Januari, Bulan Luka Parah (2)


Ada bulan kedatangan dan kepulangan Ada tempat kedatangan dan juga tempat untuk pergi. Dan sepertinya semua hal diciptakan dengan berpasangan. Pasangan bukanlah yang menciptakan hal yang sama, tapi yang membuat sesuatu yang berbeda. Pasangan serasi adalah yang berbeda agar saling mengisi.


Kau datang di Desember dan pulang di Januari. Bulan tibamu adalah suka cita dan bulan pulangmu duka cita. Suka dan duka dua kosa kata kata yang hanya berbeda huruf awalnya, tapi memiliki makna dan dampak yang sangat berbeda. Yang diawali S (suka cita) selalu bertabur senyum, ceria, bahagia, dan awalan D (duka cita)...aahh, tak perlu ia jelaskan. Semua orang berdoa agar terhindar darinya, dan semua doa pada akhirnya akan gagal


Ia selalu menyukai Desember bukan karena hujannya atau karena akhir perjalanan sebuah hitungan waktu, tapi karena di bulan itu kau datang bersama tangis dan senyum mungilmu di sebuah RS tak jauh dari kota Makassar. Dan ia benci Januari bukan karena hitungan waktu kembali dimulai, tapi karena di bulan itu kau memilih pulang lebih awal dari waktu yang diharapkannya.


Dulu, ia selalu berpikir kau pergi, tapi kemudian ia sadari bahwa kau tak pergi, tapi pulang. Pergi dan pulang dua hal yang berbeda. Kata pergi baginya memiliki makna yang sangat menghentak dan menyakitkan, maka ia kemudian memilih pulang, sebab kamu pernah datang pada sebuah tempat yang rahasia dan kau akhirnya pulang ke tempat asalmu. Ia lakukan itu untuk berdamai dengan luka dukanya, meski tak pernah benar-benar berhasil.


Semua ingatan tentangmu selalu saja basah, kemarau tak pernah mengeringkannya. Tapi, apa yang bisa ia lakukan selain belajar berdamai dengan kenyataan itu, bahwa kau benar-benar telah pulang dan ia mengiringi kepulanganmu dengan air mata, bahkan hingga saat ini. Dan ia telah berjanji akan menulis banyak hal tentangmu, sebagai kenangan dan juga bukti cinta.


Banyak yang mengatakan bahwa bukti cinta yang paling kuat adalah doa, tapi ia ingin menambahkan bahwa bukti cinta yang kuat selain doa adalah tulisan. Kedatanganmu ke dalam hidupnya tak lama, hanya lima tahun dua puluh empat hari. Kau datang dengan senyum mungil menggemaskan di sebuah siang dan pulang dengan beku kaku pada malam Jumat.


Januari baginya (sejak pergimu) bukan hanya awal sebuah perjalanan tahun Masehi, bukan hanya harapan dan doa-doa banyak dilantunkan demi kebaikan nasib, tapi juga awal luka nganga di hatinya yang tak ingin sembuh, tak ingin sembuh, ya tak ingin sembuh, meski berkali-kali telah diobati...


Rumah kekasih, 2 Januari 20181