Lelaki yang Menolak Dicintai



Oleh: La Ndolo Conary

Di salah satu malam,Dawan terbangun jam dua dini hari. Ia tertidur setelah orang-orang pulang sholat Isya di masjid. Kondisinya kurang sehat sehingga sudah beberapa hari tak menjalankan aktivitasnya sebagai buruh bangunan di kampung-kampung. Malam itu ia menjerit kesakitan, ia tindis perutnya dengan ujung jari, sakit perutnya bertambah parah, keringat di keningnya mulai bercucuran, matanya tak bisa melihat secara jelas benda-benda di sekitarnya. Dalam kamar yang sempit, ia hanya mampu mengeluhkan segala derita kepada tembok dan beberapa helai pakaian yang tergantung. 

Dua tahun terakhir ia memang sering sakit, tubuhnya sangat kurus, urat dan tulang sangat mencolok, kalau jalan badannya merunduk.  Sejak umur lima tahun, Dawan telah ditinggalkan oleh ibunya yang pergi menjadi TKI di Malaysia, tetapi hingga kini ibunya tak ada kabar. Ia pasrah saja dengan keadaan yang menimpahnya, menyendiri menjalani hidup sebagai anak yang tak jelas ayahnya. Ia tak pernah bertanya pada ibunya tentang seorang ayah, sejak kecil hanya sosok seorang wanita saja yang ada di rumahnya.

Selama ibunya pergi, ia sering numpang makan pada pamannya atau di rumah teman sebayanya, kadang ia membantu pekerjaan orang sekedar mendapat upah sesuap nasi. Dan, pada usia dua belas tahun ia mulai hidup mandiri, bekerja keras untuk bertahan hidup.

Suara ayam yang berkokok di rumah tetangga terdengar, sebentar lagi subuh akan tiba, rasa sakit terus mengendarai tubuhnya. Ia memaksa bangun dan berjalan ke dapur untuk melihat sesuatu yang bisa dimakan, tapi tak ada apa-apa yang bisa dicicipi, kosong dan nihil. Kecuali air putih dalam ember kecil, secepatnya ia meneguk segelas air untuk menawar rasa lapar.

Ia menarik nafas dan kembali berbaring, tanpa ia sadari air matanya tumpah. Perihnya tak mampu lagi dibendung, ia sangat sedih mengingat liku-liku perjalanan hidup yang tak kunjung membaik. Di usianya yang dewasa, dua puluh tiga tahun masih saja hidup terlunta-lunta. Walau pun demikian deritanya, ia tetap semangat seperti kebanyakan orang dan telah tamatkan sekolah menengah atas. 

Matanya tertutup, bibirnya ia gigit, tangannya masih melilitkan perut. Dawan merasa tak berdaya menghadapi rasa sakit. Kepalanya pusing-pusing, badan terasa pegal-pegal, dan rasa lemas menggerogoti seluruh tubuhnya. Ia menanti azan subuh di masjid yang belum juga bunyi, baginya azan subuh semacam lonceng hidup karena pagi akan tiba dan cahaya harapan tertatap. Walau sekadar untuk mendengar suara orang-orang yang mondar-mandir di depan rumahnya. 

Ia melihat jam di handphone, tertulis angka 03.25, “Ahh, masih lama,” keluhnya yang tak berbunyi.  Wajah ibunya terbayang dalam gulita yang sepi, ia ingat masa kecil yang dimanja walau selalu meratapi kemiskinan, 

“Mungkin itu bahagia yang sering disebut orang-orang,” ia coba terjemahkan realitas dalam pikirannya. 

Sebab, di usia yang tergolong dewasa, ia masih sulit memahami arti kebahagiaan, dari kecil hingga kini ia tak pernah mampu memiliki seperti yang dipunyai oleh teman-temannya. Tak punya motor, pakaian saja hanya beberapa lembar dan bisa beli baru butuh waktu tahunan, rokok dibeli perbatang atau numpang kerelaan orang lain, kalau ada uang hasil buruh cukup untuk mendapatkan beras agar bisa kenyang lebih dari sehari.

Wajah yang tampan, kulit sawo, tinggi seratus lima puluh, murah senyum, akrab dengan banyak orang, penyabar, dan badan terlihat kurus, sehingga membuat wanita seusianya mengagumi. Titian, wanita di kampung seberang sangat mengagumi Dawan. Saat duduk di kelas dua SMA, Titian sudah meliriknya, hampir tiap hari di sekolah Dawan menjadi perhatian khusus. Dan, kini Titian masih menyimpan rasa yang sama, walau waktu sudah melompat berkali-kali. Titian sudah menjadi mahasiswa dan sedang berjalan semester lima di salah satu kampus di kotanya. Ketika libur semester, ia sempat bertemu dengan Dawan di pantai gusar, mereka saling bercakap tentang isyarat mata dan debar hati;

“Sakit?” tanya Titian ketika melihat Dawan yang makin kurus.

“Bagaimana kabarmu? Kau makin cantik,” Dawan memujinya, tanpa menjawab pertanyaan Titian.

“Baik. Tak ada yang berubah.”

“Bahagia bisa melihatmu tersenyum. Sebuah tulisan yang kau titip buatku dulu masih kusimpan, kunikmati baris tuturmu yang jujur itu.”

“Benarkah?” Titian tak percaya kalau ungkapan kekaguman di secarik kertas itu masih diingat, tapi tak pernah dibalas.

“Kenyataanya begitu.”

“Lalu?,” Titian penasaran.

“Tak bisa.”

“Ada orang lain?” Titian menelan rasa kecewa.

“Tak ada.”

“Mengapa?”

“Apa yang kau harapkan padaku?”

“Mengertilah yang kutulis dulu. Terima pengakuan yang jujur itu, kemudian bersamalah saling menggenggam kasih yang utuh,” Titian memandikan harapan pada debur ombak yang manja di pantai gusar itu.

“Serumit itukah?” ujar Dawan spontan, ia menatap langit kemudian melihat pohon yang berdamai dengan angin.

“Haaa,” Titan kaget, ia menatap wajah Dawan dengan keheranan. Tak disangkanya hal itu itu dianggap rumit. Baru ia rasakan ada lelaki yang menganggap sulit hanya karena diminta menerima rasa cintanya. “Lelaki macam apa ini?” amarah memanas dalam  hatinya.

“Aku hanya mampu mencintai angin yang sejuk tapi tak nampak. Aku hanya mengagumi matahari dan bulan yang terang tapi tak pernah menyakiti. Aku hanya senang pada laut yang kadang membahayakan tapi tak menakutkan. Aku hanya menyukai malam yang menakutkan tapi tak membunuh. Setelah itu, aku hanya mencintai kematian yang ditakuti tapi abadi,” kata Dawan sambil melemparkan kerikil ke laut. Ia tak menatap wajah Titian saat berbicara.

“Sudahlah. Aku juga hanya meminta pada hati yang punya kelapangan untuk sebuah harapan dan impian. Tak pernah kuharap matahari muncul pada malam atau bulan pada siang, aku juga tak pernah berniat menanam pohon di samudera luas. Tentu, itu semua mustahil terwujud,” Titian kesal, ia tenggelamkan rasa sukanya yang berlebihan itu.

“Tak ada masalah,” jawab Dawan tanpa peduli.

Titian bergegas, ia lebih dulu tinggalkan Dawan di pantai gusar itu, ia sangat sedih mendengar jawaban itu. Ia menyimpan rasa cinta pada Dawan sudah tiga tahun dan tak ada sedikit pun bergeser, tak peduli kalau Dawan lelaki yang miskin dan tak jelas orang tuanya, tak pernah ia pikirkan kalau lelaki itu hidupnya melarat seperti gelandangan. Ia terlanjur mencintainya dalam waktu yang lama sebagai tonggak ujian kesetiaan yang sunyi, namun tak dipahami oleh Dawan.

Lalu, benarkah Dawan tak mencintai Titian? Dalam detak jantung dan getar hati yang tulus, Dawan sangat menyukai wanita itu. Disaksikan oleh bulan saat di malam yang retak, ia selalu membayangkan beberapa wanita, baik yang disukainya secara sembunyi-sembunyi maupun wanita yang pernah mengutarakan perasaanya secara langsung. Ia pun ingin hidup seperti orang lain, mencintai dan dicintai, tapi setiap keinginan itu akan dituntaskan selalu saja hatinya menolak.

“Tidak bisa,” kata yang sering muncul di hatinya. Ia merasa tak seorang pun yang benar-benar tulus, baginya sudah cukup hinaan orang-orang di sekitarnya. Ia tak ingin seseorang yang dicintainya suatu saat akan menyakiti atau membuatnya kecewa baik melalui kata-kata maupun sikap, maka dari awal ia membantai perasaanya sendiri. Ia kubur dalam-dalam tentang perasaan mencintai itu, dikeringkan hatinya untuk menerima basuhan kasih sayang dari seorang wanita. Setiap ulur tangan kasih sayang seorang wanita dihempaskan begitu saja, sendiri menyiksa diri lebih mulia dari pada membiarkan orang lain mencabik perasaannya, ia lebih rela melukai diri sendiri. Membunuh perasaanya sendiri.

Ketika malam diacuhkan oleh bulan dan bintang, Dawan duduk bersandar di teras rumahnya, ia menonton orang yang berjalan dan anak-anak yang masih bermain. Beberapa nama wanita yang ia kenal terucap dalam hatinya, “Lilis, Mami, Ratu, Misnah, Maya, ….,” ia berhenti saat mendengar ucapan, “Bajingan,” suara itu muncul mendadak dari rumah tetangganya.

“Bajingan. Binatang,” kata-kata itu semakin keras.

“Diam,” suara lelaki membentak.

“Aku sudah cukup sabar tapi kau tak peduli. Aku minta diceraikan saja dari pada tanggung sakit hati dan dibohongi terus,” wanita itu semakin memuntahkan amarahnya.

“Dasar wanita yang tak punya rasa syukur.”

Suara teriakan semakin kencang, suara barang-barang yang  dibanting bertambah ramai. Wanita itu teriak berkali-kali sambil menangis, semenit kemudian keluarlah lelaki yang bertubuh kekar berjalan menjauh dari rumahnya.”Bajingan kau,” wanita itu sempat mengantar dengan kata makian. Dawan merasa ngeri mendengar dan melihat peristiwa itu, sesuatu yang sulit ia pahami dan tak pernah diharapnya. Seketika hatinya sesak, ia bayangkan kepedihan dan kesedihan ibunya yang dicampakan seorang lelaki, hinggi kini belum ia melihat raut wajahnya.

Ia ingat Ririn, wanita cantik berkerudung. Lulusan pondok setahun setelah ia taman SMA, Ririn menyukainya karena cara hidupnya yang sederhana. Bagi Ririn sesuatu yang istimewa, lelaki yang serba kekurangan tapi tetap bisa jujur. Selama ini yang sering nakal dan mencuri di kampung dari kalangan orang yang hidupnya berkecukupan. Sangat beda dengan Dawan, “Tapi sayang, dia sulit ditebak,” gumam Ririn mengingat sisa percakapan dengan Dawan.

Pada waktu yang gegabah, Dawan berkata;

“Aku lebih takut dicintai dari pada mencintai, sebab mencintai itu upaya memberi tapi dicintai harus ada kesiapan menerima. Menerima tak cukup menampung pemberian melainkan ia harus bertanggungjawab dan merawatnya. Aku lelaki yang hidup tanpa kekuatan untuk dicintai.”

“Aku ingin kau pahami,” pinta Ririn.

“Aku sudah tak punya hati untuk mengerti. Telah kucabut dan dibiarkan mengelana seperti binatang buas, biarlah akan menemui segala keganasan di hutan, di gurun, di lembah, dan mungkin ia kembali tak seperti hatiku sebelumnya. Hati itu bisa berubah wujud, jadi binatang, jadi batu, jadi pohon kering. Jadi bagaimana aku harus memahami?” tuturnya.

“Tak kuminta apa-apa,” lirih Ririn.

“Kau mencintaiku sama halnya meminta.”

“Kotorkah rasa sukaku padamu?”

“Tidak. Tapi jangan kau letakan permata pada lumpur karena akan hilang keindahanya.”

“Sungguh beku hatimu,” hati Ririn meronta.

Dawan diam, ia langsung bergegas menjauh. Hatinya sudah ditikam puluhan kali oleh tangan dan belati yang ia asah sendiri. Wanita yang ia cintai dan mereka yang mencintanya selalu dirindunya, jika sunyi ia pun ingin ada wanita yang menemani menelerai semua kesepian. Setiap keinginan akan tetap berjalan jadi keinginan, sudah ia pasung hasrat ber-keinginan itu supaya tak sampai pada seseorang.

Azan subuh telah berlalu, pagi menerobos resah hiruk-pikuk anak manusia, Dawan di rumah sakit. Jeritan kesakitan tadi malam terdengar oleh tetangganya, setelah subuh ia dibawa ke rumah sakit dalam keadaan lemas. Hampir dua jam berbaring di rumah-sakit, belum juga ada dokter yang memeriksanya. Malah para medis banyak tanya tentang kelengkapan adminitrasi yang ada kaitan identitasnya, wajah para medis itu tak menunjukan rasa kemanusiaan. Ia menjerit kesakitan, matanya sudah tertutup dari tadi, kadang ia menggigil.

"kalau tak ada kartu apa-apa, kami tak bisa melayaninya." Seorang perawat memberi tahu kepada orang yang membawa Dawan

"Tolong bantu, Bu!”

 “Apa tak mendengar ucapan tadi, Pak!” perawat pertegas perintahnya.

 “Jadi, saya harus apa, Bu?” 

“Bawa pulang.”

 Lelaki yang mengantar Dawan ke rumah-sakit, melihat wajahnya yang memelas, keringat asin bercucuran di mukanya, air matanya terus menetes. Dawan belum menyadari kalau ia sudah tak di rumahnya lagi, ia sudah pasrah sebelum kehidupanya menyerahkan pada maut. Jangankan kartu sehat atau sejenisnya sebagai tanda ia pernah hidup di negeri ini, tak ia miliki, nama seorang lelaki yang menitip kepalanya melalui rahim wanita yang hilang, itu belum juga ia tau. Ia hanyalah seonggak daging yang berjalan, mungkin wajar mata pendataan kepedulian luput dan lupa memasukan namanya. 

“Ya Allah,” suara yang patah terdengar dari perihnya. Dawan temui hatinya yang liar itu, kini sudah kembali dari kelana yang lama. Segala rimba gelisah dan derita berdarah telah tunai. 

 “Armiati,” Dawan memanggil nama perempuan yang meninggalkannya saat usia lima tahun. Ia hanya membuka mata sejenak, entah melihat apa. Gelap menyelimutinya.***
.................
La Ndolo Conary, lahir dan menetap di Bima. Buku puisinya Tuhan Tergadai telah beredar luas. Ia menyukai sastra dan petualang