Asam dan Prof yang Tak Ingin Marah

JEJARI…lagi dan lagi, saya tidak mencatat peristiwa itu, ketika Prof (demikian saya memanggil pemilik rumah kekasih) menelepon pada suatu pagi yang masih disisai kantuk. Seperti biasa dengan suara gelegar, beliau bertanya kabar saya bagaimana dan kondisi rumah bagaiman? Harusnya saya catat hari itu, hari dimana Prof menelepon karena ada pelajaran berharga yang diajarkan secara tidak langsung kepada saya, bagaimana menjaga perasaan seseorang.

Di akhir September tahun 2015 lalu, saat itu saya sedang tidak di rumah kekasih, bahkan sedang tidak berada di Sulawesi Selatan. Kisah tentang rumah kekasih pun berubah. Tak lagi sama ketika saya tinggalkan. Perubahannya amat drastis, hingga saya merasa asing sendiri ketika pertama datang. Di garasi telah terpasang tempat cuci piring, halaman rumah tepat di bawah pohon mangga telah cor dan cat rumah yang pucat berubah cerah, serta tambah bersih.

Di depan pagar, terdapat tumpukan pasir dan pagar tidak terkunci seperti biasanya. Hanya derit pagar besi dengan cat putih tak berubah, masih serak. Perlahan saya melangkah masuk ke halaman rumah. Pot-pot yang berserakan di halaman rumah telah dipindahkan ke tempat lain. Aroma cat menyambut tajam. Saya terpaku cukup lama, rasa capek perlahan hilang karena dikudeta oleh rasa asing. Rupanya kejutan tidak sampai di situ saja, ketika saya membuka pintu rumah, ratusan karung asam menyambut di ruang tamu.

Sejak akhir September tahun lalu itulah, wajah rumah kekasih berubah. Mulai akrab dengan aroma asam yang awalnya tampak kalem seperti tumpukan beras yang tidak akan mengeluarkan airnya. Namun beberapa hari kemudian, air perlahan menetes dan memenuhi tenda biru yang jadi alas karung-karung asam tersebut agar tidak bersentuhan langsung dengan lantai keramik putih. Satu atau dua minggu air asam hanya menggenangi tenda tersebut. Namun minggu-minggu berikutnya, airnya mulai melumari lantai dan saya memiliki kerjaan baru “ngepel” ngepel air asam tiap hari.

Kehadiran ratusan karung asam di rumah kekasih menjadi kisah tersendiri, menghadirkan gerah yang tak biasa, hampir merusak beberapa foto yang tergantung di dindingnya dan jadi sambutan keheranan jika ada yang bertamu. Karena asam itu pulalah Prof memberi saya pelajaran yang sangat penting. Bagaimana cara mengolah sesuatu yang “mungkin” menghadirkan kemarahan yang tak bisa ditahan, harus dimuntahkan.

Ketika pertama Prof berkunjung dan mendapati asam menyesaki ruang tamu. Ia geram dan memerintahkan agar asam tersebut segera dipindahkan, “beritahu siapa saja yang datang (yang punya kaitan dengan asam tersebut) agar segera memindahkannya, saya tidak mau melihatnya lagi jika berkunjung,” demikian ultimatum Prof. Saya hanya mengiyakan saja.

Entah berapa hari setelah kunjungan tersebut, Prof menelepon menanyakan kabar saya dan juga apakah asam sudah dipindahkan atau belum? Perintahnya tetap sama, segera dikosongkan rumah kekasih dari asam-asam tersebut. Prof tak mau terima alasan apapun. Saya kembali hanya mengiyakan. Prof paham saya tak punya kuasa atas asam itu.

Di satu sisi saya bersyukur dengan adanya asam tersebut, karena Prof sangat rajin menelepon, menanyakan kabar saya dan berakhir dengan perintah yang sama, perintah yang lebih tepat disebut permohonan yang sangat agar rumah kekasih terhindar dari aroma asam. Saya kadang ingin mengatakan kepada Prof, kenapa beliau tidak menelepon langsung ponakannya yang telah dijadikan anak angkatnya itu, pasti anaknya itu akan mendengarkannya.

Pertanyaan tersebut berkecamuk cukup lama dipikiran saya. Lalu kemudian, tibalah pagi itu, yang harusnya saya catat karena memberikan pelajaran yang besar kepada saya. Kantuk masih bertengger di mata saya, suara saya masih parau tapi karena Prof yang menelepon maka saya membuat suara saya “seindah” mungkin agar terhindar dari cap malas oleh Prof..hahahhahahahha.

Seperti biasa, pagi itu Prof menanyakan kabar saya dan asam tentunya, ketika saya jawab asam masih ada. Suaranya terdengar geram. Beliau memohon dengan sangat agar asam tersebut segera dipindahkan. Lagi-lagi saya bertanya kenapa tidak langsung saja beliau menelepon anaknya?

“Saya tidak bisa menelepon langsung anak saya (ponakan) karena saya pasti memarahi dia, saya tidak mau marah kepadanya, makanya saya menelepon kamu,” ungkap Prof, seakan tahu pertanyaan yang telah berkecambah lama di pikiran saya.

Saya tersentak kaget mendengar alasan Prof, betapa bijaknya, betapa penyayangnya orang tua itu. Betapa cintanya belaiu kepada ponakannya yang telah diangkat menjadi anak angkat sejak ponakannya tersebut masih kecil. Sungguh pagi itu, menjadi pagi yang sejuk bagi saya di antara aroma asam yang mengantar gerah. Prof mengajarkan bagaimana cara menghindari kemarahan, bagaimana menghargai perasaan orang lain, bahkan anak sendiri, tidak seharusnya dimarahi jika melakukan kekeliruan. Prof tak ingin anaknya terluka oleh amarahnya, beliau tak ingin menorehkan luka…

Vetaran Utara, 20 Januari 2016 


                                                 Asam di rumah kekasih..