Merayakan Waktu

“waktu yang dinikmati adalah liburan sesungguhnya”

Seenaknya saja saya mengeluarkan pendapat tersebut, ketika seorang teman bertanya kemana saya akhir pekan ini. Teman saya tersebut menertawakan saya ketika mengatakan bahwa tak ada dalam rumus kehidupan saya agenda akhir pekan, jika saya ingin pergi ke suatu tempat, maka saya akan mendatanginya hari apapun itu—jika kondisi memungkinkan. Dan teman saya tadi lebih tertawa lagi, lebih tepatnya mengejek ketika saya katakan, sudah cukup lama saya lebih merasa lebih nyaman di rumah kekasih.

“Apa kamu tidak bosan, nikmati waktu dengan jalan-jalan,” katanya sambil menahan tawa. Maka saya menjawabnya dengan jawaban seperti di awal tulisan ini—yang diketik miring. Bagi saya apapun itu, dimanapun saya jika saya merasa menikmati waktu yang saya miliki, entah dengan sendiri atau ramai-ramai, entah dengan jalan-jalan atau sendiri di rumah adalah liburan sesungguhnya. Barangkali hal tersebut berlaku karena saya tidak punya kesibukan yang berarti.
Selain jualan buku, mengkhayal, dan mengerjakan tugas akhir. Aktivitas saya hanya berceloteh tak berarti di media sosial.

“Kamu sepertinya tidak bahagia, tidak pernah terlihat jalan-jalan, menghadiri pesta lalu mempostingnya di sosmed?” lanjut teman saya tersebut dengan pertanyaan yang mulai memvonis. Saya ingin bertanya kepadanya, tahu darimana saya bahagia atau tidak? Kebahagian adalah peristiwa batin yang tidak bisa dipastikan hanya dari senyum seseorang. Saya juga ingin mengatakan kepada teman saya tersebut, bahwa saya tidak percaya bahwa pesta dan jalan-jalan adalah satu-satunya cara merayakan kebahagian. Saya tidak yakin, mereka yang tertawa di meja makan adalah orang yang benar-benar bahagia atau mereka yang berselfie ria dengan latar pemandangan menakjubkan adalah orang yang benar-benar bahagia.

Pada sebuah sempat, ketika sedang berada di Malang, Jawa Timur. Saat itu, saya baru saja turun dari bus bersama dua orang teman, kami dari Surabaya. Perut keroncongan, hari sudah beranjak menuju siang yang larut. Kami memasuki sebuah warung di terminal, tak terlihat senyum di wajah kami karena capek dan lapar. Wajah kami justru terlihat cemas karena pertama kalinya ke Malang dan lebih cemas lagi bercampur bingung ketika membayar makanan yang harganya sangat jauh dari harapan kami. Tapi saya tidak bisa menjamin, apakah kedua orang teman saya tersebut juga cemas seperti saya lantas mereka tidak bahagia.

Perjalanan tersebut kami lakukan bertiga, tapi pengalaman batinnya adalah milik masing-masing dari kami—tak ada yang bisa mencurinya. Saya berusaha menikmati perjalanan tersebut, tapi sulit karena dibekapi rasa capek. Maka saya mengambil kesimpulan kecil, bahwa perjalanan atau jalan-jalan tak selamanya bisa menjadi liburan jika kita tak bisa menikmati waktu tersebut. Hanya saja, semakin banyak berjalan, semakin banyak pula yang akan kita lihat dan memberikan pelajaran serta pengalaman tak terhingga, sangat berharga.

Seorang teman lainnya, sangat risau karena ia tidak bisa jalan-jalan di hari Sabtu dan Minggu. Ia baru saja kecelakaan motor, yang menyebabkan giginya goyang dan nyaris dicabut. Ia kesakitan jika makan. Bukan hanya itu, lututnya luka dan matanya serupa sudah ditinju, lebam. Dahi dan bibirnya pun ikut luka. Maka tak ada pilihan lain, ia harus rela berbaring di rumah kontrakannya, jauh dari sanak keluarga. Tapi kerisauannya karena tidak bisa jalan-jalan tersebut memberikan ia pelajaran yang berharga, seseorang dengan leluasa bisa meneleponnya. Berbagi rasa dan rindu, yang sangat sulit mereka temukan di hari Senin-Jumat karena teman saya tadi harus bekerja. Waktu luangnya hanya di hari Sabtu dan Minggu dan itupun dihabiskan dengan jalan-jalan bersama teman-temannya yang lain. Sehingga lelaki yang menaruh perhatian kepadanya akan sulit menghubunginya. Maka saat teman saya kecelakaan dan mengharuskan tinggal di rumah, lelaki tersebut leluasa meneleponnya dan mungkin dari peristiwa kecelakaan yang menyebabkannya risau tersebut karena tak bisa jalan-jalan, ia akan menemukan kekasih dalam diri lelaki tersebut.

Saat ini, saya sedang di halaman rumah kekasih ditemani lagu Pria Kesepian dari Sheila On 7. Dan saya sangat menikmati suasana ini, waktu ini. Ini adalah liburan sesungguhnya. Sekali lagi saya tidak yakin bahwa cara terbaik merayakan kebahagian adalah pesta dan jalan-jalan, ada banyak cara merayakannya, misalnya....

Rumah kekasih, 23 Januari 2016 


Halaman rumah kekasih, di bawah pohon mangga

1 Komentar so far