Jerawat Semester Akhir



 Oleh: La Ndolo Conary

Daun-daun sudah banyak berguguran, begitu pula rerumputan semakin menguning, tak lama lagi musim hujan akan beranjak dan kemarau akan tiba. Musim saling mengejar dan waktu saling menjepit, suasana kadang mengembirakan tapi tanpa diduga datang mencekam pula. Semuanya terekam jelas dalam pita waktu yang terjadi di jalan, di rumah, di kantor, di gunung, di laut, di sekolah, di kampus, bahkan di hati manusia.
Terlihat tujuh gedung berlantai tiga, cat putih yang sudah bernoda, siang itu masih ramai. Berdiri kokoh kampus Hitam yang menampung ribuan mahasiswa, setiap hari dari pagi sampai malam aktivitas mahasiswa tak pernah sepi. Selain aktivitas perkuliahan di kampus menjadi tempat berkumpul dan bertemunya para aktivis dari beragam organisasi. Siang itu di teras gedung A puluhan mahasiswa duduk melingkar untuk membahas masalah sosial dan pemerintahan, ada yang kritik-mengecam dan ada pula yang tenang-tenang saja. Beda yang dilakukan oleh mahasiswa di gedung D, mereka lebih santai memainkan nada gitar untuk mengiringi lagu-lagu yang dinyanyikanya.
Di taman kampus sekelompok mahasiswa asyik menggunakan wifi untuk browsing internet, membaca literatur dalam menyelesaikan tugas kuliah, bahan kajian ketika ada agenda diskusi, mendownload game, atau iseng-iseng menonton film bokep. Namun berberapa mahasiswi yang berjilbab besar baru saja memasuki musholah setelah mendengar semacam pengumuman, muslimah kampus  Hitam yang akan mencari damai dalam pengajian.
Sinar matahari masih terasa panas, di kampus mahasiswa banyak yang berteduh di bawah pohon ketapang sambil bercerita, seorang Dosen muda yang baru saja keluar dari ruangan menghapus keringat di dahinya yang berkerut. Di depan ruang jurusan Keperawatan, Mirna berdiri mematung, matanya layu, wajahnya murung dan menatap kosong papan pengumuman yang biasanya ditempel hal-hal penting tentang nasib mahasiswa. Bedaknya memudar, lipstiknya yang merah sudah pucat, baju bagus dan celana mahalnya kusut, jilbab biru muda terasa membebani kepala. Hasil dandan di kostnya sejam sebelum ke kampus tak berbuah apa-apa, judul Skripsi yang ia ajukan belum jua diterima oleh dosen. Lalu ia memegang jari sambil menghitung berapa kali judulnya ditolak, bibirnya menyebut dengan pelan, “tujuh kali”.
Dalam kemurungan itu, Mirna ingin menangis, belum lagi nilai yang masih banyak menulis huruf D dan E. Huruf tersebut menjadi lampu merah yang akan menundanya keluar cepat dari Kampus. Ia mulai mengenang kembali masa-masa umur belia semesternya yang lebih banyak dimanfaatkan untuk hura-hura saja. Disaat teman-teman kostnya sibuk belajar dan mengikuti kegiatan organisasi, malah ia habiskan waktu untuk menyelenyapkan uang kiriman orang tuanya di Mall dan tempat karaoke. Nilai mudah dilobi dengan uang atau pakai jasa senior, pikirnya saat itu. Teman sejurusan dan sekelasnya sibuk membeli buku untuk referensi tugas, ia justru pusing beli pakaian bagus dan seperangkat alat kosmetik.
Kecantikan itu lebih penting dibandingkan dengan kecerdasan, nanti dosen dan senior mampu digoda dengan wajah mulus, payudara yang menonjol, dan paha yang padat dalam polesan celana ketat, begitulah anggapannya pada awal semester. Ia sering mendengar cerita bualan dari seniornya tentang cara yang mudah untuk mendapat nilai. Tapi sayang, nasibnya tak sama yang sering dicelotehkan oleh pendahulunya itu. Sungguh menyedihkan dan memilukan nasibnya.
Mirna masih berdiri di depan papan pengumuman itu, matanya memandang lantai lalu kembali melihat papan, sebentar menunduk sebentar diangkat kepalanya, begitu yang ia lakukan hampir sejam berdiri di sana. Keringatnya semakin banyak mengalir di wajahnya, tentu bedak di wajahnya tak dipedulikan lagi, kecantikan yang ia rawat sebagai sarana memuluskan jalan telah mencemooh dirinya sendiri. Masihkah ia berkata kecantikan itu penting? Bibirnya tidak berani bicara apa-apa. Segala upaya telah ia coba untuk ‘meneladani’ cara seniornya yang pandai melewati jalan pintas hanya modal senyum dan pasolek, namun ia mendapat perlakuan yang terbalik dari semua cerita bualan itu.
Di kegaduhan waktu ia menerima bentakan dosen yang merasa tersinggung karena merasa ilmunya ingin dibeli semurah harga sepotong roti di Mall. Bukan sekedar masalah uang tapi caranya yang menganggap segalanya bisa diatasi dengan uang, sehingga mengundang rasa muak dari dosennya. Seorang Dosen yang bergelar doktor itu berkata;
“Jika kau ingin nilai yang pantas seperti temanmu yang lain maka lakukan yang pantas pula. Jangan pernah meminta nilai tinggi kalau upayamu hanya secuil. Kalau belum lulus maka kuliah ulang sampai mendapat nilai sesuai harapanmu. Aku tak menjual nilai melainkan aku mengamalkan ilmu. Kamu paham?”
“Iya, Pak.”
“Belajarlah.”
“Baik. Maaf, Pak. Apa tak ada cara lain?,” ia memberanikan diri untuk tanya.
“Tak ada. Ikuti semester yang berjalan dan belajar sungguh-sungguh.”
“Pak, mohon bantu saya,” Mirna mulai merengek dengan muka yang sedih. Merendah bagai seorang budak yang meminta ampunan pada majikan.
“Silakan pulang,” suara dosennya tegas mengeluarkan perintah.
Peristiwa yang memalukan dan memilukan itu diingatnya kembali, lalu bayangan kedua orang tuanya seakan muncul dari kaca papan pengumuman di hadapanya. Ia mulai menyesal karena berbohong kepada orang tuanya, uang kuliah banyak digunakan untuk jalan-jalan dan makan di restauran yang mahal. Tunggakan uang kuliahnya menumpuk padahal ia sudah mengakui lunas pada orang tuanya. Janjinya akan membahagiakan orang tuanya tahun ini, kuliah kelar dan acara wisudahnya berfoto bareng sambil memakai toga sebagai seorang sarjana, kini ia rasa semuanya hanya omong kosong. Membayangkan itu membuat hatinya semakin tersayat.
“Mirna. Sudah keluar judulmu?” Marni tanya, seorang sahabat dekatnya.
Mirna menggeleng saja.
“Sabarlah. Masih ada waktu,” Marni bernada menasehati.
Ia menunduk saja.
“Nanti kita cari lagi judul yang lain,” berusaha agar temannya tetap semangat. “Masdin, Munir, Miswan, Murni, Misna, Mawar dan Maskur. Mereka juga belum keluar judulnya. Mungkin kalian masih diuji dan pasti ada jalan keluarnya,” Marni memotivasinya dengan menyebut deretan nama temannya yang senasib.
Mirna menatap kosong ke semua arah.
“Kita usahakan lagi, Mir. Masih banyak peluangnya,” Marni memberi saran lagi.
“Masalahku bukan hanya judul!,” ia membuka suara.
“Lalu?.”
“Nilai dan tunggakan uang kuliah,” ia coba utarakan deritanya.
“Aku juga.”
“Tapi tak separah aku.”
“Iya, bisa kita berjuang dalam waktu yang masih berpeluang.”
“Itu kamu. Kalau aku tak bisa. Sudah pasti.”
“Jangan pasrah. Kita berusaha dulu.”
“Tidak mungkin. Nilaiku yang belum lulus saja lebih dari puluhan mata kuliah, sementara uang kuliah masih enam puluh persen belum dibayar,” Mirna menumpahkan beban yang dipendamnya.
Marni diam mendengar keluhan temanya. Tak disangkanya masalah Mirna seruwet itu. Pusing juga ia mendengarnya. Kemudian ia berkata;
“Kita tetap berjuang. Jangan dulu pasrah dan bersedih,” ia memaksa untuk memberi semangat temannya walau dalam hati kecilnya berbisik tak mungkin bisa selesai dengan cepat.
Mendengar nasehat Marni, Mirna pelan mengangkat kepalanya, setidaknya ia lega untuk sementara bahwa masih ada temannya yang bisa menemani dikala tercekik oleh persoalan kuliah. Di hati kecilnya rasa sesal belum mampu diusir, seandainya dikumpulkan maka penyesalan itu akan membukit bagai gunung, apabila dijumlahkan maka akan melebihi angkat kemiskinan di negara ini. Beban yang diembannya sangat besar dan banyak, masalah yang dihadapi cukup rumit sehingga tak ada setitik lubang peluang yang memberi tanda.
“Aku tak tau apa yang terjadi jika orang tuaku mengetahuinya. Segala pengorbanan mereka tak sedikit pun yang mampu kuwujudkan. Mereka tidak pernah menunda permintaanku walau dalam keadaan yang sulit. Apa pun yang kuingin selalu dijawab Ya dan Ada, sampai detik ini belum pernah mereka mengatakan Tidak,” keluh Mirna di tengah malam pada temanya.
Di saat kesengsaraan merantainya tak banyak teman Mirna yang datang di Kost, nada panggilan di handphone pun semakin sepi, mereka yang biasa mengajak keluar malam untuk santai-santai lenyap seperti kelelawar, seorang lelaki yang sering memboncengnya menggunakan motor CBR 125 telah sebulan hilang diperedaran, dia salah satu lelaki yang dipacarinya setahun yang lalu. Kenyataan demikian membuatnya jengkel sekaligus rindu pada masa yang riuh-ramai itu.
Kicauan burung yang bertengger di pohon cemara sudut kampus Hitam ramai pada jam tiga sore. Ayam kampung seakan berlomba berkokok di belakang kampus, Mahasiswa ramai mengendarai taman dengan beragam tema yang dibincangkan, lapangan pun tak luput dari gelar rapat kelompok mahasiswa yang menyebut dirinya peduli kampus. Mahmud baru saja dibentak oleh dosen pembimbingnya karena memaksa beragumentasi yang tak logis setelah separuh skripsinya dicoret-coret. Ia menuruni tangga dengan langkah yang lengah, sebetulnya ia tak terima karyanya diacak-acak oleh dosen. Ia sangat malu dibentak di hadapan dosen-dosen yang lain, hal itu tak bisa diterimanya dan rasa jengkel memuncak  di hatinya. Tak sekedar bentakan yang ia dapat melainkan ucapan yang merendahkannya selaku aktivis kampus.
“Kau hanya pandai berteriak saat demonstrasi saja. Ngomong keadilan, kejujuran, transparansi, dan integritas, tapi nyatanya kamu tak bisa menunjukan yang lebih baik dari itu. Tulis Skripsi saja tak jelas urutannya, mana pendahuluan dan mana kesimpulanya. Tak mungkin aku membenarkan karya sampahan semacam ini, sudah tiga kali kuberi arahan masih saja banyak yang salah. Perbaiki lagi dan jangan bermimpi saya akan bisa tolerir kebodohanmu,” tak ada rasa iba sedikit pun yang ditunjukan oleh dosenya.
Mahmud mendunduk dan diam, tak seperti sebelumnya berani mengomentari  ucapan dosenya. Ia merasa sangat direndahkan. Dalam akal sehatnya ia menyadari sebagian yang dikatakan dosennya itu benar, tetapi cara penyampaiannya sangat menusuk rasa kemanusiaanya. Ingin ia lawan dengan cara lain yang ekstrim tapi ia pertimbangkan harapan orang tuanya, bahwa tahun ini menjadi penentu segalanya. Orang tuanya sudah memberikan warning tegas, harus selesai jika tidak, ia harus pulang kampung tanpa membawa kertas ijazah. Tak ada kompromi dan tak lagi ada tawar-menawar. Di sisi lain ia pun berpikir tentang lima mata kuliahnya yang belum kunjung berubah, huruf D dan E masih tertera dalam kertas penilaian dosennya. Padahal ia sudah pernah mengulang di semester yang berjalan.
Di kamar kost suatu sore, Munira sudah tiga kali bercermin, ia melihat jerawat semakin bertambah dan sebagiannya membengkak. Dua hari yang lalu ia pergi ke kampus untuk memperbaiki nilainya, tapi seorang dosen muda yang ia temui, bicaranya melebar ke mana-mana. Tak jelas mana pangkal dan mana ujungnya. Di ujung pembicaraan dosenya menawarkan jalan yang gampang tapi syarat yang mencengangkan.
“Urusan merubah huruf E menjadi B dan D menjadi A, itu hal yang mudah. Semuanya bisa diatur dengan cepat, hanya menyetir ujung pulpen. Tenang saja dan akan beres, tapi kita harus jalan-jalan dulu. Iya, makan malam atau apa yang kamu senangi. Hanya berdua saja,” ungkap dosenya dengan suara yang lembut tapi menahan gairah.
“Iya, Pak. Saya akan telpon nanti. Sekarang harus pulang dulu,” Munira beralasan sesopan mungkin.
“Tentu kamu perlu putuskan cepat. Demi masa depanmu,” nada intimidasi seorang dosen sebelum ia keluar ruangannya.
Munira senyum sebagai tanda mengerti.
Sisa gelap masih ada setelah tiga puluh menit azan subuh berlalu, ibu-ibu mulai menyapu halaman rumahnya, para pedagang sayuran sudah merapikan tempat jualan di pasar, anak-anak sekolah sedang nyanyi di kamar mandi, bulan mengantuk berat dan Mina belum tidur semalaman. Ia tak mendapat rasa ngantuk karena gelisah terus mengganggunya. Semenjak pulang menjalani program pengabdian dari kampusnya, ia tak penah menginjak kampus lagi, hampir sebulan kegiatan itu berakhir. Ia betah di kost bukan karena tak ada yang perlu diurus di kampus melainkan ada masalah yang menindisnya.
Ia sadar sebagai seorang wanita hampir tiga bulan tanggal-merahnya tak pernah bertamu, secara medis pun ia telah memastikan bahwa dalam rahimnya telah bermukin  calon bayi. Mengetahui itu ia malu untuk sekedar keluar dari kostnya dan seorang lelaki yang menidurinya tak pernah lagi datang. Menanggung beban itu membuatnya terjepit dan pernah ia coba menggugurkan dengan menenggak berbutir-butir pil. Semuanya tak menuai hasil yang diharapkan. Ia bertekad tetap betahan sendiri jika tak ada lelaki yang sedia bertanggungjawab, apa pun resikonya akan dihadapi sendiri dari kesalahan jalan yang telah dilakoninya.
“Kau harus mencari lelaki itu,” usul Masita, seorang teman yang sempat mendengar keluhannya.
“Tak mungkin.”
“Kenapa?”
“Aku sudah lelah. Cukup menunggunya di sini saja.”
“Tapi dia tak mungkin mau datang secara baik-baik.”
“Biar saja. Berarti aku bukanlah orang yang baik buat lelaki itu.”
“Tak boleh begitu. Mereka harus menanggungnya juga.”
“Jika ia lelaki yang baik maka akan datang bertanggungjawab. Tapi bukan aku yang memaksanya. Aku sadar masalah ini bukan semata-mata kesalahanya tapi diriku juga. Cukuplah kehinaan ini yang kuterima dan jangan lagi ditambah dengan kehinaan memaksa orang lain agar mengasihi diriku.”
“Sabarlah. Kau sangat kuat,” Masita memeluk temanya sambil menangis. Ia merasa simpati pada musibah yang melandanya.
Siang tak mau berdamai dengan sinar matahari yang sulit kompromi, teriknya menyemburkan panas di ubun-ubun manusia. Daun dan bunga layu, rerumputan ada yang terkapar di atas tanah. Di siang itu Mamat membanting Hpnya, sepuluh menit yang lewat bapaknya menelpon menanyakan terkait kuliahnya.
“Mat, apa kamu bisa selesai tahun ini,” dari jauh bapaknya tanya.
“Nanti dilihat, Pak,” jawabnya singkat.
“Kamu harus usahan cepat selesai, Mat.”
“Iya, Pak.”
“Kamu jangan iya, iya, terus. Nilaimu, bagaimana? Mungkin ada kendala lain! Ceritakan dulu.”
Ditanya masalah nilai, ekspresi wajah Mamat langsung berubah. Ia jarang peduli hal itu. Jangankan ngurus nilai, masuk kuliah saja ia jarang. Uang untuk bayar semesternya sering ia pakai untuk foya-foya. Ia sering beli alkohol untuk mabuk-mabukan bersama kelompoknya.
“Nanti saya cek semua dulu nilainya, Pak.”
“Kalau ada kendala kabarkan.”
“Baik, Pak.”
Selesai bicara dengan Bapaknya Mamat berbaring telentang di atas kasurnya. Ia tatap langit-langit kamarnya dengan pikiran yang kosong. Tak tau apa nasibnya di hari esok, ia pasrah pada kelalaian yang sudah menggunung.
Di rentang waktu yang berubah pada pagi yang masih cerah, Mirna semakin kurus dan jerawat di kedua pipinya semakin merah. Postur tubuhnya semakin berubah namun persoalan nilai dan judul skripsinya tetap mengawang. Di semester akhir teman-teman seangkatannya sibuk menyediakan acara wisuda, ia hanya repot memelas jerawat yang berkembang di wajahnya. Daging pipinya yang mengembang kini kempes, begitu juga kulit putih-mulusnya terlihat gelap. Keriput nampak menghina ketakberdayaannya. Ketika ia mengabarkan pada orang tuanya bahwa belum bisa selesai kuliah sesuai janjinya, tidak ada jawab panjang yang ia dapat. Orang tuanya hanya mengucap, “Sudahlah.”
Mahmud seorang aktivis gerakan dipanggil pulang secara paksa oleh orang tuanya, setelah berusaha banting-tulang menyelesaikan skripsinya yang berujung gagal. Tiba di kampung ia menjadi lelaki pendiam, hanya pergi ke sawah saja selain di rumah. Tak pernah kumpul dengan teman-temanya seperti biasa, sebab ia mulai mengerti rasa malu dan arti kekalahan. Dan orang tuanya tak lagi berhasrat melanjutkan kuliahnya, bapaknya hanya bicara jika ada yang perlu disuruh saat bekerja.
Munira mahasiswi cantik yang diajak dosenya keluar makan malam untuk menebus nilai masih sibuk menilai dirinya di depan cermin. Ia belum memberi lampu-hijau tentang tawaran dosenya. Ia penuhi waktunya untuk berkhayal tentang pasangan hidup di masa depan. Di benaknya terlintas ingin menikahi seorang polisi yang ganteng dan berpangkat tinggi supaya bisa mempermudah persoalan yang akan dihadapinya kelak, tapi pikiran itu segera dibuangnya karena mengenang seorang polisi yang berbadan gendut pernah menilangnya.
Di ruang yang lain dalam dentangan pilu, saat bintang bernyanyi dan bulan berdansa, Mina merengek sendiri meratapi luka yang bertambah membengkak. Ia menanggung sendiri resiko pertautan nafsunya  dengan seorang lelaki yang ia percaya, kini semakin berat. Kehadiran lelaki yang ia percaya semakin absur, dilain sisi perutnya membesar mengikut perpindahan hari demi hari. Tapi ia telah teguh untuk tetap sendiri saja, tak peduli ia akan menghadapi maut dalam menuntaskan penderitaannya.
Di kamar yang misterius, Mamat ditemukan oleh tetangganya berbaring lemas, mulutnya mengeluarkan busa, sisa pil masih ia genggam. Ia hanyut dalam over-dosis, menempuh jalan yang sunyi yang mengerikkan. Jalan yang terjal dan lorong sempit yang gelap mengantarnya ke panggung maut yang di jemput zikir malaikat dan tarian para iblis.
Cahaya bulan hari kemarin dan hari ini sama saja terang dan menempati langit, begitu pula matahari yang bersinar setiap siang tiba. Hidup bukan saja masalah bulan dan matahari, siang dan malam, hal itu tak ada yang berubah. Tetapi yang harus dimaknai sesuatu yang membekas pada setiap inci lintasan waktu. Itu pasti ada dan sangat nyata. Bagi manusia yang tak mampu menangkap tanda yang membekas itu maka nilainya selalu nihil, berlalu saja mengikuti cahaya bulan dan matahari yang saling menukar kesempatan.*****