadi pasangannya, dan buku Layla Majnun.


      Teras rumah kekasih pagi ini terasa nyaman sebab lebih bersih dari sebelum-sebelumnya. Riuh kendaraan di depan rumah mengusir banyak hal, termasuk ide yang ingin ditulisnya perihal yang kemarin pagi di depan kantor Bupati Gowa.


      Kemarin pagi, di hari Ahad itu seperti biasa. Di depan kantor Bupati Gowa akan disesaki orang yang menikmati liburannya. Jalan itu sengaja ditutup dari kendaraan roda dua dan empat agar warga bisa menikmatinya dengan jalan kaki yang semakin jarang dilakukan.


       Seperti ciri khas Indonesia pada umumnya di mana ada keramaian di situ ada pedagang. Seperti itu pula jalan di depan kantor Bupati Gowa itu yang sengaja di tutup dari raungan kendaraan setiap hari Ahad mulai pukul 06.00-10.00 pagi. Jika kamu tak punya sibuk, datanglah merayakan hari liburmu di sana.


       Segala jenis barang bisa kamu dapatkan di sana, mulai dari obat kuat hingga pakian bekas yang  lebih dikenalnya dengan nama cakar. Tepat di depan jalan masuk halaman kantor bupati. Penjual cakar tersebar di beberapa titik. Beberpa dari penjual cakar itu berkelompok dan masih muda.


       Mario misalnya, masih berstatus siswa di salah satu sekolah kejuruan di Makassar rela "ke daerah" bersama teman-temannya berjualan cakar. Mereka datang saat pagi belum benar-benar tiba demi mendapatkan tempat meletakkan dagangannya


       "Panggalangan dana untuk acara kesenian. Kalau mengharapkan dana dari sekolah agak susah," kata Mario dipertegas anggukan teman-temannya.


       Pakian bekas itu adalah koleksi mereka dan donasi dari orang yang peduli pada pada kegiatan yang akan dilaksanakan tersebut. Tak jauh dari kelompok Mario, sekelompok perempuan muda juga melakukan hal yang sama. Mereka juga menggalang dana untuk kegiatannya. Jika Mario dkk masih sekolah. Sekelompok cewek itu berstatus mahasiswa, mereka kuliah UNM.


        Jika sempat kamu boleh berjalan-jalan ke jalan itu, menyaksikan para kaum melenial tidak gengsi menjual cakar demi menunaikan janjinya pada lembaga atau organisasi yang digelutinya, demi melaksanakan program kerjanya.


        Cakar selalu identik dengan orang yang secara ekonomi kurang mapan dan tingkat pendidikan yang rendah, tapi anak-anak muda itu membungkam anggapan tersebut. Mereka rela datang, duduk di aspal beralaskan tikar seadanya dan berteriak memanggil pembeli agar membeli jualannya dengan harga yang sangat murah, rata-rata 5.000-10.000 rupiah dan hasil jualan itu tidak ada masuk ke kantong pribadinya, tapi untuk sebuah tanggung jawab yang bernama program kerja.


      Apakah yang berjualan cakar di jalan depan kantor Bupati Gowa itu hanya untuk penggalangan dana? ternyata tidak (mungkin kamu ketawa karena ia membanta pendapatnya sendiri di paragraf sebelum ini). Ada beberapa kamu milenial itu yang menjual barang bekas untuk menambah uang saku. 


      "Daripada pakian bertumpuk tidak dipakai lebih baik dijual untuk biaya hidup," kata Vhee, perempuan dari Belopa itu. Perihal Vhee, akan ia kisahkan tersendiri (tunggu saja)


     Apa pun alasannya, sebuah langkah maju untuk mengikis budaya gengsi anak muda. Ia dan kamu pasti sering mendengar anggapan miring bahwa pemuda dan pemudi Makassar (Sulsel) memiliki tingkat gengsi  melebihi tingginya gunung Bawakaraeng, mereka malu untuk bekerja atau melakukan hal yang dilakukan oleh orang yang tidak keren (jualan cakar dianggap jualan yang tidak keren)


     Tapi, jika kamu datang ke jalan yang ia maksud, kamu akan mengubah anggapan itu perlahan-lahan (semoga begitu) bahwa para kaum milenial di daerah ini tidak gengsian seperti anggapan kebanyakan orang. Mereka meretasnya dengan cara elegan. Bukan hanya meretas anggapan "buruk" itu, tapi juga kembali memasyarakatkan cakar yang pernah dilarang beredar. Dan tentu saja masyarakat bisa tidak berharap pemberian baju kampanye di musim yang serba cakar-cakaran ini..      

      

Rumah kekasih, 17 Sept 2018


Mereka berjualan cakar dengan riang gembira


Orang-orang yang merayakan liburan

Mabuk itu Menetak Jarak

Perempuan itu menyimpan hapenya di sebuket bunga. Ia melangkah masuk ke dalam gereja. Tangannya menggenggam bunga itu. Ketika ia melangkah masuk, semua mata tertuju padanya. Seorang lelaki yang duduk dikursi undangan menatapnya tanpa kedip. Tatapannya menyimpan pertanyaan.


Di altar seorang lelaki tersenyum bahagia menanti kedatangan perempuan itu. Detik yang mendebarkan segera tiba. Perempuan itu melangkah anggun ke atas altar suci, tempat sumpah setia dalam perkawinan akan diucapkan.


Sepasang kekasih itu melangkah ke depan berhadapan, mereka akan saling menggenggam tangan, perempuan itu menyerahkan buketan bunga pada perempuan lain di atas altar, hape yang tadi disimpan di dalamnya terjatuh. Lelaki itu tampak gelisah. Dan tanpa pikir panjang, ia membatalkan pernikahan itu. Semua undangan kaget, termasuk lelaki yang duduk di kursi undangan itu.


Ia melangkah ingin meninggalkan ruangan pernikahan tersebut, tapi karena langkahnya tergesa ia tersandung dan hampir jatuh. Suara gaduh yang disebabkan lelaki itu sontak membuat orang menoleh, termasuk perempuan itu yang tak kalah kagetnya. Dari bibirnya yang seksi terucap kata


"Father 'ayah'"


Setelah berpisah 25 tahun. Perempuan itu kembali melihat ayahnya. Waktu yang panjang itu, 25 tahun ia tak lupa wajah ayahnya, begitu pun ayahnya yang berharap bisa menyaksikan hari bahagia putri tercintanya yang diberi nama Rachel itu. Diperankan oleh Kristen Bell.


Untuk menghibur putrinya yang asing itu-yang ia tinggalkan sejak usia 5 tahun, Harry yang diperankan Kelsey Grammer membujuk putrinya untuk minum hingga keduanya mabuk berat.


Kebencian Rachel kepada ayahnya redup saat mabuk itu, maka ketika mobil datang menjemput untuk perjalanan bulan madu Rachel dengan Owen, lelaki yang meninggalkannya di altar. Tanpa pikir panjang, bahkan tanpa membawa pakaian Rachel mengajak ayahnya menggantikan Owen di kapal pesiar yang telah terlanjur dibooking itu.


Karena mabuk berat, anak dan ayah itu berlayar bersama di sebuah kapal pesiar. Awalnya memang tak mudah untuk berdamai, apalagi Rachel membenci ayahnya karena merasa diabaikan. Rachel perempuan yang nyaris sial itu, ditinggalkan dua lelaki. Ayahnya saat usia 5 tahun dan kekasihnya, Owen meninggalkannya di altar pernikahan hanya karena ia menelepon sebelum masuk gereja mengucapkan ikrar sebagai suami istri.


Namun setiap kisah memiliki sisi positifnya. Kegagalan pernikahan itu, mabuk berat itu mengantarkan Rachel berdamai dengan ayahnya. Kisah ini bisa kamu temukan dalam film Like Father. Bagaimana kebencian diakhiri dengab mabuk. Namun di balik semua itu,  jarak tak pernah bisa menetak cinta


Rumah Kekasih, 11 Sept 2018


Adegan film Like Father

Berkah Bakau yang Memukau di Utara Makassar

Lelaki berkacamata itu sedang sibuk mencari spot foto.  Kameranya diarahkan ke jembatan kayu yang telah dicat warna-warni serupa  pelangi.  Ranselnya menggantung di pundaknya. Ia terlihat puas dengan beberapa hasil jepretannya sore di hari Senin itu, 23 Juli 2018 meski air sedang surut.

Suasana sepi sehingga membuatnya leluasa mengatur  tripod yang menyanggah kameranya di atas jembatan yang panjangnya 270 meter. Pengunjung hutan bakau  atau mangrove Lantebung memang tidak banyak sore itu.  Hanya  lima orang , termasuk lelaki berkacamata itu. Empat orang lainnya adalah pemuda yang sedang menikmati sepoi angin laut di ujung jembatan di sebuah gazebo. 

Lelaki berkacamta itu  bernama Azwir Mandala, berprofesi sebagai fotografer di Kota Makassar. Ia datang melepas rasa penasarannya pada hutang mangrove  di Kelurahan Bira, Kecamatan Tamalanrea, tepat  di sisi utara Makassar  tersebut.

“Ini pertama kalinya saya ke sini. Setelah melihat foto teman-teman,  saya  penasaran, jadi datang melihat langsung.  Tempat ini membuat saya terkesan, sebab ini unik berada di pinggiran Kota Makassar dengan akses yang cukup mudah,” terangnya.

Apa yang dikatakan Azwir memang benar, hutan mangrove Lantebung memang unik, bukan hanya karena letaknya yang berada di dekat pusat kota, tetapi juga karena diinisiasi oleh masyarakat sendiri, bukan oleh pemerintah. Sambil membetulkan kacamatanya, Azwir mengalihkan pandangannya dari kameranya, menyapu hutan mangrove yang luasnya 2 km itu. 

Ia berharap penanaman  mangrove terus bertambah dan mendapat dukungan dari pemerintah.  Tapi, ia tidak setuju jika  jika hutan mangrove Lantebung pengelolaannya diambil alih oleh pemerintah.

“Jika ingin melanjutkan ini ke tujuan wisata, maka fasilitas harus diperadakan, khususnya WC umum dan keamana yang perlu ditingkatkan, serta jangan dikelola oleh pemerintah, cukup dikelola oleh warga setempat dan relawan saja. Sangat banyak tempat wisata dikelola pemerintah pada  akhirnya terbengkala dan hanya menjadi tempat  mistik,” harapnya.

Mekail, pemuda asal Sudiang yang datang bersama tiga temannya juga  mengharapkan fasilitas harus ditingkatkan, khususnya pembangunan gazebo yang lebih besar agar  bisa memuat orang yang datang berkunjung. Mekail juga untuk pertama kalinya mengunjungi hutan mangrove tersebut.

“Tempat ini bagus untuk refreshing, hanya saja sepertinya masih kurang dipromosikan, tempatnya terkesan tersembunyi. Harus ada gerbang yang menunjukkan tempat ini agar masyarakat mudah menemukannya,” ujarnya. Ia mengaku sempat kesasar saat menuju lokasi.

Keberadaan hutan mangrove Lantebung  tidak bisa lepas dari sosok sederhana Saraba. Dari usaha kerasnyalah  yang tidak kenal menyerah menaklukkan penentangnya sehingga hutan mangrove Lantebung bisa dinikmati Izwar dan Mekail serta pengunjung lainnya.
Semuanya bermula dari keresahan dan kekhawatiran akan kelangsungan hidup warga kampung Lantebung, maka  pada tahun 1996 ia memulainya mengajak masyarakat   menanam dan memelihara mangrove. Ajakan itu tidak mulus, sebab ditentang oleh RT, RW, dan lurah setempat serta orang-orang yang punya kepentingan.

“Semua ini saya lakukan untuk masa depan anak cucu warga Lantebung. Kalau tidak berpikir ke depan bagaimana anak cucu warga di sini, mau ke mana mereka tinggal dan mencari nafkah?” ujar Saraba  serius.

Demi mewujudkan mimpinya, Saraba kerap mengajak warga Lantebung mengikuti pelatihan yang diadakan di hotel meski itu tidak mudah. Namun, setelah   Internasional Fund For Agricultural Develoment (IFFAD) yang merupakan lembaga internasional mulai melirik dan terlibat,  maka upaya penanaman dan pemelihara mangrove di Lantebung mulai memperlihatkan hasilnya.

“Pada tahun 2006, saya mengajak masyarakat studi banding ke Tangke-tangke, Sinjai,  sepulang dari sana kesadaran akan pentingnya pelestarian mangrove semakin mantap hingga sekarang,” ungkap Saraba. Kini setiap bulan selalu ada aksi penanam mangrove di Lantebung, bukan hanya dilakukan oleh warga loka,  tapi juga warga asing seperti Spanyol, Korea, Portugal, Amerika Serikat, Belanda dan lainnya.

Mimpi lelaki empat anak itu hanya ingin melihat perekonomian warga Lantebung meningkat. Ia tidak rela warga Lantebung terus berkabung dalam kemiskinan dan menjadi warga teringgirkan dari segi ekonomi dan pendidikan. Mimpi itu perlahan terwujud, apalagi setelah Dinas Kelautan dan Perikanan(DKP) Kota Makassar  tahun 2010 ikut membantu dan mendukung konservasi mangrove di sisi utara Kota Makassar itu.

Apalagi sejak dibangun jembatan yang berfungsi sebagai tempat menambatkan perahu warga. Jika dulu sebelum jembatan dibangun, warga Lantebung yang dominan nelayan hanya sekali sehari melaut, kini para nelayan bisa keluar melaut dua kali dalam sehari.

Basri, lelaki yang lahir di Lantebung  itu merasa bersyukur dengan adanya hutan mangrove sebab perekonomian keluarganya meningkat dan rumahnya terhindar dari bencana banjir dan angin laut saat musim hujan.

“Sebelum adanya hutan mangrove ini, setiap musim hujan air naik hingga ke jalan dan menggenangi rumah warga. Bukan hanya terhindari banjir dan angin,  tapi mangrove telah membawa dampak ekonomi yang baik bagi warga, sebab dengan adanya mangrove kepiting rajungan mudah ditemukan, begitu pun tirang  yang nilai ekonominya bisa menutupi kebutuhan keluarga," ujarnya

Rasa syukur juga diungkapkan Salma, perempuan berkulit putih yang berusia di kisaran tiga puluh tahun itu mengaku sejak adanya budidaya hutan mangrove perekonomian keluarganya meningkat. Ia berjualan tepat di sisi kiri pintu masuk jembatan pelangi.

“Jika hari libur ramai, saya biasa jualan gorengan. Saya baru tiga bulanan jualan dan hasilnya bisa diandalkan,” katanya sambil bersandar di pembatasan jembatan.

Salma berharap agar fasilitas hutan mangrove bisa lebih ditingkatkan lagi. Apalagi yang datang bukan hanya wisatawan lokal, tapi juga dari mancanegara. Harapan Salma, Izwar, dan Mekail sepertinya akan terwujud karena Saraba selaku pengelola dan inisiator konservasi hutan mangrove Lantebung sedang merencanakan pembangunan jembatan di tengah-tengah hutan mangrove sehingga pengunjung bisa lebih nyaman menikmati mangrove dan cericit burung.

Selain itu, Saraba juga berharap pondokan yang berfungsi sebagai pusat informasi bisa digunakan dijadikan rumah baca sehingga pengunjung bukan hanya menikmati ekowisata saja tetapi juga nilai ada nilai pendidikan.

“Namun, semua itu butuh perjuangan dan tekad yang keras, sebab  musuh laut sekarang bukan ketiadaan mangrove, tetapi  reklamasi,” tutupnya....

Jendela Hujan


Hujan mengiris ribang. Menetak sekujur tubuh. Geligis lahirkan cemas.


Di tatapnya hujan lebih lama dari biasanya. Ia sedang mencari celahnya—sia-sia saja, menunggunya reda juga percuma. Sementara malam hampir tiba. Resah biak di wajahnya yang pucat di tetak gigil. Ia singgah bernaung, tapi hanya sekejap saja lalu menerabas kembali hujan.


Tetesan hujan serasa jarum menerpa wajah.  Dan hanya sepersekian menit,  baju dan celana dalamnya kuyup.  Namun, tekad untuk sampai ke rumah lebih gelitar. Bayangan seseorang mengerumuni matanya—bayangan neneknya yang  rentah.  


Pikirannya sedang dirimbuni tanya, bagaimana jika neneknya jatuh dari tempat tidur karena berusaha mengemasi barang-barang agar tak terjamah banjir, atau bagaimana jika buku-bukunya terendam  lalu kisah di dalamnya menghilang. Sungguh ia tak tega jika itu terjadi. Maka, tak ada bernaung lebih lama. Ia harus lacciri ‘cepat’ sampai ke rumah.


Hujan mengganas. Ia  dilibas—remuk.


Mestinya lebih awal ia sampai agar bisa menyaksikan air merasuk lembut ke dalam rumah dan menggenanginya.  Ya, harusnya begitu, tapi perjalanan selalu punya aral yang kerap tak terduga. di perjalanan pulang dari pesta pernikahan  kerabat  jelang malam itu. Hujan tumpah dan ban motornya bocor. Ia mendorong motor cukup jauh sebelum menemukan penambal ban. Gigil meramu derita sedemikian memikat, gigil  tembus ke tulang. Tapi ia tak berhenti.


Aral itu mengandaskan inginnya tiba di rumah lebih cepat. Setelah ban motornya ditambal, ia tak bisa melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Jalan mulai diserang air, macet membuatnya mengelus dada. Tapi ia harus menerabas semua tantangan itu,  tak dihirau  rammusu ‘demam’ yang akan menetak sekujur tubuhnya.  Suara klakson bersahutan sampai ke telinganya mengalahkan suara hujan. Semua orang seperti dirinya,  ingin sampai ke rumahnya dengan cepat.


Hujan merintih. Riciknya gaduh. Ia kuyup. Ia melaju.


Di rumah tua itu ia hanya tinggal berdua dengan neneknya yang   renta. Kedua orangtuanya lupa pulang dari rantau. Ia telah berjanji akan menjaga neneknya melebih apa pun, bahkan melebihi dirinya sendiri.


Ia suka jika hujan, neneknya akan bercerita banyak hal. Ia ingin menyaksikan air masuk ke rumahnya dengan lembut sambil mendengar neneknya  ma’royong. Royong adalah musik entik Makassar yang mengandung nilai moral. Ketika kecil neneknya biasa ma’royong mengantarnya pada tidur. 


Hujan menganga. Perihkan luka. Setubuhi rindu. Ia mencarimu dalam hujan.


“Aku ada dalam hujan.” Tetiba saja sebuah suara merasuki kokleanya. Suara  itu nyaring kalahkan ricik hujan, lalu ia mengingatmu, Miala. Dulu kamu kerap mengajaknya menikmati hujan di malam hari. Katamu, hujan lebih romantis jika malam. Hanya saja ia selalu abai. Dan malam ini ia nikmati tanpamu—penyesalan tanak di matanya.   Ia mencari sisi romantis dalam hujan, juga  mencari kebenaran perkataanmu tentang hujan. Ia juga mencarimu, Miala.


Diakuinya dengan jujur, kamu perempuan yang memaksanya mengerahkan segala cintanya. Tapi, cintanya tak pernah cukup menahanmu bertahan di sisinya. Kamu pergi tanpa jejak sama sekali.  Setelah pergimu, beberapa kali ia ingin jatuh cinta pada perempuan lain, namun selalu gagal.  Napasnya telah tassikko’ ‘terikat’ kepadamu. Ia mencintaimu seperti hujan mencintai riciknya, seperti malam mencintai gelapnya. Dengan mencintaimu, segala kekurangan yang meraja dalam dirinya jadi kesempurnaan.


“Cinta akan menggenapi kita, sayang,” kata-katamu memesrainya dalam hujan.  Ia perlahan paham kenapa kamu menyukai hujan, kenapa kamu acap memintanya menikmatinya bersamamu? Dalam hujan, pelukan dan ciuman lebih menggemaskan, dan segala kenangan mampu dihadirkan  lebih  mendebarkan. Hujan adalah cinta itu sendiri.


Hujan berkisah. Luapkan kenangan. Ia terengah


Malam mulai menua.  Ia masih berjibaku dengan macet dalam hujan. Dicobanya  abaikan bayangan neneknya dan juga bayanganmu, Miala.  Hujan kian deras, tusukan di wajahnya lebih menikam lagi. Ia sedang mencari celahnya.  Sia-sia saja, menunggunya reda juga percuma. Ia terus saja melaju—mengabaikan rammusu yang akan peluki tubuh kurusnya.


Hujan merengek. Bayangan berkelabat. Cinta berwajah samar.


Meski laju motornya  lambat. Ia akhirnya sampai di ujung lorong rumahnya. Genangan  menggila. Nyaris motor yang dikendarainya  tak bisa lewat.  Beberapa kali pula ia nyaris jatuh. Ketika sampai di pintu rumahnya, hujan belum reda. Diketuknya pintu tiga kali. Ketukan tiga kali adalah isyarat yang memberitahukan neneknya kalau ia sudah pulang.  Setelah pintu yang tak terkunci terkuak. Genangan air di dalam rumah membuatnya tertegun lama. Sebelum suara batuk-batuk perempuan tua itu menyadarkannya. Ia segera menemuinya—perempuan itu menyambutnya dengan senyum.


“Air yang masuk ke rumah tadi sangat lembut, seperti cinta kakekmu yang begitu lembut merasuk ke hatiku. Kakekmu adalah cinta pertama dan terakhirku. Namun, ia bukan lelaki terakhir bagiku, yakinlah, Nak, tak ada orang yang bisa menjadi yang terakhir dalam hidupmu, karena akan selalu ada orang lain yang datang mengisi sisi hati kita yang lain,” terang neneknya panjang lebar.


Ia hanya tertegun menatapnya. Bayanganmu kembali membanjir dan menetes ke hatinya, Miala. Pada ‘seperti’ tetesan hujan dari pakaiannya yang kuyup, menyatu dengan air yang menggenangi lantai rumahnya malam itu.


“Akan selalu ada cinta bagi orang yang mencintai, Nak,” ujar neneknya lagi.  Neneknya  menunjuk air yang masuk ke rumah dengan lembut. Beliau tak pernah memaki hujan yang menyebabkan rumah kebanjiran. Karena ia menyukai hujan. Banyak kenangan dalam hujan bersama suaminya. Bagi perempuan renta itu, hujan adalah jendela menemukan kekasihnya, lelaki yang mengajarinya menjadi perempuan.


Hujan bertasbih. Ribang meruah di hatinya. Kamu menari di pelupuk. Ia mencarimu, Miala. ###


Cat: posko Malut, Sabtu, 20 Januari 2018

Ke Kahayya

Ada nama yang tak pernah sampai pada pendengaranmu. Dan begitu sampai, kau akan mengerutkan dahi, mencoba membayangkan pemilik nama itu, namun terus saja gagal. Lalu kau akan cari tahu apa yang menarik di balik nama yang baru saja kau dengar. Kau akan bertanya lebih banyak seperti orang yang baru jatuh cinta.



Ia ingin menyebut satu nama yang bisa jadi baru pertama kali kau dengar. Nama yang bukan nama orang, tapi sebuah kampung paling ujung di sebelah barat Bulukumba, kampung yang belum cukup sedekade bercerai dari induknya agar bisa mandiri--bernapas sendiri. Kampung yang pernah dijadikan judul cerpen di buku Lelaki Gerimis.



Ibunya lahir dan besar tak jauh dari kampung itu (tetangga dusun) sebelum menyingkir ke kota, yang di sebut kota kala itu saat pasukan Kahar Muzakkar berkuasa, bukan kota seperti dikenal sekarang, tapi sebuah perkampungan yang telah dikuasai oleh tentara--pasukan pemerintah. Orang- orang pada waktu itu menamainya tempo panynyingkirang "waktu menyingkir" meninggalkan kampung tercinta, tempat ari-ari ditanam, tempat darah pertama tumpah.



Ibunya selalu mengenang kisah itu, saat gurilla 'pasukan gerilya' berkumpul di rumahnya untuk makan atau sekadar melepas lelah, minum kopi dengan senjatanya yang selalu siaga. Masa gerilya berkeliaran di kampung itu di sebut tempo gurilla.


                      *****



Tadi pagi, di awal tahun 2018, ia, ayah dan ibunya kembali ke kampung itu, memanen buncis yang ditanam ibunya. Kampung yang dituju adalah Kahayya, dulu merupakan sebuah nama dusun, tapi setelah lepas dari induknya, Desa Kindang, Kahayya menjadi nama desa. Kahayya pasti terdengar asing di telingamu, bukan?



Kahayya berada di lereng gunung Bawakaraeng, desa itu kini menjelma tempat wisata  yang menarik banyak orang mengunjunginya. Tempatnya paling ujung di Bulukmba, berbatasan dengan Sinjai yang hanya dibatasi sungai Balantieng, yang konon adalah sungai paling berani di antara beberapa sungai yang menyusu di gunung Bawakareang, sebab hanya sungai Balantieng yang berani sampai ke Kajang, yang tersohor itu. Bahkan memeluki Kajang.



Di sebelah barat Bulukumba setidaknya ada empat sungai yang lumayan besar, sungai Bialo, Bijahang, Addungan, dan Balantieng. Pada perjalanannya Addungan dan Balantieng bergabung. Kahayya memiliki dua sungai itu. Addungan dan Balantieng, Addungan menjdi batas antara Desa Kindang dan desa Kahayya.



Dulu, sebelum Kahayya berdiri sendiri, kampung itu adalah kampung mati dan orang-orangnya selalu jadi lelucun jika ada orang yang "norak" orang-orang akan mengatakan padai tau kahayyya 'seperti orang Kahayya'



Setelah mekar dan jalan mulai bagus. Orang-orang justru berbondong-bondong ke Kahayya yang menawan keindahan alamnya, bukit di kiri kanannya, ada danau Kahayya yang lebih dikenal dengan Lurayya. Di ujung danau itu kini telah dibuat kolam renang.  Sejak kolam itu ada, yang berdiri di dekat pohon beringin yang disakralkan, nuansa keramat pohon itu seakan pudar. Belut jinak di mata air yang tak jauh dari beringin itu barangkali telah pergi. Belut itu biasa makan telur di tangan pengunjung. Konon jika ada pengunjung digigit tangannya ia akan mendapat jodoh.


                   *****


Tadi pagi ia ke Kahayya dengan berjalan kaki. Terlalu banyak yang berubah, selain jalan dan lurayya menjadi tempat wisata, di  Gamacayya ada baruntung tinggia 'air terjun yang tinggi'  ada air terjun permandian bidadari yang bersusun tiga. Ibunya selalu menamainya panrio rioanna to sunrayya 'tempat mandinya orang yang tak kasat mata.' Kata ibunya, dulu sering terdengar suara orang mandi di air terjun yang bersusun tiga itu padahal tak seorang pun yang kasat mata.



Bukan hanya jalan yang berubah dan orang lebih banyak ke Kahayya, tapi juga perekonomian warga mulai meningkat, kopi, jagung, dan sayur-sayuran menjadi andalannya.



Dan yang mencengangkan sekaligus mengerikan, dulu sebelum di mekarkan, jika ada orang naik motor atau naik mobil ke Kahayya, orang-orang  akan kaget dan menjadi perbincangan. Sekarang (tadi pagi) ketika ia jalan kaki bersama ibu dan ayahny, orang-orang kaget melihatnya jalan kaki. Jalan kaki ke Kahayya seakan telah menjadi tabu.



Satu lagi, jika ke Kahayya jangan lupa ke Donggia minum kopi, letaknya di ujung Kahayya. Di Donggia kau bisa melihat sungai Balantieng yang berani itu.



Kindang, 1 Januari 2018

Danniari

Di danniari ia meninggalkan kota di selatan itu menuju kota yang penuh sejarah. Belum ada tidur menjenguki dirinya. Ia mengendarai motor seorang diri, melawan gigil, kantuk, dan rasa takut. Dua kali ia keluar jalur, untung saja laju motornya tidak kencang hingga ia bisa selamat, tidak terjatuh.


Ia memang tidak suka jika motor yang dikendarainya melaju kencang. Sebab ia tidak leluasa menikmati perjalanannya, tidak leluasa menyaksikan banyak hal, dan alasan sebenarnya, ia acap merenung saat mengendarai motor, menciptakan kisah di kepalanya. Barangkali ia berbakat jadi penulis.


Di danniari 'dini hari' ia baru pulang di sebuah rumah yang terletak di tengah empang, rumah kosong itu penuh debu. Ia tiba di sana saat malam mulai menua, belum sempat istirahat dari perjalanannya dari kota bersejarah, lelah tumbuh di matanya, wajahnya terlihat lecek, tapi tanggung jawab dan janji harus dituntaskan. Dan ia ingin menuntaskannya malam itu.


Di hadapan sekitaran 40 orang, yang sebagian telah diserap kantuk dengan sangat rakus, ia berbicara, membagi kisahnya, bagaimana cara menulis, menuliskan sebuah kisah. Ia menutup "materinya" saat waktu telah terjerembab ke danniari, kemudian bergegas pulang. Tawaran singgah di rumah kawannya diabaikan. Bukan karena sombong tidak mau singgah membaringkan badannya yang lelah, tapi ia ingin punya kisah, punya kenangan di danniari, bagaimana rasanya mengendarai motor seorang diri di danniari dari kota di selatan itu.


Ia selalu merasa perlu memiliki cerita yang akan diceritakan kelak, entah pada siapa. Barangkali kepadamu jika nantinya ada sempat untuk bertemu. Ia juga akan menceritakan, setelah sampai di rumah yang dihuninya, di pinggir jalan raya, di depan kantor pos di kota penuh sejarah itu. Tubuhnya lemas dan ia tidak ke mana-mana seharian. Hanya memanja saja, mengistrihatkan tubuhnya.


Di kota penuh sejarah itu, sejarahnya seperti hilang dengan sendirinya. Tempat-tempat yang menyimpan sejarahnya adalah tempat yang paling sepi dari pengunjung. Konon, mahkota raja dan beberapa benda sejarah lainnya, bukannya di simpan di museum untuk dinikmati pengunjung agar mendapat pelajaran dari masa lalu, benda-benda itu, konon
disimpan di sebuah bank.


Maka kelak, jika kamu bertemu dengannya, janganlah meminta diceritakan tentang kota bersejarah itu, sebab kota itu telah hilang sejarahnya sendiri. Ia dengan suka rela akan menceritakan sebuah kisah yang lain, tentang perjalanannya dari sebuah kota di selatan mengendarai motor seorang diri di danniari.


Rumah kekasih, 30 Oktober 2017