Vhee, Perempuan yang Menunggu di Perempatan Jalan

Kamu duduk di aspal yang dialasi seadanya. Menekuk lutut agar kakimu tidak berselonjor yang bisa mengundang protes karena dianggap tidak sopan. Sesekali kamu tersenyum memperlihatkan kawat gigimu.

     
Tatapanmu lebih banyak memperhatikan orang yang lalu lalang di sekitarmu yang berjubel. Hari itu hari Ahad, 16 September 2018. Kamu bersama tiga orang perempuan datang ke Jl. Masjid Raya, Gowa menikmati liburan sekaligus menambah uang saku. 


"Sudah tiga minggu saya jualan di sini," akumu. Tiga minggu artinya sudah tiga kali kamu datang (sekali dalam sepekan) ke jalan yang menghubungkan Jl. Tumanurung Raya, jl Masjid Raya dan Jl. H. Agus Salim. Kamu duduk tepat di tengah pangkana 'perempatan' jalan itu. Melangitkan harapan. Menunggu uang mengalir ke saku.


"Boleh tahu namamu," tanyanya. Kamu menatapnya, barangkali menganggap lelaki yang jongkok di depanmu itu sambil memegang HP terlalu lancang menanyakan namamu.


"Nama asli atau nama panggilan," tawarmu bernada lembut.


"Nama panggilan saja," jawabnya sambil melihat matamu yang sedang fokus melihat sepatu dan sandal di depanmu. Ada seorang ibu sedang menanyakan harganya. Kamu menjawab pertanyaan ibu itu dengan baik, meski gagal memikatnya membeli barang yang kamu jual. Kamu tersenyum.


"Namamu?"

 tanyanya lagi mengalihkan perhatianmu. Kamu menatapnya 


"Vi," ucapmu. "V, H, E, E," ejamu pada nama sendiri. 


Ia mengucapkan terima kasih karena kamu membiarkannya mengetahui nama dan nomor WA-mu. Mungkin kamu melakukannya karena ia berjanji akan menulis tentangmu, tentang aktivitasmu setiap hari Ahad pagi berjualan cakar (pakian bekas) tanpa rasa malu. Itu mengagumkan.


"Kami bersepupu," ujarmu sambil melihati tiga orang perempuan yang tak jauh dari tempat dudukmu. Ketiganya sedang sibuk menawarkan cakar yang ditumpuk seenaknya saja.


 Ia berkunjung ke jalan depan kantor Bupati Gowa itu tanpa maksud apa-apa selain jalan-jalan, biasanya ia bertemu teman atau kerabatnya yang juga datang membuang kantuk paginya ke jalan itu. Namun, begitu melihat banyak anak-anak muda yang berjualan cakar, ia tertarik untuk menuliskannya. Niat itu pula yang menyeretnya mengenalmu.


Kamu bercerita banyak mengenai jualanmu. Sepatu, sandal, dan pakian bekas adalah koleksimu dan koleksi sepupumu yang tidak terpakai lagi karena berganti dengan yang baru, atau tidak lagi muat di tubuhmu.


 "Biasanya dapat 200-300 ribu," akumu. Ia mencoba membagi 4 angka itu. Hasilnya lumayan untuk untuk menopang hidup di rantau sebagai mahasiswa.


Ia lupa bertanya apakah sepupu-sepupumu tersebut juga berasal dari Belopa-Luwu, tempat turunnya manusia pertama di dunia tengah ini dalam kisah La Galigo yang kini menjadi sastra terpanjang dunia.


Idemu menjual cakar sungguh menarik, sebab tak semua orang bisa melakukannya karena rasa gengsi dan minder. Apalagi jika ia perempuan dan berstatus mahasiswa magister (S2) sepertimu.


"Saya kuliah S2 di Universitas Islam Negeri. S1 saya di Unhas, tapi karena jurusanku untuk S2 tidak ada di sana, jadi saya lanjut di UIN," kisahmu dengan ringan.


Ia jadi ingat beberapa tahun lalu, barangkali dikisaran tahun 2015 pemerintah melarang peredaran cakar karena diduga mengandung penyakit. Banyak cakar disita dan dimusnahkan. Itu jadi kisah pilu bagi pedagang dan penikmat cakar.


Larangan itu perlahan pudar seperti kasus korupsi yang dipudarkan. Di banyak tempat cakar tetap tersedia dan orang menjualnya terang-terangan seperti yang kamu lakukan. Meski saat itu yang dilarang adalah cakar dari luar negeri, tapi petugas di negara ini kerap menyapuratakan saja, tak peduli itu dari luar atau dari dalam negeri sendiri, tak peduli apa koleksi pribadi yang dijual atau bukan.


                        ****


Kini ia sedang berpikir bagaimana menuliskan kisahmu. Menunaikan janjinya agar orang tahu ada seorang mahasiswa S2 yang rela duduk di tengah jalan, di atas aspal dengan alas seadanya menjagai barang jualannya yang berupa baju, celana, sepatu, dan sandal bekas tanpa rasa minder.


........sesekali ia ingin menghubungimu untuk bertanya banyak hal mengenai aktivitasmu setiap hari Ahad pagi di perempatan Jl. Masjid Raya, Gowa tapi ia ragu, maka kisahmu bisa saja hanya ia dan kamu yang tahu, Vhee...


Rumah kekasih, 22 Sept 2018


Suasana di depan kantor Bupati Gowa setiap hari Ahad pagi