Maut Belum Jatuh Cinta

JEJARI...Kendaraan tidak terlalu padat, beberapa pengendara melajukan kendaraannya dengan kecepatan yang lumayan. Lampu merah masih menyala di perempatan jalan menuju ke Masjid Syeck Yusuf. Di depan Bank BNI Sungguminasa, Kab. Gowa, tidak terlalu jauh dari lampu merah, sebuah mobil warna hitam berhenti di sebelah kiri dari arah atas.

Saya mengendarai motor cukup pelan, apalagi ada mobil berhenti di pinggir jalan. Saya melewatinya sambil menurunkan kaki mencoba sepelan mungkin. Sekitar 5 meter di belakang saya, ada sebuah mobil truk berwarna kuning, entah muatannya apa. Saya menoleh ke belakang sejenak sebelum melewati mobil warna hitam yang terparkir itu.

Jaraknya aman, pikir saya. Setelah melewati moncong mobil hitam itu, sebuah hentakan keras dari belakang membuat saya kehilangan kendali. Motor yang saya kendarai jatuh, tapi saya tidak terjatuh dengan tubuh terbaring di aspal. Setir motor tidak lepas dari pegangan saya, suaranya meraung karena tanpa sadar saya menarik gas. Untungnya saya tidak terseret.

Saya tetap berdiri meski dengan tidak tegap dan berusaha mengangkat motor agar kembali berdiri seperti semula. Si karnet truk membuka pintu mobilnya, baju sisa kampanye warna putih bercampur biru terjatuh. Ia turun dari mobil, tapi bukan menolong saya yang kepayahan mengangkat motor yang tidur di aspal, tapi hanya mengambil bajunya.

Si karnet truk itu lalu kembali naik, sekilas saya dengar si sopir berteriak "tidak begitu caranya bos," saya tak menanggapi ucapannya, saya hanya tersenyum. Seorang lelaki paruh baya datang membantu saya "mendirikan" motor, barangkali lelaki paruh baya itu adalah pemilik mobil yang terparkir di pinggir jalan tersebut.

Saya tak terlalu memperhatikan pengendara yang lain, yang tiba-tiba saja telah banyak yang berhenti menyaksikan adegan 'jalanan" itu. Dan mobil truk yang menabrak saya dari belakang melaju, meninggalkan saya.

Saya tak memeriksa Warani (nama motor saya, dan saya sedang pikirkan untuk kembali mengganti namanya). Saya pernah menamainya Baiini, tapi serasa tak cocok, jadi saya ganti namanya menjadi Warani, saya suka memberi nama barang-barang yang saya miliki.

Warani sepertinya tak kekurangan apa-apa dari peristiwa dicium truk tersebut, setelah kembali tegak, saya langsung mengendarainya, saya juga merasa baik-baik saja. Tak ada luka,tapi pas sampai di perempatan, yang menuju ke masjid Syeck Yusuf itu, dimana lampu merah dipasang. lampu merahnya menyala, saya berhenti lalu merasakan perih di mata kaki saya yang sebelah kanan dan di tumit kaki sebelah kiri. Tapi saya abaikan, saya tetap mengendarai Warani dengan santai.

di Depan UIN Alauddin, saya berhenti, memeriksa motor, saya khawatir selang bensinnya bocor. Saya takut Warani terbakar dan saya ikut terbakar seperti Gunung Lompobattang dan Bawakareang yang terbakar itu. Saya juga memeriksa kaki saya yang perih dan hasilnya ada darah, ada luka tapi tak parah.

Luka sekecil apapun itu, pasti akan meninggalkan perih, meninggalkan rasa sakit. Saya berpikir sewaspada apapun saya di jalan saat berkendara, sekonsentrasi apapun itu, sehati-hati apapun itu kecelakaan tetaplah mengintai, hanya bedanya jika kita waspada, konsentrasi, hati-hati kecil kemungkinan kita akan mencelakai pengendara lain. tapi pengendara lain yang tidak hati-hati, tidak waspada, tidak konsentarsi bisa mencelakakan kita.

Dan takdir kecelakaan itu, tak peduli kita dimana, tak ada urusan dengan jarak rumah kita yang dekat. kejadian "kecil” tadi yang saya alami, tak jauh dari rumah kekasih. Saya meninggalkan rumah baru sekitar 3 menit. Sepertinya "maut" tak butuh waktu banyak untuk meregang nyawa kita. Untungnya tadi, maut belum jatuh cinta kepada saya, hingga saya bisa menulis kisah ini.


Veteran Utara, 26/10/2015



Warani saat menaklukkan lekukan jalan Camba, 19 Oktober 2015

1 Komentar so far