Perjalanan Menuju Tabir


Puisi-puisi Damar I Manakku


Perjalanan Menuju Tabir


Mendengar kisah berlalu dari Tambo, tentang perempuan bermukim di bukit rindu yang layu. Jelitanya terhuyung di dalam gadang dengan kaca penantian, gadis berparas yang hanyut pada pelukan harapan.


Ingatkah tentang bumi yang lebih paham mengabarkan lewat mulut Kaba dibanding suara tanya perempuan berkulit sawo berdandan anak daro dengan mata basah? Isak terdengar dari rintihan rindu tanpa isyarat.


Perjalanan ini tak sekadar menghabiskan tenaga, lelaki ini baru saja keluar dari sangkarnya, bertualang menuju pencarian jawaban dari rahasia-rahasia kehidupan ranah Minangkabau.


Kota Padang, Juli 2018


---------------


Di Tubu Puisiku adalah  Jalan Kembaraku


Dua buah gunung antara Singgalang dan Marapi telah riuh kabutnya, di tengahnya rumah-rumah puisi berkhias bunga dan buku, inilah tanda bahwa tempat ini adalah rahim lahirnya para pecinta.


Akulah lelaki dari timur matahari, mengejar zikir pada ingatan dan hati, tibalah kaki kembara ini di ranah Minang yang diasuh oleh Mande, tempat surau memeluk tubuh.


Di tubuh puisiku adalah jalan kembaraku, kisah pertautan antara timur dan barat menjadi jalur undangan datang dengan penuh rindu, dari mata yang rimba dan pulang pada rimbun kisah yang kututurkan pada mereka, Kita memang Dun Sanak..


Padang Panjang, 17 Juli 2018


-------------------

Menemukan Hayati


Diperantauanku, ini kali pertama kukunjungimu dengan sungguh, kau harus tahu, bayangan kisahmu selalu bertualang dalam ingatan


Lubuk Linggau, SUMSEL 2018


----------------


Jangan Biarkan Aku Terbelenggu Bagai Burung dalam Sangkar


Kemarin, dari adat yang mengubur mimpi, segala piutang pada hati telah reda. Kebaikan pada siapa


--------------


Daeng Mabella

(Kisah Lelaki Makassar Berjuang di Bengkulu)


Kusengaja merenung di balik dinding benteng Marlborough, dari surat kabar yang melayang menuju bisikan, aku terima bahwa seorang lelaki dari tanah timur matahari telah mendaratkan perahunya di tepian pantai panjang


Seringkali berita tanpa pewarta berbisik di hati yang masih sunyi, aku mendaras bisikan itu sampai tiba pada cerita perangai lelaki Makassar tanggalkan halaman dan berlayar tanpa peta


Wahai Daeng Mabella, panglima yang mangkat dari jabatan, lelaki maha dari timur matahari menggulung tiga jenderal inggris, kupanggil namamu sejak amukan pantai samudera indonesia, kabarnya engkau adalah anak Daeng Maruppa, lelaki perkasa yang melihat cahaya di balik kegelapan