Ke Kahayya

Ada nama yang tak pernah sampai pada pendengaranmu. Dan begitu sampai, kau akan mengerutkan dahi, mencoba membayangkan pemilik nama itu, namun terus saja gagal. Lalu kau akan cari tahu apa yang menarik di balik nama yang baru saja kau dengar. Kau akan bertanya lebih banyak seperti orang yang baru jatuh cinta.



Ia ingin menyebut satu nama yang bisa jadi baru pertama kali kau dengar. Nama yang bukan nama orang, tapi sebuah kampung paling ujung di sebelah barat Bulukumba, kampung yang belum cukup sedekade bercerai dari induknya agar bisa mandiri--bernapas sendiri. Kampung yang pernah dijadikan judul cerpen di buku Lelaki Gerimis.



Ibunya lahir dan besar tak jauh dari kampung itu (tetangga dusun) sebelum menyingkir ke kota, yang di sebut kota kala itu saat pasukan Kahar Muzakkar berkuasa, bukan kota seperti dikenal sekarang, tapi sebuah perkampungan yang telah dikuasai oleh tentara--pasukan pemerintah. Orang- orang pada waktu itu menamainya tempo panynyingkirang "waktu menyingkir" meninggalkan kampung tercinta, tempat ari-ari ditanam, tempat darah pertama tumpah.



Ibunya selalu mengenang kisah itu, saat gurilla 'pasukan gerilya' berkumpul di rumahnya untuk makan atau sekadar melepas lelah, minum kopi dengan senjatanya yang selalu siaga. Masa gerilya berkeliaran di kampung itu di sebut tempo gurilla.


                      *****



Tadi pagi, di awal tahun 2018, ia, ayah dan ibunya kembali ke kampung itu, memanen buncis yang ditanam ibunya. Kampung yang dituju adalah Kahayya, dulu merupakan sebuah nama dusun, tapi setelah lepas dari induknya, Desa Kindang, Kahayya menjadi nama desa. Kahayya pasti terdengar asing di telingamu, bukan?



Kahayya berada di lereng gunung Bawakaraeng, desa itu kini menjelma tempat wisata  yang menarik banyak orang mengunjunginya. Tempatnya paling ujung di Bulukmba, berbatasan dengan Sinjai yang hanya dibatasi sungai Balantieng, yang konon adalah sungai paling berani di antara beberapa sungai yang menyusu di gunung Bawakareang, sebab hanya sungai Balantieng yang berani sampai ke Kajang, yang tersohor itu. Bahkan memeluki Kajang.



Di sebelah barat Bulukumba setidaknya ada empat sungai yang lumayan besar, sungai Bialo, Bijahang, Addungan, dan Balantieng. Pada perjalanannya Addungan dan Balantieng bergabung. Kahayya memiliki dua sungai itu. Addungan dan Balantieng, Addungan menjdi batas antara Desa Kindang dan desa Kahayya.



Dulu, sebelum Kahayya berdiri sendiri, kampung itu adalah kampung mati dan orang-orangnya selalu jadi lelucun jika ada orang yang "norak" orang-orang akan mengatakan padai tau kahayyya 'seperti orang Kahayya'



Setelah mekar dan jalan mulai bagus. Orang-orang justru berbondong-bondong ke Kahayya yang menawan keindahan alamnya, bukit di kiri kanannya, ada danau Kahayya yang lebih dikenal dengan Lurayya. Di ujung danau itu kini telah dibuat kolam renang.  Sejak kolam itu ada, yang berdiri di dekat pohon beringin yang disakralkan, nuansa keramat pohon itu seakan pudar. Belut jinak di mata air yang tak jauh dari beringin itu barangkali telah pergi. Belut itu biasa makan telur di tangan pengunjung. Konon jika ada pengunjung digigit tangannya ia akan mendapat jodoh.


                   *****


Tadi pagi ia ke Kahayya dengan berjalan kaki. Terlalu banyak yang berubah, selain jalan dan lurayya menjadi tempat wisata, di  Gamacayya ada baruntung tinggia 'air terjun yang tinggi'  ada air terjun permandian bidadari yang bersusun tiga. Ibunya selalu menamainya panrio rioanna to sunrayya 'tempat mandinya orang yang tak kasat mata.' Kata ibunya, dulu sering terdengar suara orang mandi di air terjun yang bersusun tiga itu padahal tak seorang pun yang kasat mata.



Bukan hanya jalan yang berubah dan orang lebih banyak ke Kahayya, tapi juga perekonomian warga mulai meningkat, kopi, jagung, dan sayur-sayuran menjadi andalannya.



Dan yang mencengangkan sekaligus mengerikan, dulu sebelum di mekarkan, jika ada orang naik motor atau naik mobil ke Kahayya, orang-orang  akan kaget dan menjadi perbincangan. Sekarang (tadi pagi) ketika ia jalan kaki bersama ibu dan ayahny, orang-orang kaget melihatnya jalan kaki. Jalan kaki ke Kahayya seakan telah menjadi tabu.



Satu lagi, jika ke Kahayya jangan lupa ke Donggia minum kopi, letaknya di ujung Kahayya. Di Donggia kau bisa melihat sungai Balantieng yang berani itu.



Kindang, 1 Januari 2018