Januari, Bulan Luka Parah (1)


Jam dua belas malam lewat dua puluh delapan menit ia keluar rumah. Tahun 2019 baru berumur dua puluh delapan menit. Suasana kota Makassar masih sangat ramai, bekas petasan berserakan di jalan. Pengendara motor banyak meraung-raungkan motornya, banyak pula di antara mereka yang tak pakai helm. Beberapa polisi yang berjaga abai saja. Membiarkan pelanggaran itu.


Ia mengendarai motornya dengan sangat pelan, seorang lelaki ia bonceng. Tangannya sisa keseleo ketika pulang kampung beberapa waktu lalu belum sepenuhnya pulih. Ia memperhatikan semua yang bisa diperhatikan untuk lari dari ingatan tentangmu.


Detik-detik pergantian 2018 ke 2019 mengisyaratkan satu hal, pulangmu semakin lama, kenangan perlahan memudar, tapi baginya kenangan tentangmu tak pernah ingin pergi. Kau segala yang menjadikannya remuk retak dengan pergimu di anuari.


Sejak saat itu (2016) J22anuari baginya adalah bulan luka parah atau bulan yang membuatnya luka yang tak sembuh-sembuh di hatinya dan juga pada seluruhnya, meski ia tahu, kepergian itu adalah hal yang semua orang akan alami, pulang pada titik datangnya.


Ini akan jadi tulisan pertama, hingga tangga dua puluh delapan nanti, tanggal di mana kamu berhasil melukainya di bulan Januari. Kau pasti tahu, ia kerap merindukanmu, membayangkan kau telah tumbuh dengan cantik yang membuatnya akan was-was tentang semua hal yang bisa merapuhkanmu, membuatmu layu.


Saat keluar rumah, ia tak menyadari jika usia tahun 2019 baru dua puluh delapan menit, angka di mana kamu akhiri semua urusanmu di dunia yang mulai karatan ini. 


Rumah kekasih, 1 Januari 2019