Rammusu

JEJARI....Apakah kau akan menelponku selepas musim hujan ini, menanyakan kabarku, memarahiku karena aku tidak mandi seharian. Aku lebih suka menatapi hujan daripada mengguyur tubuhku dengan air. Aku telah memangkas rambutku yang susah disisir itu. "pangkaslah rambutmu, agar hujan tidak tinggal di kepalamu yang akan menyebabkanmu "rammusu”. Aku suka saranmu itu, telah lama aku ingin menghemat sampo.

Teleponlah aku, di sudut riuh manapun kamu berada. Akan kuceritakan pagi ini aku berkeliling mencari pulsa sekadar memastikan aku tak terlambat membalas tiap SMS yang kau kirimkan dalam hujan. Selain jingga, aku ingin menamaimu perempuan hujan. Apakah kamu menyukai panggilan itu? telah banyak panggilan kusematkan pada dirimu yang misteri, sekali waktu aku menamaimu gadis penari, tapi katamu telah banyak yang memanggilmu demikian. Aku merenung di dini hari mencari nama yang kurasa tak akan ditemukan orang lain.

Di pangkuanku, ada novel berjudul Aki yang ditulis Idrus seorang sastrawan dari tanah Padang yang merupakan salah satu pelopor angkatan 1945. Aku bayangkan kamu seperti Sulasmi, istri Aki yang tabah, yang tak pernah takut menghadapi kematian Aki yang diprediksinya sendiri. Tapi barangkali itu berlebihan, aku hanya ingin kau menelponku dan kita nikmati segelas kopi ketika gerimis sedang cemburu..


Rumah kekasih, 21/12/2013