Lelaki yang Setia Pada Kenangannya


















Aku lelaki yang setia memelihara kenangan. Aku memeliharanya dengan cara yang tak lumrah seperti dilakukan para kekasih. Jika sepasang kekasih berpisah, kita akan menemukan caci, kecewa dan apa saja yang jadi penanda ketidakbaikan. Para kekasih yang telah berpisah akan mati-matian melupakan kenangannya, melupakan orang yang pernah menitipkan cinta dan luka di hatinya. Aku ingin katakana itu kekeliruan yang tak mesti lahir. Tak ada gunanya mencaci kenangan. Tak ada gunanya memungkiri kita pernah punya kenangan dengan para “bekas” kekasih itu.

Memelihara cinta berarti juga memelihara luka, begitupun sebaliknya. Mencintai tak harus dilihat dari sisi bunga-bunganya yang bermekaran di singgahi kupu-kupu. Mencintai harus melihat labirin-labirin pekat, ngarai-ngarai yang dalam dan jalan yang penuh kelokan. Mencintai serupa menyeruput kopi hitam pekat, pahit dan manisnya seimbang, rasanya enak di tenggorokan namun kadang membuat perut mulas. Cinta dan luka mempunyai satu lorong sempit yang tiap saat dilalui, keduanya berjalan bersisian, kadang bergandengan tangan. Namun kadang keduanya saling membenci. Aahhh kenapa aku mengurai cinta yang aku sendiri dibuatnya puyeng.

Pada tiap kenangan,  serupa buku-buku yang bertumpuk di rak, kadang yang paling di bawahlah yang kita tarik lalu dibaca. Kenangan serupa susunan pakaian di lemari. Setia menanti untuk dikenakan kembali. Dalam otak seseorang ada skemata yang selalu terbuka, skemata inilah yang akan mengabadikan dan mengantar kenangan. Aku tak tahu pasti skemata itu serupa apa, aku beberapa kali mendengarnya di sebuah pembelajaran pemerolehan bahasa.

Aku, bahkan tak pernah berniat melupakan kenangan kita. Itu satu-satunya yang kumiliki atas dirimu setelah pisah yang memabukkan. Pisah yang membuatku menyukai sepi, menyukai aroma malam yang tua. Menyukai aroma kopi yang mengepul. Aku jadi pembenci hiruk pikuk, bukan karena aku takut tersesat tapi aku tak leluasa menikmati kenangan kita dalam riuh. Riuhpun serasa adalah ejekan sepi yang merangkak lalu mencekik leherku. Ingin merampas napasku perlahan-lahan.

 Kekasih, mungkin akan ada banyak tanya, kamu siapa? Tentu saja aku akan melipat rahasia tentangmu. Tak akan pernah ada yang bisa menemukanmu selainku. Ada simbol-simbol kenangan yang telah mengeratkan kita. Sebuah nama yang disepakati. Jika seribu seratus tahun kemudian ada yang menyapamu dengan nama itu, tentu kau akan mengenaliku sebagai lelaki yang setia memelihara kenangannya atasmu. Karena kau tak akan menemukan sapaan itu dari lainnya, dariku saja.

Pergimu,…aahhhh aku benci mengatakan itu. Kau tak akan pernah pergi, kau akan selalu terlipat bahkan berkeliaran di taman-taman kenanganku. Jika saja kenangan kita tak di dominasi peristiwa-peristiwa batin, aku pernah bayangkan akan membuat sebuah gubuk di kampungku, lalu menyimpan kenangan itu di sana, hingga tiap orang yang kasmaran bisa menikmati kenangan kita. Tapi sayang, tak ada bukti fisik kenangan itu. Maka aku mulai belajar menulis. Aku ingin menulis tentangmu, tentang pertemuan, tentang pisah dan tentang kematian yang tak terduga.

Aku adalah lelaki yang akan selalu setia memelihara kenangan kita, menjaga rahasia kita. Dan aku lelaki yang selalu memelihara harapan tentangmu. Aku percaya sekecil apapun harapan tetaplah penting untuk dipelihara. Hidup tanpa harapan adalah kematian sesungguhnya. Aku masih disini, hingga seribu seratus tahun kemudian atau bahkan lebih, jika kau sempat berkunjunglah sekali lagi. Kau akan menemukan tubuhku penuh kenangan tentangmu. Kau akan dapati dinding rumah yang pucat melagukan namamu. Saat itu kau akan tahu, akulah kekasih terbaik yang dipilihkan cinta untukmu, sekaligus kekasih paling bodoh yang diperalat cinta…

Rumah kekasih, 17/12/2013