Cakar di Musim Cakar-cakaran

Sesekali tangannya dimasukkan ke toples mengambil kacang mekar. Penganan itu terasa pas pagi ini. Apalagi ada segelas kopi jadi pasangannya, dan buku Layla Majnun.


      Teras rumah kekasih pagi ini terasa nyaman sebab lebih bersih dari sebelum-sebelumnya. Riuh kendaraan di depan rumah mengusir banyak hal, termasuk ide yang ingin ditulisnya perihal yang kemarin pagi di depan kantor Bupati Gowa.


      Kemarin pagi, di hari Ahad itu seperti biasa. Di depan kantor Bupati Gowa akan disesaki orang yang menikmati liburannya. Jalan itu sengaja ditutup dari kendaraan roda dua dan empat agar warga bisa menikmatinya dengan jalan kaki yang semakin jarang dilakukan.


       Seperti ciri khas Indonesia pada umumnya di mana ada keramaian di situ ada pedagang. Seperti itu pula jalan di depan kantor Bupati Gowa itu yang sengaja di tutup dari raungan kendaraan setiap hari Ahad mulai pukul 06.00-10.00 pagi. Jika kamu tak punya sibuk, datanglah merayakan hari liburmu di sana.


       Segala jenis barang bisa kamu dapatkan di sana, mulai dari obat kuat hingga pakian bekas yang  lebih dikenalnya dengan nama cakar. Tepat di depan jalan masuk halaman kantor bupati. Penjual cakar tersebar di beberapa titik. Beberpa dari penjual cakar itu berkelompok dan masih muda.


       Mario misalnya, masih berstatus siswa di salah satu sekolah kejuruan di Makassar rela "ke daerah" bersama teman-temannya berjualan cakar. Mereka datang saat pagi belum benar-benar tiba demi mendapatkan tempat meletakkan dagangannya


       "Panggalangan dana untuk acara kesenian. Kalau mengharapkan dana dari sekolah agak susah," kata Mario dipertegas anggukan teman-temannya.


       Pakian bekas itu adalah koleksi mereka dan donasi dari orang yang peduli pada pada kegiatan yang akan dilaksanakan tersebut. Tak jauh dari kelompok Mario, sekelompok perempuan muda juga melakukan hal yang sama. Mereka juga menggalang dana untuk kegiatannya. Jika Mario dkk masih sekolah. Sekelompok cewek itu berstatus mahasiswa, mereka kuliah UNM.


        Jika sempat kamu boleh berjalan-jalan ke jalan itu, menyaksikan para kaum melenial tidak gengsi menjual cakar demi menunaikan janjinya pada lembaga atau organisasi yang digelutinya, demi melaksanakan program kerjanya.


        Cakar selalu identik dengan orang yang secara ekonomi kurang mapan dan tingkat pendidikan yang rendah, tapi anak-anak muda itu membungkam anggapan tersebut. Mereka rela datang, duduk di aspal beralaskan tikar seadanya dan berteriak memanggil pembeli agar membeli jualannya dengan harga yang sangat murah, rata-rata 5.000-10.000 rupiah dan hasil jualan itu tidak ada masuk ke kantong pribadinya, tapi untuk sebuah tanggung jawab yang bernama program kerja.


      Apakah yang berjualan cakar di jalan depan kantor Bupati Gowa itu hanya untuk penggalangan dana? ternyata tidak (mungkin kamu ketawa karena ia membanta pendapatnya sendiri di paragraf sebelum ini). Ada beberapa kamu milenial itu yang menjual barang bekas untuk menambah uang saku. 


      "Daripada pakian bertumpuk tidak dipakai lebih baik dijual untuk biaya hidup," kata Vhee, perempuan dari Belopa itu. Perihal Vhee, akan ia kisahkan tersendiri (tunggu saja)


     Apa pun alasannya, sebuah langkah maju untuk mengikis budaya gengsi anak muda. Ia dan kamu pasti sering mendengar anggapan miring bahwa pemuda dan pemudi Makassar (Sulsel) memiliki tingkat gengsi  melebihi tingginya gunung Bawakaraeng, mereka malu untuk bekerja atau melakukan hal yang dilakukan oleh orang yang tidak keren (jualan cakar dianggap jualan yang tidak keren)


     Tapi, jika kamu datang ke jalan yang ia maksud, kamu akan mengubah anggapan itu perlahan-lahan (semoga begitu) bahwa para kaum milenial di daerah ini tidak gengsian seperti anggapan kebanyakan orang. Mereka meretasnya dengan cara elegan. Bukan hanya meretas anggapan "buruk" itu, tapi juga kembali memasyarakatkan cakar yang pernah dilarang beredar. Dan tentu saja masyarakat bisa tidak berharap pemberian baju kampanye di musim yang serba cakar-cakaran ini..      

      

Rumah kekasih, 17 Sept 2018


Mereka berjualan cakar dengan riang gembira


Orang-orang yang merayakan liburan