Jerawat Semester Akhir



 Oleh: La Ndolo Conary

Daun-daun sudah banyak berguguran, begitu pula rerumputan semakin menguning, tak lama lagi musim hujan akan beranjak dan kemarau akan tiba. Musim saling mengejar dan waktu saling menjepit, suasana kadang mengembirakan tapi tanpa diduga datang mencekam pula. Semuanya terekam jelas dalam pita waktu yang terjadi di jalan, di rumah, di kantor, di gunung, di laut, di sekolah, di kampus, bahkan di hati manusia.
Terlihat tujuh gedung berlantai tiga, cat putih yang sudah bernoda, siang itu masih ramai. Berdiri kokoh kampus Hitam yang menampung ribuan mahasiswa, setiap hari dari pagi sampai malam aktivitas mahasiswa tak pernah sepi. Selain aktivitas perkuliahan di kampus menjadi tempat berkumpul dan bertemunya para aktivis dari beragam organisasi. Siang itu di teras gedung A puluhan mahasiswa duduk melingkar untuk membahas masalah sosial dan pemerintahan, ada yang kritik-mengecam dan ada pula yang tenang-tenang saja. Beda yang dilakukan oleh mahasiswa di gedung D, mereka lebih santai memainkan nada gitar untuk mengiringi lagu-lagu yang dinyanyikanya.
Di taman kampus sekelompok mahasiswa asyik menggunakan wifi untuk browsing internet, membaca literatur dalam menyelesaikan tugas kuliah, bahan kajian ketika ada agenda diskusi, mendownload game, atau iseng-iseng menonton film bokep. Namun berberapa mahasiswi yang berjilbab besar baru saja memasuki musholah setelah mendengar semacam pengumuman, muslimah kampus  Hitam yang akan mencari damai dalam pengajian.
Sinar matahari masih terasa panas, di kampus mahasiswa banyak yang berteduh di bawah pohon ketapang sambil bercerita, seorang Dosen muda yang baru saja keluar dari ruangan menghapus keringat di dahinya yang berkerut. Di depan ruang jurusan Keperawatan, Mirna berdiri mematung, matanya layu, wajahnya murung dan menatap kosong papan pengumuman yang biasanya ditempel hal-hal penting tentang nasib mahasiswa. Bedaknya memudar, lipstiknya yang merah sudah pucat, baju bagus dan celana mahalnya kusut, jilbab biru muda terasa membebani kepala. Hasil dandan di kostnya sejam sebelum ke kampus tak berbuah apa-apa, judul Skripsi yang ia ajukan belum jua diterima oleh dosen. Lalu ia memegang jari sambil menghitung berapa kali judulnya ditolak, bibirnya menyebut dengan pelan, “tujuh kali”.
Dalam kemurungan itu, Mirna ingin menangis, belum lagi nilai yang masih banyak menulis huruf D dan E. Huruf tersebut menjadi lampu merah yang akan menundanya keluar cepat dari Kampus. Ia mulai mengenang kembali masa-masa umur belia semesternya yang lebih banyak dimanfaatkan untuk hura-hura saja. Disaat teman-teman kostnya sibuk belajar dan mengikuti kegiatan organisasi, malah ia habiskan waktu untuk menyelenyapkan uang kiriman orang tuanya di Mall dan tempat karaoke. Nilai mudah dilobi dengan uang atau pakai jasa senior, pikirnya saat itu. Teman sejurusan dan sekelasnya sibuk membeli buku untuk referensi tugas, ia justru pusing beli pakaian bagus dan seperangkat alat kosmetik.
Kecantikan itu lebih penting dibandingkan dengan kecerdasan, nanti dosen dan senior mampu digoda dengan wajah mulus, payudara yang menonjol, dan paha yang padat dalam polesan celana ketat, begitulah anggapannya pada awal semester. Ia sering mendengar cerita bualan dari seniornya tentang cara yang mudah untuk mendapat nilai. Tapi sayang, nasibnya tak sama yang sering dicelotehkan oleh pendahulunya itu. Sungguh menyedihkan dan memilukan nasibnya.
Mirna masih berdiri di depan papan pengumuman itu, matanya memandang lantai lalu kembali melihat papan, sebentar menunduk sebentar diangkat kepalanya, begitu yang ia lakukan hampir sejam berdiri di sana. Keringatnya semakin banyak mengalir di wajahnya, tentu bedak di wajahnya tak dipedulikan lagi, kecantikan yang ia rawat sebagai sarana memuluskan jalan telah mencemooh dirinya sendiri. Masihkah ia berkata kecantikan itu penting? Bibirnya tidak berani bicara apa-apa. Segala upaya telah ia coba untuk ‘meneladani’ cara seniornya yang pandai melewati jalan pintas hanya modal senyum dan pasolek, namun ia mendapat perlakuan yang terbalik dari semua cerita bualan itu.
Di kegaduhan waktu ia menerima bentakan dosen yang merasa tersinggung karena merasa ilmunya ingin dibeli semurah harga sepotong roti di Mall. Bukan sekedar masalah uang tapi caranya yang menganggap segalanya bisa diatasi dengan uang, sehingga mengundang rasa muak dari dosennya. Seorang Dosen yang bergelar doktor itu berkata;
“Jika kau ingin nilai yang pantas seperti temanmu yang lain maka lakukan yang pantas pula. Jangan pernah meminta nilai tinggi kalau upayamu hanya secuil. Kalau belum lulus maka kuliah ulang sampai mendapat nilai sesuai harapanmu. Aku tak menjual nilai melainkan aku mengamalkan ilmu. Kamu paham?”
“Iya, Pak.”
“Belajarlah.”
“Baik. Maaf, Pak. Apa tak ada cara lain?,” ia memberanikan diri untuk tanya.
“Tak ada. Ikuti semester yang berjalan dan belajar sungguh-sungguh.”
“Pak, mohon bantu saya,” Mirna mulai merengek dengan muka yang sedih. Merendah bagai seorang budak yang meminta ampunan pada majikan.
“Silakan pulang,” suara dosennya tegas mengeluarkan perintah.
Peristiwa yang memalukan dan memilukan itu diingatnya kembali, lalu bayangan kedua orang tuanya seakan muncul dari kaca papan pengumuman di hadapanya. Ia mulai menyesal karena berbohong kepada orang tuanya, uang kuliah banyak digunakan untuk jalan-jalan dan makan di restauran yang mahal. Tunggakan uang kuliahnya menumpuk padahal ia sudah mengakui lunas pada orang tuanya. Janjinya akan membahagiakan orang tuanya tahun ini, kuliah kelar dan acara wisudahnya berfoto bareng sambil memakai toga sebagai seorang sarjana, kini ia rasa semuanya hanya omong kosong. Membayangkan itu membuat hatinya semakin tersayat.
“Mirna. Sudah keluar judulmu?” Marni tanya, seorang sahabat dekatnya.
Mirna menggeleng saja.
“Sabarlah. Masih ada waktu,” Marni bernada menasehati.
Ia menunduk saja.
“Nanti kita cari lagi judul yang lain,” berusaha agar temannya tetap semangat. “Masdin, Munir, Miswan, Murni, Misna, Mawar dan Maskur. Mereka juga belum keluar judulnya. Mungkin kalian masih diuji dan pasti ada jalan keluarnya,” Marni memotivasinya dengan menyebut deretan nama temannya yang senasib.
Mirna menatap kosong ke semua arah.
“Kita usahakan lagi, Mir. Masih banyak peluangnya,” Marni memberi saran lagi.
“Masalahku bukan hanya judul!,” ia membuka suara.
“Lalu?.”
“Nilai dan tunggakan uang kuliah,” ia coba utarakan deritanya.
“Aku juga.”
“Tapi tak separah aku.”
“Iya, bisa kita berjuang dalam waktu yang masih berpeluang.”
“Itu kamu. Kalau aku tak bisa. Sudah pasti.”
“Jangan pasrah. Kita berusaha dulu.”
“Tidak mungkin. Nilaiku yang belum lulus saja lebih dari puluhan mata kuliah, sementara uang kuliah masih enam puluh persen belum dibayar,” Mirna menumpahkan beban yang dipendamnya.
Marni diam mendengar keluhan temanya. Tak disangkanya masalah Mirna seruwet itu. Pusing juga ia mendengarnya. Kemudian ia berkata;
“Kita tetap berjuang. Jangan dulu pasrah dan bersedih,” ia memaksa untuk memberi semangat temannya walau dalam hati kecilnya berbisik tak mungkin bisa selesai dengan cepat.
Mendengar nasehat Marni, Mirna pelan mengangkat kepalanya, setidaknya ia lega untuk sementara bahwa masih ada temannya yang bisa menemani dikala tercekik oleh persoalan kuliah. Di hati kecilnya rasa sesal belum mampu diusir, seandainya dikumpulkan maka penyesalan itu akan membukit bagai gunung, apabila dijumlahkan maka akan melebihi angkat kemiskinan di negara ini. Beban yang diembannya sangat besar dan banyak, masalah yang dihadapi cukup rumit sehingga tak ada setitik lubang peluang yang memberi tanda.
“Aku tak tau apa yang terjadi jika orang tuaku mengetahuinya. Segala pengorbanan mereka tak sedikit pun yang mampu kuwujudkan. Mereka tidak pernah menunda permintaanku walau dalam keadaan yang sulit. Apa pun yang kuingin selalu dijawab Ya dan Ada, sampai detik ini belum pernah mereka mengatakan Tidak,” keluh Mirna di tengah malam pada temanya.
Di saat kesengsaraan merantainya tak banyak teman Mirna yang datang di Kost, nada panggilan di handphone pun semakin sepi, mereka yang biasa mengajak keluar malam untuk santai-santai lenyap seperti kelelawar, seorang lelaki yang sering memboncengnya menggunakan motor CBR 125 telah sebulan hilang diperedaran, dia salah satu lelaki yang dipacarinya setahun yang lalu. Kenyataan demikian membuatnya jengkel sekaligus rindu pada masa yang riuh-ramai itu.
Kicauan burung yang bertengger di pohon cemara sudut kampus Hitam ramai pada jam tiga sore. Ayam kampung seakan berlomba berkokok di belakang kampus, Mahasiswa ramai mengendarai taman dengan beragam tema yang dibincangkan, lapangan pun tak luput dari gelar rapat kelompok mahasiswa yang menyebut dirinya peduli kampus. Mahmud baru saja dibentak oleh dosen pembimbingnya karena memaksa beragumentasi yang tak logis setelah separuh skripsinya dicoret-coret. Ia menuruni tangga dengan langkah yang lengah, sebetulnya ia tak terima karyanya diacak-acak oleh dosen. Ia sangat malu dibentak di hadapan dosen-dosen yang lain, hal itu tak bisa diterimanya dan rasa jengkel memuncak  di hatinya. Tak sekedar bentakan yang ia dapat melainkan ucapan yang merendahkannya selaku aktivis kampus.
“Kau hanya pandai berteriak saat demonstrasi saja. Ngomong keadilan, kejujuran, transparansi, dan integritas, tapi nyatanya kamu tak bisa menunjukan yang lebih baik dari itu. Tulis Skripsi saja tak jelas urutannya, mana pendahuluan dan mana kesimpulanya. Tak mungkin aku membenarkan karya sampahan semacam ini, sudah tiga kali kuberi arahan masih saja banyak yang salah. Perbaiki lagi dan jangan bermimpi saya akan bisa tolerir kebodohanmu,” tak ada rasa iba sedikit pun yang ditunjukan oleh dosenya.
Mahmud mendunduk dan diam, tak seperti sebelumnya berani mengomentari  ucapan dosenya. Ia merasa sangat direndahkan. Dalam akal sehatnya ia menyadari sebagian yang dikatakan dosennya itu benar, tetapi cara penyampaiannya sangat menusuk rasa kemanusiaanya. Ingin ia lawan dengan cara lain yang ekstrim tapi ia pertimbangkan harapan orang tuanya, bahwa tahun ini menjadi penentu segalanya. Orang tuanya sudah memberikan warning tegas, harus selesai jika tidak, ia harus pulang kampung tanpa membawa kertas ijazah. Tak ada kompromi dan tak lagi ada tawar-menawar. Di sisi lain ia pun berpikir tentang lima mata kuliahnya yang belum kunjung berubah, huruf D dan E masih tertera dalam kertas penilaian dosennya. Padahal ia sudah pernah mengulang di semester yang berjalan.
Di kamar kost suatu sore, Munira sudah tiga kali bercermin, ia melihat jerawat semakin bertambah dan sebagiannya membengkak. Dua hari yang lalu ia pergi ke kampus untuk memperbaiki nilainya, tapi seorang dosen muda yang ia temui, bicaranya melebar ke mana-mana. Tak jelas mana pangkal dan mana ujungnya. Di ujung pembicaraan dosenya menawarkan jalan yang gampang tapi syarat yang mencengangkan.
“Urusan merubah huruf E menjadi B dan D menjadi A, itu hal yang mudah. Semuanya bisa diatur dengan cepat, hanya menyetir ujung pulpen. Tenang saja dan akan beres, tapi kita harus jalan-jalan dulu. Iya, makan malam atau apa yang kamu senangi. Hanya berdua saja,” ungkap dosenya dengan suara yang lembut tapi menahan gairah.
“Iya, Pak. Saya akan telpon nanti. Sekarang harus pulang dulu,” Munira beralasan sesopan mungkin.
“Tentu kamu perlu putuskan cepat. Demi masa depanmu,” nada intimidasi seorang dosen sebelum ia keluar ruangannya.
Munira senyum sebagai tanda mengerti.
Sisa gelap masih ada setelah tiga puluh menit azan subuh berlalu, ibu-ibu mulai menyapu halaman rumahnya, para pedagang sayuran sudah merapikan tempat jualan di pasar, anak-anak sekolah sedang nyanyi di kamar mandi, bulan mengantuk berat dan Mina belum tidur semalaman. Ia tak mendapat rasa ngantuk karena gelisah terus mengganggunya. Semenjak pulang menjalani program pengabdian dari kampusnya, ia tak penah menginjak kampus lagi, hampir sebulan kegiatan itu berakhir. Ia betah di kost bukan karena tak ada yang perlu diurus di kampus melainkan ada masalah yang menindisnya.
Ia sadar sebagai seorang wanita hampir tiga bulan tanggal-merahnya tak pernah bertamu, secara medis pun ia telah memastikan bahwa dalam rahimnya telah bermukin  calon bayi. Mengetahui itu ia malu untuk sekedar keluar dari kostnya dan seorang lelaki yang menidurinya tak pernah lagi datang. Menanggung beban itu membuatnya terjepit dan pernah ia coba menggugurkan dengan menenggak berbutir-butir pil. Semuanya tak menuai hasil yang diharapkan. Ia bertekad tetap betahan sendiri jika tak ada lelaki yang sedia bertanggungjawab, apa pun resikonya akan dihadapi sendiri dari kesalahan jalan yang telah dilakoninya.
“Kau harus mencari lelaki itu,” usul Masita, seorang teman yang sempat mendengar keluhannya.
“Tak mungkin.”
“Kenapa?”
“Aku sudah lelah. Cukup menunggunya di sini saja.”
“Tapi dia tak mungkin mau datang secara baik-baik.”
“Biar saja. Berarti aku bukanlah orang yang baik buat lelaki itu.”
“Tak boleh begitu. Mereka harus menanggungnya juga.”
“Jika ia lelaki yang baik maka akan datang bertanggungjawab. Tapi bukan aku yang memaksanya. Aku sadar masalah ini bukan semata-mata kesalahanya tapi diriku juga. Cukuplah kehinaan ini yang kuterima dan jangan lagi ditambah dengan kehinaan memaksa orang lain agar mengasihi diriku.”
“Sabarlah. Kau sangat kuat,” Masita memeluk temanya sambil menangis. Ia merasa simpati pada musibah yang melandanya.
Siang tak mau berdamai dengan sinar matahari yang sulit kompromi, teriknya menyemburkan panas di ubun-ubun manusia. Daun dan bunga layu, rerumputan ada yang terkapar di atas tanah. Di siang itu Mamat membanting Hpnya, sepuluh menit yang lewat bapaknya menelpon menanyakan terkait kuliahnya.
“Mat, apa kamu bisa selesai tahun ini,” dari jauh bapaknya tanya.
“Nanti dilihat, Pak,” jawabnya singkat.
“Kamu harus usahan cepat selesai, Mat.”
“Iya, Pak.”
“Kamu jangan iya, iya, terus. Nilaimu, bagaimana? Mungkin ada kendala lain! Ceritakan dulu.”
Ditanya masalah nilai, ekspresi wajah Mamat langsung berubah. Ia jarang peduli hal itu. Jangankan ngurus nilai, masuk kuliah saja ia jarang. Uang untuk bayar semesternya sering ia pakai untuk foya-foya. Ia sering beli alkohol untuk mabuk-mabukan bersama kelompoknya.
“Nanti saya cek semua dulu nilainya, Pak.”
“Kalau ada kendala kabarkan.”
“Baik, Pak.”
Selesai bicara dengan Bapaknya Mamat berbaring telentang di atas kasurnya. Ia tatap langit-langit kamarnya dengan pikiran yang kosong. Tak tau apa nasibnya di hari esok, ia pasrah pada kelalaian yang sudah menggunung.
Di rentang waktu yang berubah pada pagi yang masih cerah, Mirna semakin kurus dan jerawat di kedua pipinya semakin merah. Postur tubuhnya semakin berubah namun persoalan nilai dan judul skripsinya tetap mengawang. Di semester akhir teman-teman seangkatannya sibuk menyediakan acara wisuda, ia hanya repot memelas jerawat yang berkembang di wajahnya. Daging pipinya yang mengembang kini kempes, begitu juga kulit putih-mulusnya terlihat gelap. Keriput nampak menghina ketakberdayaannya. Ketika ia mengabarkan pada orang tuanya bahwa belum bisa selesai kuliah sesuai janjinya, tidak ada jawab panjang yang ia dapat. Orang tuanya hanya mengucap, “Sudahlah.”
Mahmud seorang aktivis gerakan dipanggil pulang secara paksa oleh orang tuanya, setelah berusaha banting-tulang menyelesaikan skripsinya yang berujung gagal. Tiba di kampung ia menjadi lelaki pendiam, hanya pergi ke sawah saja selain di rumah. Tak pernah kumpul dengan teman-temanya seperti biasa, sebab ia mulai mengerti rasa malu dan arti kekalahan. Dan orang tuanya tak lagi berhasrat melanjutkan kuliahnya, bapaknya hanya bicara jika ada yang perlu disuruh saat bekerja.
Munira mahasiswi cantik yang diajak dosenya keluar makan malam untuk menebus nilai masih sibuk menilai dirinya di depan cermin. Ia belum memberi lampu-hijau tentang tawaran dosenya. Ia penuhi waktunya untuk berkhayal tentang pasangan hidup di masa depan. Di benaknya terlintas ingin menikahi seorang polisi yang ganteng dan berpangkat tinggi supaya bisa mempermudah persoalan yang akan dihadapinya kelak, tapi pikiran itu segera dibuangnya karena mengenang seorang polisi yang berbadan gendut pernah menilangnya.
Di ruang yang lain dalam dentangan pilu, saat bintang bernyanyi dan bulan berdansa, Mina merengek sendiri meratapi luka yang bertambah membengkak. Ia menanggung sendiri resiko pertautan nafsunya  dengan seorang lelaki yang ia percaya, kini semakin berat. Kehadiran lelaki yang ia percaya semakin absur, dilain sisi perutnya membesar mengikut perpindahan hari demi hari. Tapi ia telah teguh untuk tetap sendiri saja, tak peduli ia akan menghadapi maut dalam menuntaskan penderitaannya.
Di kamar yang misterius, Mamat ditemukan oleh tetangganya berbaring lemas, mulutnya mengeluarkan busa, sisa pil masih ia genggam. Ia hanyut dalam over-dosis, menempuh jalan yang sunyi yang mengerikkan. Jalan yang terjal dan lorong sempit yang gelap mengantarnya ke panggung maut yang di jemput zikir malaikat dan tarian para iblis.
Cahaya bulan hari kemarin dan hari ini sama saja terang dan menempati langit, begitu pula matahari yang bersinar setiap siang tiba. Hidup bukan saja masalah bulan dan matahari, siang dan malam, hal itu tak ada yang berubah. Tetapi yang harus dimaknai sesuatu yang membekas pada setiap inci lintasan waktu. Itu pasti ada dan sangat nyata. Bagi manusia yang tak mampu menangkap tanda yang membekas itu maka nilainya selalu nihil, berlalu saja mengikuti cahaya bulan dan matahari yang saling menukar kesempatan.*****




Yang Tak Membenci Angin


    Oleh: Aruel Sederhana

 Aku adalah lembar yang tertiup hembusan angin, jatuh dihempaskan, tenggelam di antaranya hingga remuk tertelan bumi kemudian hilang. Tak satu pun yang akan mengenangku, itu pun jika aku dikenang. Itu akan kualami jika aku lemah, tak mampu bertahan, tak mampu mengenggam asaku di tempat yang menahanku. Namun jika aku kuat, aku mampu bertahan pada tempat itu, mampu menikmati hidupku lebih indah lagi, lebih baik lagi, lebih leluasa, lebih nyaman.

“Kau masih bisa bertahankan? Tetaplah di situ, pasti kamu lebih kuat.” Dahan yang kutinggali bertanya padaku. Ya, hanya dia yang selama ini menemamiku, memberikan dukungan padaku, membuatku bertahan berada di antara mereka yang membenciku bahkan mencoba untuk menyingkirkanku, hanya karena satu ambisi--kekuasaan.

“Ya, aku harus selalu di sini hingga kapan pun, hingga menua. Meskipun sekarang aku tahu akan ada hembusan angin yang bisa kapan saja membunuhku.” Aku menenangkan hati, dan benar kata dahan, aku harus kuat.

“Hahaha, sampai kapan? Kamu tinggal menunggu waktu, sebentar lagi kamu akan menua kemudian terjatuh melebur bersama tanah, tenggelam kemudian hilang.” Daun di dahan lain menertawaiku. Yah, entah karena apa mereka membenciku, padahal dari pertama pohon ini tumbuh, kami bersama-sama bahkan kami berjuang bersama memberikan motivasi pada pohon ini untuk bertahan, namun tak kusangka hanya karena kesalahan kecil, perubahan sikapnya padaku sekarang sangat luar biasa.

Mereka membenciku, meskipun pernah kuucapkan maaf pada mereka. Namun benar, satu kesalahan akan menghilangkan arti seribu kebaikan. Ibarat sebuah kertas putih yang dititik pena. Semua mata akan memperhatikan titik pena itu tanpa peduli banyaknya warna putih di sekelilingnya.

“Mengapa kau berkata seperti itu? Bukankah kita akan sama? Bukan hanya aku, kamu juga, kamu hanya menunggu waktu sampai kita sama-sama menua, jatuh lalu hilang tertelah bumi, iyakan?” Aku mencoba memotivasi hatiku, dan memang benar dengan apa yang kukatakan, kami hanya menunggu waktu, dan itu benar.

“Hahaha jelas tidaklah, kita berbeda, aku kuat, tidak mudah menjatuhkanku, kalau tua iya. Aku juga akan menua, tapi kamu harus tahu aku lebih kuat darimu. Buktinya sekarang kita berada di tempat yang berbeda, aku lebih tinggi darimu, lebih lebat, lebih kuat, dan lihatlah aku lebih hijau.” Sebuah kesombongan, yah benar ucapannya kali ini adalah sebuah kalimat kesombongan, angkuh.

Dia melupakan dirinya, dari mana dia berasal. Ini yang selalu ada di antara kita, di saat kita di atas terkadang kita lupa dari mana kita, siapa yang menemani kita dari awal dan siapa yang ada di belakang kita? Hanya karena kita berada di tempat yang beda, dengan mudah kita melupakan semuanya.

Harusnya kita menengok ke belakang, berterima kasih pada masa lalu yang telah mengajarkan kita banyak hal. Apalagi perihal kesalahan, sesungguhnya masa lalu adalah hal terbaik untuk memperbaiki kesalahan yang pernah kita lakukan. Bercermin tentang kesalahan-kesalahan kita kemudian mencoba hal yang baru di masa depan. Terima kasih masa lalu.

“Mengapa kamu berubah sekarang? Kamu benar-benar berbeda. Tidakkah kau ingat dulu masa di mana kita berjuang untuk mempertahankan pohon ini? Kau lupakan itu? Ingatlah kejadian itu?” Aku mencoba mengingatkannya tentang masa kemarin.

“Tak usah mengungkit masa lalu, kita ada di masa sekarang. Masa lalu hanyalah bayangan kelam yang tidak ada artinya.” Daun itu marah padaku, jelas kamu ingin melupakannya, sebab masa kemarin kamu jatuh terlalu dalam bahkan untuk tersenyum pun kamu susah. Aku heran juga, sebenarnya apa yang ada di pikiran daun itu? Bukankah kami hanya selembar daun? Itu betul, tapi apa yang dia pikirkan, mengapa dia sesombong itu? Ah aku lupa, iya betul. Siapa pun akan berubah karena hal ini. Yah kedudukan dan pangkat. Jika kamu sedang menikmati pangkat yang lebih tinggi, hati-hati kamu akan dengan mudahnya merasa di atas lalu melupakan siapa dirimu sebenarnya. Ini fakta. kecuali bagi hamba yang baik iman dan takwanya.

“Tunggu dulu, jika kamu benar-benar kuat, apakah kamu mampu bertahan?”
“Iya mampu, itu sudah jelas, sebab kehilanganku akan mengurangi indahnya pohon ini, kamu harus tahu itu.”

“Lantas, mengapa kamu masih penuh dengan kesombongan.”

“Hahaha, pertanyaan apa itu? Lihat dirimu, kamu di bawah sana, apa yang kamu bisa? Hah? Menggelantung pada dahan yang kecil, tidak lama lagi dia akan rapuh kemudian kalian akan jatuh melebur ke dalam tanah, lalu hilang tanpa jejak, dan kau takkan dikenang, itupun kalau mungkin dikenang, hahaha”

“Sungguh sebuah kalimat kesombongan, namun terima kasih karena beberapa pernyataanmu sekarang sudah mencerminkan siapa kamu sebenarnya.”

“Berhenti berdebat, kalian sama saja, siapa yang berani menjamin kita bisa hidup lama di sini? Tidak ada, dan tidak pernah ada. Aku dahan yang kalian tinggali belum tentu selamanya di sini. Akan datang hari di mana manusia memangkasku untuk sesuatu hal, entah aku sengaja dipangkas untuk menambah cantik pohon ini, atau aku ditebang untuk digunakan dikeperluan lain.” Benar yang dikatakan dahan, kini aku dan daun di tangkai atas hanya mampu terdiam. Aku ingat betul bagaimana pohon di samping kami waktu kami kecil dulu dipangkas beberapa dahannya. Kata mereka menghindari pertumbuhan bercabang sehingga pohon itu akan tumbuh lurus saja.

“Mengapa kalian diam? Mau berdebat lagi? Kalian harusnya sadar, kita hanya bisa mengikuti keinginan kita tanpa bisa berbuat lebih, mensyukuri yang kita punya adalah yang lebih baik. Sekarang kalian lihat ke bawah sana, lihatlah banyaknya daun yang berubah warna, banyaknya daun yang berjatuhan. Apakah mereka tidak mensyukurinya? Apakah mereka menyesalinya? Tidak, mereka justru bersyukur karena mereka mampu membuat tanah subur dan menjadi pupuk untuk pohon yang pernah mereka tinggali, mereka adalah hamba-hamba yang tidak membenci angin, mereka selalu bersyukur, tidak seperti kalian berdua.” Kalimat panjang dari dahan semakin menyadarkanku. Iya, aku harusnya bersyukur, bukankah jika aku mengeluh maka aku akan sama saja dengan mereka.

“Daun maafkan aku!”

“Iya daun, aku juga minta maaf.” Betul, setidaknya sekarang aku paham, aku tersenyum sambil tetap kubiarkan tubuh ini bergoyang dihembus angin.

Kutatap ke bawah, yah hanya perihal waktu, entah esok atau kapan aku akan seperti mereka--menua kemudian jatuh, lalu melebur bersama tanah kemudian perlahan menghilang. Setidaknya aku tidak pernah membenci angin. Semoga kalian juga tidak.

Sungguminasa, 04 April 2015

Aruel Sederhana, Lahir di salah satu kabupaten di Sulsel, menyukai sastra dan teater. Ia lelaki perindu yang setia. Alumni Bahasa dan Sastra Indonesia Unismuh Makassar. Anggota paling andalah di Komunitas Bassi.

Januari, Bulan Luka Parah (3)

Adakah yang lebih tergesa pergi dan tiba selain waktu??

Pertanyaan itu terus saja tumbuh di kepalanya beberapa hari ini. Membuat keningnya kerap berkerut. Jawaban dari pertanyaan itu tarik ulur. Ia kadang malas memikirkan pertanyaan serupa itu, tapi jika itu berhubungan dengan kamu, ia tak punya alasan maka dengan ikhlas akan memikirkannya.

***

Kemarin, ia hanya berhasil menulis yang di atas itu. Bukan karena apa-apa, tapi ia melakukan beberapa hal. Ketika ia bangun pagi, dua orang adikmu (sepupumu) telah menyita waktunya untuk bermain.

Tak ada sempat menulis tentangmu, sebab arah langkahnya selalu saja diikuti, seperti kamu dulu. Bermain dengan kedua sepupumu itu, bukanlah upaya lari dari ingatan tentangmu, tapi ingatan itu kian tumbuh subur. Kisahnya bersamamu seakan terulang.

Ia kerap berpikir untuk menjadi Stillman dalam film Time Freak di mana ia bisa menciptakan mesin waktu untuk mendapatkan kesempatan kedua. Jika ia bisa melakukan itu, ia tak akan menunda kepulanganmu, tak akan, sebab itu telah jadi jalur takdirmu, yang akan ia lakukan adalah menghabiskan lebih banyak waktu bersamamu.

Bukankah waktu yang paling berharga bukanlah waktu yang banyak dan panjang, tapi waktu yang bisa dimanfaatkan dengan baik. Maka memanfaatkan waktu yang singakt itu bersamamu dengan berbagai kecerian tentu akan menjadi hal yang paling bunga.

Kualitas moment tak ditentukan seberapa banyak waktu yang dipakai, tapi seberapa banyak upaya untuk membuat setiap waktu berharga. Ia ingin, jika saja bisa seperti Stillman untuk memanfaatkan semua waktunya untukmu.

Ia percaya bahwa bukanlah waktu yang lama dan panjang yang mengubah banyak hal. Tapi, hanya waktu yang singkat, mungkin hanya dalam hitungan jam, menit atau bahkan detik.

Malcom, yang tak memiliki menit bermain banyak bersama Barcelona, karena Valverde kurang percaya padanya, hanya butuh waktu dua menit untuk membuktikan dirinya layak jadi pemain yang diandalkan ketika masuk sebagai pemain pengganti saar Barca melawan Inter Milan di Liga Champions. Ia mencetak gol.2

Ia kini sedang memikirkan pertanyaan pada awal tulisan ini. Kamu datang serasa sangat lambat, tapi pulang dengan sangat tergesa. Ia merasa waktu tak cukup untuk kebersamaan itu. Waktu datang dan pergi dengan temali yang tak bisa dipegang selain kenangan di dalamnya

Rumah Kekasih 3-4 Januari 2019



Januari, Bulan Luka Parah (1)


Jam dua belas malam lewat dua puluh delapan menit ia keluar rumah. Tahun 2019 baru berumur dua puluh delapan menit. Suasana kota Makassar masih sangat ramai, bekas petasan berserakan di jalan. Pengendara motor banyak meraung-raungkan motornya, banyak pula di antara mereka yang tak pakai helm. Beberapa polisi yang berjaga abai saja. Membiarkan pelanggaran itu.


Ia mengendarai motornya dengan sangat pelan, seorang lelaki ia bonceng. Tangannya sisa keseleo ketika pulang kampung beberapa waktu lalu belum sepenuhnya pulih. Ia memperhatikan semua yang bisa diperhatikan untuk lari dari ingatan tentangmu.


Detik-detik pergantian 2018 ke 2019 mengisyaratkan satu hal, pulangmu semakin lama, kenangan perlahan memudar, tapi baginya kenangan tentangmu tak pernah ingin pergi. Kau segala yang menjadikannya remuk retak dengan pergimu di anuari.


Sejak saat itu (2016) J22anuari baginya adalah bulan luka parah atau bulan yang membuatnya luka yang tak sembuh-sembuh di hatinya dan juga pada seluruhnya, meski ia tahu, kepergian itu adalah hal yang semua orang akan alami, pulang pada titik datangnya.


Ini akan jadi tulisan pertama, hingga tangga dua puluh delapan nanti, tanggal di mana kamu berhasil melukainya di bulan Januari. Kau pasti tahu, ia kerap merindukanmu, membayangkan kau telah tumbuh dengan cantik yang membuatnya akan was-was tentang semua hal yang bisa merapuhkanmu, membuatmu layu.


Saat keluar rumah, ia tak menyadari jika usia tahun 2019 baru dua puluh delapan menit, angka di mana kamu akhiri semua urusanmu di dunia yang mulai karatan ini. 


Rumah kekasih, 1 Januari 2019


Januari, Bulan Luka Parah (2)


Ada bulan kedatangan dan kepulangan Ada tempat kedatangan dan juga tempat untuk pergi. Dan sepertinya semua hal diciptakan dengan berpasangan. Pasangan bukanlah yang menciptakan hal yang sama, tapi yang membuat sesuatu yang berbeda. Pasangan serasi adalah yang berbeda agar saling mengisi.


Kau datang di Desember dan pulang di Januari. Bulan tibamu adalah suka cita dan bulan pulangmu duka cita. Suka dan duka dua kosa kata kata yang hanya berbeda huruf awalnya, tapi memiliki makna dan dampak yang sangat berbeda. Yang diawali S (suka cita) selalu bertabur senyum, ceria, bahagia, dan awalan D (duka cita)...aahh, tak perlu ia jelaskan. Semua orang berdoa agar terhindar darinya, dan semua doa pada akhirnya akan gagal


Ia selalu menyukai Desember bukan karena hujannya atau karena akhir perjalanan sebuah hitungan waktu, tapi karena di bulan itu kau datang bersama tangis dan senyum mungilmu di sebuah RS tak jauh dari kota Makassar. Dan ia benci Januari bukan karena hitungan waktu kembali dimulai, tapi karena di bulan itu kau memilih pulang lebih awal dari waktu yang diharapkannya.


Dulu, ia selalu berpikir kau pergi, tapi kemudian ia sadari bahwa kau tak pergi, tapi pulang. Pergi dan pulang dua hal yang berbeda. Kata pergi baginya memiliki makna yang sangat menghentak dan menyakitkan, maka ia kemudian memilih pulang, sebab kamu pernah datang pada sebuah tempat yang rahasia dan kau akhirnya pulang ke tempat asalmu. Ia lakukan itu untuk berdamai dengan luka dukanya, meski tak pernah benar-benar berhasil.


Semua ingatan tentangmu selalu saja basah, kemarau tak pernah mengeringkannya. Tapi, apa yang bisa ia lakukan selain belajar berdamai dengan kenyataan itu, bahwa kau benar-benar telah pulang dan ia mengiringi kepulanganmu dengan air mata, bahkan hingga saat ini. Dan ia telah berjanji akan menulis banyak hal tentangmu, sebagai kenangan dan juga bukti cinta.


Banyak yang mengatakan bahwa bukti cinta yang paling kuat adalah doa, tapi ia ingin menambahkan bahwa bukti cinta yang kuat selain doa adalah tulisan. Kedatanganmu ke dalam hidupnya tak lama, hanya lima tahun dua puluh empat hari. Kau datang dengan senyum mungil menggemaskan di sebuah siang dan pulang dengan beku kaku pada malam Jumat.


Januari baginya (sejak pergimu) bukan hanya awal sebuah perjalanan tahun Masehi, bukan hanya harapan dan doa-doa banyak dilantunkan demi kebaikan nasib, tapi juga awal luka nganga di hatinya yang tak ingin sembuh, tak ingin sembuh, ya tak ingin sembuh, meski berkali-kali telah diobati...


Rumah kekasih, 2 Januari 20181


Perjalanan Menuju Tabir


Puisi-puisi Damar I Manakku


Perjalanan Menuju Tabir


Mendengar kisah berlalu dari Tambo, tentang perempuan bermukim di bukit rindu yang layu. Jelitanya terhuyung di dalam gadang dengan kaca penantian, gadis berparas yang hanyut pada pelukan harapan.


Ingatkah tentang bumi yang lebih paham mengabarkan lewat mulut Kaba dibanding suara tanya perempuan berkulit sawo berdandan anak daro dengan mata basah? Isak terdengar dari rintihan rindu tanpa isyarat.


Perjalanan ini tak sekadar menghabiskan tenaga, lelaki ini baru saja keluar dari sangkarnya, bertualang menuju pencarian jawaban dari rahasia-rahasia kehidupan ranah Minangkabau.


Kota Padang, Juli 2018


---------------


Di Tubu Puisiku adalah  Jalan Kembaraku


Dua buah gunung antara Singgalang dan Marapi telah riuh kabutnya, di tengahnya rumah-rumah puisi berkhias bunga dan buku, inilah tanda bahwa tempat ini adalah rahim lahirnya para pecinta.


Akulah lelaki dari timur matahari, mengejar zikir pada ingatan dan hati, tibalah kaki kembara ini di ranah Minang yang diasuh oleh Mande, tempat surau memeluk tubuh.


Di tubuh puisiku adalah jalan kembaraku, kisah pertautan antara timur dan barat menjadi jalur undangan datang dengan penuh rindu, dari mata yang rimba dan pulang pada rimbun kisah yang kututurkan pada mereka, Kita memang Dun Sanak..


Padang Panjang, 17 Juli 2018


-------------------

Menemukan Hayati


Diperantauanku, ini kali pertama kukunjungimu dengan sungguh, kau harus tahu, bayangan kisahmu selalu bertualang dalam ingatan


Lubuk Linggau, SUMSEL 2018


----------------


Jangan Biarkan Aku Terbelenggu Bagai Burung dalam Sangkar


Kemarin, dari adat yang mengubur mimpi, segala piutang pada hati telah reda. Kebaikan pada siapa


--------------


Daeng Mabella

(Kisah Lelaki Makassar Berjuang di Bengkulu)


Kusengaja merenung di balik dinding benteng Marlborough, dari surat kabar yang melayang menuju bisikan, aku terima bahwa seorang lelaki dari tanah timur matahari telah mendaratkan perahunya di tepian pantai panjang


Seringkali berita tanpa pewarta berbisik di hati yang masih sunyi, aku mendaras bisikan itu sampai tiba pada cerita perangai lelaki Makassar tanggalkan halaman dan berlayar tanpa peta


Wahai Daeng Mabella, panglima yang mangkat dari jabatan, lelaki maha dari timur matahari menggulung tiga jenderal inggris, kupanggil namamu sejak amukan pantai samudera indonesia, kabarnya engkau adalah anak Daeng Maruppa, lelaki perkasa yang melihat cahaya di balik kegelapan

Lelaki yang Menolak Dicintai



Oleh: La Ndolo Conary

Di salah satu malam,Dawan terbangun jam dua dini hari. Ia tertidur setelah orang-orang pulang sholat Isya di masjid. Kondisinya kurang sehat sehingga sudah beberapa hari tak menjalankan aktivitasnya sebagai buruh bangunan di kampung-kampung. Malam itu ia menjerit kesakitan, ia tindis perutnya dengan ujung jari, sakit perutnya bertambah parah, keringat di keningnya mulai bercucuran, matanya tak bisa melihat secara jelas benda-benda di sekitarnya. Dalam kamar yang sempit, ia hanya mampu mengeluhkan segala derita kepada tembok dan beberapa helai pakaian yang tergantung. 

Dua tahun terakhir ia memang sering sakit, tubuhnya sangat kurus, urat dan tulang sangat mencolok, kalau jalan badannya merunduk.  Sejak umur lima tahun, Dawan telah ditinggalkan oleh ibunya yang pergi menjadi TKI di Malaysia, tetapi hingga kini ibunya tak ada kabar. Ia pasrah saja dengan keadaan yang menimpahnya, menyendiri menjalani hidup sebagai anak yang tak jelas ayahnya. Ia tak pernah bertanya pada ibunya tentang seorang ayah, sejak kecil hanya sosok seorang wanita saja yang ada di rumahnya.

Selama ibunya pergi, ia sering numpang makan pada pamannya atau di rumah teman sebayanya, kadang ia membantu pekerjaan orang sekedar mendapat upah sesuap nasi. Dan, pada usia dua belas tahun ia mulai hidup mandiri, bekerja keras untuk bertahan hidup.

Suara ayam yang berkokok di rumah tetangga terdengar, sebentar lagi subuh akan tiba, rasa sakit terus mengendarai tubuhnya. Ia memaksa bangun dan berjalan ke dapur untuk melihat sesuatu yang bisa dimakan, tapi tak ada apa-apa yang bisa dicicipi, kosong dan nihil. Kecuali air putih dalam ember kecil, secepatnya ia meneguk segelas air untuk menawar rasa lapar.

Ia menarik nafas dan kembali berbaring, tanpa ia sadari air matanya tumpah. Perihnya tak mampu lagi dibendung, ia sangat sedih mengingat liku-liku perjalanan hidup yang tak kunjung membaik. Di usianya yang dewasa, dua puluh tiga tahun masih saja hidup terlunta-lunta. Walau pun demikian deritanya, ia tetap semangat seperti kebanyakan orang dan telah tamatkan sekolah menengah atas. 

Matanya tertutup, bibirnya ia gigit, tangannya masih melilitkan perut. Dawan merasa tak berdaya menghadapi rasa sakit. Kepalanya pusing-pusing, badan terasa pegal-pegal, dan rasa lemas menggerogoti seluruh tubuhnya. Ia menanti azan subuh di masjid yang belum juga bunyi, baginya azan subuh semacam lonceng hidup karena pagi akan tiba dan cahaya harapan tertatap. Walau sekadar untuk mendengar suara orang-orang yang mondar-mandir di depan rumahnya. 

Ia melihat jam di handphone, tertulis angka 03.25, “Ahh, masih lama,” keluhnya yang tak berbunyi.  Wajah ibunya terbayang dalam gulita yang sepi, ia ingat masa kecil yang dimanja walau selalu meratapi kemiskinan, 

“Mungkin itu bahagia yang sering disebut orang-orang,” ia coba terjemahkan realitas dalam pikirannya. 

Sebab, di usia yang tergolong dewasa, ia masih sulit memahami arti kebahagiaan, dari kecil hingga kini ia tak pernah mampu memiliki seperti yang dipunyai oleh teman-temannya. Tak punya motor, pakaian saja hanya beberapa lembar dan bisa beli baru butuh waktu tahunan, rokok dibeli perbatang atau numpang kerelaan orang lain, kalau ada uang hasil buruh cukup untuk mendapatkan beras agar bisa kenyang lebih dari sehari.

Wajah yang tampan, kulit sawo, tinggi seratus lima puluh, murah senyum, akrab dengan banyak orang, penyabar, dan badan terlihat kurus, sehingga membuat wanita seusianya mengagumi. Titian, wanita di kampung seberang sangat mengagumi Dawan. Saat duduk di kelas dua SMA, Titian sudah meliriknya, hampir tiap hari di sekolah Dawan menjadi perhatian khusus. Dan, kini Titian masih menyimpan rasa yang sama, walau waktu sudah melompat berkali-kali. Titian sudah menjadi mahasiswa dan sedang berjalan semester lima di salah satu kampus di kotanya. Ketika libur semester, ia sempat bertemu dengan Dawan di pantai gusar, mereka saling bercakap tentang isyarat mata dan debar hati;

“Sakit?” tanya Titian ketika melihat Dawan yang makin kurus.

“Bagaimana kabarmu? Kau makin cantik,” Dawan memujinya, tanpa menjawab pertanyaan Titian.

“Baik. Tak ada yang berubah.”

“Bahagia bisa melihatmu tersenyum. Sebuah tulisan yang kau titip buatku dulu masih kusimpan, kunikmati baris tuturmu yang jujur itu.”

“Benarkah?” Titian tak percaya kalau ungkapan kekaguman di secarik kertas itu masih diingat, tapi tak pernah dibalas.

“Kenyataanya begitu.”

“Lalu?,” Titian penasaran.

“Tak bisa.”

“Ada orang lain?” Titian menelan rasa kecewa.

“Tak ada.”

“Mengapa?”

“Apa yang kau harapkan padaku?”

“Mengertilah yang kutulis dulu. Terima pengakuan yang jujur itu, kemudian bersamalah saling menggenggam kasih yang utuh,” Titian memandikan harapan pada debur ombak yang manja di pantai gusar itu.

“Serumit itukah?” ujar Dawan spontan, ia menatap langit kemudian melihat pohon yang berdamai dengan angin.

“Haaa,” Titan kaget, ia menatap wajah Dawan dengan keheranan. Tak disangkanya hal itu itu dianggap rumit. Baru ia rasakan ada lelaki yang menganggap sulit hanya karena diminta menerima rasa cintanya. “Lelaki macam apa ini?” amarah memanas dalam  hatinya.

“Aku hanya mampu mencintai angin yang sejuk tapi tak nampak. Aku hanya mengagumi matahari dan bulan yang terang tapi tak pernah menyakiti. Aku hanya senang pada laut yang kadang membahayakan tapi tak menakutkan. Aku hanya menyukai malam yang menakutkan tapi tak membunuh. Setelah itu, aku hanya mencintai kematian yang ditakuti tapi abadi,” kata Dawan sambil melemparkan kerikil ke laut. Ia tak menatap wajah Titian saat berbicara.

“Sudahlah. Aku juga hanya meminta pada hati yang punya kelapangan untuk sebuah harapan dan impian. Tak pernah kuharap matahari muncul pada malam atau bulan pada siang, aku juga tak pernah berniat menanam pohon di samudera luas. Tentu, itu semua mustahil terwujud,” Titian kesal, ia tenggelamkan rasa sukanya yang berlebihan itu.

“Tak ada masalah,” jawab Dawan tanpa peduli.

Titian bergegas, ia lebih dulu tinggalkan Dawan di pantai gusar itu, ia sangat sedih mendengar jawaban itu. Ia menyimpan rasa cinta pada Dawan sudah tiga tahun dan tak ada sedikit pun bergeser, tak peduli kalau Dawan lelaki yang miskin dan tak jelas orang tuanya, tak pernah ia pikirkan kalau lelaki itu hidupnya melarat seperti gelandangan. Ia terlanjur mencintainya dalam waktu yang lama sebagai tonggak ujian kesetiaan yang sunyi, namun tak dipahami oleh Dawan.

Lalu, benarkah Dawan tak mencintai Titian? Dalam detak jantung dan getar hati yang tulus, Dawan sangat menyukai wanita itu. Disaksikan oleh bulan saat di malam yang retak, ia selalu membayangkan beberapa wanita, baik yang disukainya secara sembunyi-sembunyi maupun wanita yang pernah mengutarakan perasaanya secara langsung. Ia pun ingin hidup seperti orang lain, mencintai dan dicintai, tapi setiap keinginan itu akan dituntaskan selalu saja hatinya menolak.

“Tidak bisa,” kata yang sering muncul di hatinya. Ia merasa tak seorang pun yang benar-benar tulus, baginya sudah cukup hinaan orang-orang di sekitarnya. Ia tak ingin seseorang yang dicintainya suatu saat akan menyakiti atau membuatnya kecewa baik melalui kata-kata maupun sikap, maka dari awal ia membantai perasaanya sendiri. Ia kubur dalam-dalam tentang perasaan mencintai itu, dikeringkan hatinya untuk menerima basuhan kasih sayang dari seorang wanita. Setiap ulur tangan kasih sayang seorang wanita dihempaskan begitu saja, sendiri menyiksa diri lebih mulia dari pada membiarkan orang lain mencabik perasaannya, ia lebih rela melukai diri sendiri. Membunuh perasaanya sendiri.

Ketika malam diacuhkan oleh bulan dan bintang, Dawan duduk bersandar di teras rumahnya, ia menonton orang yang berjalan dan anak-anak yang masih bermain. Beberapa nama wanita yang ia kenal terucap dalam hatinya, “Lilis, Mami, Ratu, Misnah, Maya, ….,” ia berhenti saat mendengar ucapan, “Bajingan,” suara itu muncul mendadak dari rumah tetangganya.

“Bajingan. Binatang,” kata-kata itu semakin keras.

“Diam,” suara lelaki membentak.

“Aku sudah cukup sabar tapi kau tak peduli. Aku minta diceraikan saja dari pada tanggung sakit hati dan dibohongi terus,” wanita itu semakin memuntahkan amarahnya.

“Dasar wanita yang tak punya rasa syukur.”

Suara teriakan semakin kencang, suara barang-barang yang  dibanting bertambah ramai. Wanita itu teriak berkali-kali sambil menangis, semenit kemudian keluarlah lelaki yang bertubuh kekar berjalan menjauh dari rumahnya.”Bajingan kau,” wanita itu sempat mengantar dengan kata makian. Dawan merasa ngeri mendengar dan melihat peristiwa itu, sesuatu yang sulit ia pahami dan tak pernah diharapnya. Seketika hatinya sesak, ia bayangkan kepedihan dan kesedihan ibunya yang dicampakan seorang lelaki, hinggi kini belum ia melihat raut wajahnya.

Ia ingat Ririn, wanita cantik berkerudung. Lulusan pondok setahun setelah ia taman SMA, Ririn menyukainya karena cara hidupnya yang sederhana. Bagi Ririn sesuatu yang istimewa, lelaki yang serba kekurangan tapi tetap bisa jujur. Selama ini yang sering nakal dan mencuri di kampung dari kalangan orang yang hidupnya berkecukupan. Sangat beda dengan Dawan, “Tapi sayang, dia sulit ditebak,” gumam Ririn mengingat sisa percakapan dengan Dawan.

Pada waktu yang gegabah, Dawan berkata;

“Aku lebih takut dicintai dari pada mencintai, sebab mencintai itu upaya memberi tapi dicintai harus ada kesiapan menerima. Menerima tak cukup menampung pemberian melainkan ia harus bertanggungjawab dan merawatnya. Aku lelaki yang hidup tanpa kekuatan untuk dicintai.”

“Aku ingin kau pahami,” pinta Ririn.

“Aku sudah tak punya hati untuk mengerti. Telah kucabut dan dibiarkan mengelana seperti binatang buas, biarlah akan menemui segala keganasan di hutan, di gurun, di lembah, dan mungkin ia kembali tak seperti hatiku sebelumnya. Hati itu bisa berubah wujud, jadi binatang, jadi batu, jadi pohon kering. Jadi bagaimana aku harus memahami?” tuturnya.

“Tak kuminta apa-apa,” lirih Ririn.

“Kau mencintaiku sama halnya meminta.”

“Kotorkah rasa sukaku padamu?”

“Tidak. Tapi jangan kau letakan permata pada lumpur karena akan hilang keindahanya.”

“Sungguh beku hatimu,” hati Ririn meronta.

Dawan diam, ia langsung bergegas menjauh. Hatinya sudah ditikam puluhan kali oleh tangan dan belati yang ia asah sendiri. Wanita yang ia cintai dan mereka yang mencintanya selalu dirindunya, jika sunyi ia pun ingin ada wanita yang menemani menelerai semua kesepian. Setiap keinginan akan tetap berjalan jadi keinginan, sudah ia pasung hasrat ber-keinginan itu supaya tak sampai pada seseorang.

Azan subuh telah berlalu, pagi menerobos resah hiruk-pikuk anak manusia, Dawan di rumah sakit. Jeritan kesakitan tadi malam terdengar oleh tetangganya, setelah subuh ia dibawa ke rumah sakit dalam keadaan lemas. Hampir dua jam berbaring di rumah-sakit, belum juga ada dokter yang memeriksanya. Malah para medis banyak tanya tentang kelengkapan adminitrasi yang ada kaitan identitasnya, wajah para medis itu tak menunjukan rasa kemanusiaan. Ia menjerit kesakitan, matanya sudah tertutup dari tadi, kadang ia menggigil.

"kalau tak ada kartu apa-apa, kami tak bisa melayaninya." Seorang perawat memberi tahu kepada orang yang membawa Dawan

"Tolong bantu, Bu!”

 “Apa tak mendengar ucapan tadi, Pak!” perawat pertegas perintahnya.

 “Jadi, saya harus apa, Bu?” 

“Bawa pulang.”

 Lelaki yang mengantar Dawan ke rumah-sakit, melihat wajahnya yang memelas, keringat asin bercucuran di mukanya, air matanya terus menetes. Dawan belum menyadari kalau ia sudah tak di rumahnya lagi, ia sudah pasrah sebelum kehidupanya menyerahkan pada maut. Jangankan kartu sehat atau sejenisnya sebagai tanda ia pernah hidup di negeri ini, tak ia miliki, nama seorang lelaki yang menitip kepalanya melalui rahim wanita yang hilang, itu belum juga ia tau. Ia hanyalah seonggak daging yang berjalan, mungkin wajar mata pendataan kepedulian luput dan lupa memasukan namanya. 

“Ya Allah,” suara yang patah terdengar dari perihnya. Dawan temui hatinya yang liar itu, kini sudah kembali dari kelana yang lama. Segala rimba gelisah dan derita berdarah telah tunai. 

 “Armiati,” Dawan memanggil nama perempuan yang meninggalkannya saat usia lima tahun. Ia hanya membuka mata sejenak, entah melihat apa. Gelap menyelimutinya.***
.................
La Ndolo Conary, lahir dan menetap di Bima. Buku puisinya Tuhan Tergadai telah beredar luas. Ia menyukai sastra dan petualang





Malam yang Hilang di Sebuah Kota

Ini hari yang terasa lebih panjang dari biasanya. Ia bosan mondar mandir dari kamar ke ruang tamu, ke dapur, ke ruang tamu, ke kamar. Begitu saja hingga sore ini.


Sedari pagi ia telah siap keluar rumah, tapi hujan datang dengan amat manja, berhenti saat siang hari. Jas hujan yang bisa menghuni sadel motornya sedang dipinjam seseorang. Meminjamkan pada yang lebih membutuhkan tentu jauh lebih baik. Dan ia dengan tabah menunggu hujan reda.


Saat hujan reda, acara yang akan dikunjunginya telah bubar. Ia batal keluar rumah. Tinggal di rumah seharian bukanlah hal baru baginya. Apalagi saat laptopnya belum rusak, ia lebih suka menghabiskan waktunya di rumah, akan keluar ke tempat teman atau warkop saat usai salat isya.


Dua minggu  ini, laptop itu rusak. Tak ada yang bisa dilakukan selain mencari laptop baru, tapi laptop rusak berarti laporan rekeningnya juga akan malas berbunyi (ini terlalu dramatis, kamu boleh tidak mempercayainya)


Rasa bosan itu sangat berbahaya, ia bisa sampai di kepala lalu membuatnya pening. Rasa bosan bisa pula tiba dengan cepat ke hati lalu membuatnya galau dan terasa hampa. Bosan adalah penyakit yang berbahaya. Ia sedang merasakan itu.


Namun, seberbahaya apa pun rasa bosan, bagi orang yang kreatif ia bisa menjadikan kebosanan itu jembatan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Sesuatu yang bisa mengalihkan pikirannya dari rasa bosan itu.


Ia sedang berpikir bagaimana keluar dari rasa bosan ini. Di kepalanya sedang tumbuh ide untuk melakukan hal yang pernah di sukainya dulu, berkeliling kota saat malam telah jatuh pada titik larutnya yang romantis.


Meski cukup sulit sekarang ini menemukan kenyamaman malam yang benar-benar sepi di sebuah kota, malam seakan telah kehilangan identitasnya, sakral, menakutkan, penuh mistik, sepi, gelap. Saat ini malam yang seperti itu telah kehilangan rohnya.


Ini hari yang terasa sangat panjang. Untuk pertama kalinya ia merasakannya. Media sosial tak mampu jadi hiburan, maka nanti malam saat sedang larut ia akan keluar malam, berkeliling kota mengendarai motornya dengan sangat pelan.


Ia tak perlu takut dengan malam, malam telah kehilangan rohnya sebagai malam, yang ditakutkan hanyalah begal dan genk motor yang bisa beraksi kapan saja, tak peduli malam atau siang. Barangkali roh malam yang gelap dan menakutkan telah pindah hati para begal dan genk motor itu...


Jika kau menemukan seseorang nanti malam, saat malam sedang larut sedang mengendarai motor dengan sangat pelan, barangkali itu adalah dirinya


Rumah kekasih, 13 Des 2018


Sekalipun



Puisi; Irhyl R Makkatutu

sejauh mana kau akan berjalan
dan puisi akan tetap mengikutimu
atau lagu kesukaanmu
yang kau nyanyikan di kamar mandi atau dalam hati

puisi dan dirimu, es buah di meja makan
sabun pencuci piring di dapur
tak ada tawar menawar
es buah harus bercampur dengan beberapa buah
dengan irisan kecil
dan sabun harus pula disirami air

di jalan dekat lampu merah
kau akan ingat
bahwa kelak kita akan singgah
memesan es buah
peluhmu membulir
siang itu, yang akan datang
kau akan menikmati pula mataku
dan aku menikmati rimbun alismu
pergilah sejauh bisamu

dan puisi akan terus mengikutimu
akan kau baca saat terbaring sendiri
atau saat merasa asing di tengah kota
puisi-puisi yang kuutus untukmu
tak pernah pulang
tak pernah
ia terus saja mengikutimu
temanimu, menemanimu
pada saat paling tak kau inginkan sekalipun

Makassar-Gowa, 7-12 Nop 2018