Yang Tak Membenci Angin


    Oleh: Aruel Sederhana

 Aku adalah lembar yang tertiup hembusan angin, jatuh dihempaskan, tenggelam di antaranya hingga remuk tertelan bumi kemudian hilang. Tak satu pun yang akan mengenangku, itu pun jika aku dikenang. Itu akan kualami jika aku lemah, tak mampu bertahan, tak mampu mengenggam asaku di tempat yang menahanku. Namun jika aku kuat, aku mampu bertahan pada tempat itu, mampu menikmati hidupku lebih indah lagi, lebih baik lagi, lebih leluasa, lebih nyaman.

“Kau masih bisa bertahankan? Tetaplah di situ, pasti kamu lebih kuat.” Dahan yang kutinggali bertanya padaku. Ya, hanya dia yang selama ini menemamiku, memberikan dukungan padaku, membuatku bertahan berada di antara mereka yang membenciku bahkan mencoba untuk menyingkirkanku, hanya karena satu ambisi--kekuasaan.

“Ya, aku harus selalu di sini hingga kapan pun, hingga menua. Meskipun sekarang aku tahu akan ada hembusan angin yang bisa kapan saja membunuhku.” Aku menenangkan hati, dan benar kata dahan, aku harus kuat.

“Hahaha, sampai kapan? Kamu tinggal menunggu waktu, sebentar lagi kamu akan menua kemudian terjatuh melebur bersama tanah, tenggelam kemudian hilang.” Daun di dahan lain menertawaiku. Yah, entah karena apa mereka membenciku, padahal dari pertama pohon ini tumbuh, kami bersama-sama bahkan kami berjuang bersama memberikan motivasi pada pohon ini untuk bertahan, namun tak kusangka hanya karena kesalahan kecil, perubahan sikapnya padaku sekarang sangat luar biasa.

Mereka membenciku, meskipun pernah kuucapkan maaf pada mereka. Namun benar, satu kesalahan akan menghilangkan arti seribu kebaikan. Ibarat sebuah kertas putih yang dititik pena. Semua mata akan memperhatikan titik pena itu tanpa peduli banyaknya warna putih di sekelilingnya.

“Mengapa kau berkata seperti itu? Bukankah kita akan sama? Bukan hanya aku, kamu juga, kamu hanya menunggu waktu sampai kita sama-sama menua, jatuh lalu hilang tertelah bumi, iyakan?” Aku mencoba memotivasi hatiku, dan memang benar dengan apa yang kukatakan, kami hanya menunggu waktu, dan itu benar.

“Hahaha jelas tidaklah, kita berbeda, aku kuat, tidak mudah menjatuhkanku, kalau tua iya. Aku juga akan menua, tapi kamu harus tahu aku lebih kuat darimu. Buktinya sekarang kita berada di tempat yang berbeda, aku lebih tinggi darimu, lebih lebat, lebih kuat, dan lihatlah aku lebih hijau.” Sebuah kesombongan, yah benar ucapannya kali ini adalah sebuah kalimat kesombongan, angkuh.

Dia melupakan dirinya, dari mana dia berasal. Ini yang selalu ada di antara kita, di saat kita di atas terkadang kita lupa dari mana kita, siapa yang menemani kita dari awal dan siapa yang ada di belakang kita? Hanya karena kita berada di tempat yang beda, dengan mudah kita melupakan semuanya.

Harusnya kita menengok ke belakang, berterima kasih pada masa lalu yang telah mengajarkan kita banyak hal. Apalagi perihal kesalahan, sesungguhnya masa lalu adalah hal terbaik untuk memperbaiki kesalahan yang pernah kita lakukan. Bercermin tentang kesalahan-kesalahan kita kemudian mencoba hal yang baru di masa depan. Terima kasih masa lalu.

“Mengapa kamu berubah sekarang? Kamu benar-benar berbeda. Tidakkah kau ingat dulu masa di mana kita berjuang untuk mempertahankan pohon ini? Kau lupakan itu? Ingatlah kejadian itu?” Aku mencoba mengingatkannya tentang masa kemarin.

“Tak usah mengungkit masa lalu, kita ada di masa sekarang. Masa lalu hanyalah bayangan kelam yang tidak ada artinya.” Daun itu marah padaku, jelas kamu ingin melupakannya, sebab masa kemarin kamu jatuh terlalu dalam bahkan untuk tersenyum pun kamu susah. Aku heran juga, sebenarnya apa yang ada di pikiran daun itu? Bukankah kami hanya selembar daun? Itu betul, tapi apa yang dia pikirkan, mengapa dia sesombong itu? Ah aku lupa, iya betul. Siapa pun akan berubah karena hal ini. Yah kedudukan dan pangkat. Jika kamu sedang menikmati pangkat yang lebih tinggi, hati-hati kamu akan dengan mudahnya merasa di atas lalu melupakan siapa dirimu sebenarnya. Ini fakta. kecuali bagi hamba yang baik iman dan takwanya.

“Tunggu dulu, jika kamu benar-benar kuat, apakah kamu mampu bertahan?”
“Iya mampu, itu sudah jelas, sebab kehilanganku akan mengurangi indahnya pohon ini, kamu harus tahu itu.”

“Lantas, mengapa kamu masih penuh dengan kesombongan.”

“Hahaha, pertanyaan apa itu? Lihat dirimu, kamu di bawah sana, apa yang kamu bisa? Hah? Menggelantung pada dahan yang kecil, tidak lama lagi dia akan rapuh kemudian kalian akan jatuh melebur ke dalam tanah, lalu hilang tanpa jejak, dan kau takkan dikenang, itupun kalau mungkin dikenang, hahaha”

“Sungguh sebuah kalimat kesombongan, namun terima kasih karena beberapa pernyataanmu sekarang sudah mencerminkan siapa kamu sebenarnya.”

“Berhenti berdebat, kalian sama saja, siapa yang berani menjamin kita bisa hidup lama di sini? Tidak ada, dan tidak pernah ada. Aku dahan yang kalian tinggali belum tentu selamanya di sini. Akan datang hari di mana manusia memangkasku untuk sesuatu hal, entah aku sengaja dipangkas untuk menambah cantik pohon ini, atau aku ditebang untuk digunakan dikeperluan lain.” Benar yang dikatakan dahan, kini aku dan daun di tangkai atas hanya mampu terdiam. Aku ingat betul bagaimana pohon di samping kami waktu kami kecil dulu dipangkas beberapa dahannya. Kata mereka menghindari pertumbuhan bercabang sehingga pohon itu akan tumbuh lurus saja.

“Mengapa kalian diam? Mau berdebat lagi? Kalian harusnya sadar, kita hanya bisa mengikuti keinginan kita tanpa bisa berbuat lebih, mensyukuri yang kita punya adalah yang lebih baik. Sekarang kalian lihat ke bawah sana, lihatlah banyaknya daun yang berubah warna, banyaknya daun yang berjatuhan. Apakah mereka tidak mensyukurinya? Apakah mereka menyesalinya? Tidak, mereka justru bersyukur karena mereka mampu membuat tanah subur dan menjadi pupuk untuk pohon yang pernah mereka tinggali, mereka adalah hamba-hamba yang tidak membenci angin, mereka selalu bersyukur, tidak seperti kalian berdua.” Kalimat panjang dari dahan semakin menyadarkanku. Iya, aku harusnya bersyukur, bukankah jika aku mengeluh maka aku akan sama saja dengan mereka.

“Daun maafkan aku!”

“Iya daun, aku juga minta maaf.” Betul, setidaknya sekarang aku paham, aku tersenyum sambil tetap kubiarkan tubuh ini bergoyang dihembus angin.

Kutatap ke bawah, yah hanya perihal waktu, entah esok atau kapan aku akan seperti mereka--menua kemudian jatuh, lalu melebur bersama tanah kemudian perlahan menghilang. Setidaknya aku tidak pernah membenci angin. Semoga kalian juga tidak.

Sungguminasa, 04 April 2015

Aruel Sederhana, Lahir di salah satu kabupaten di Sulsel, menyukai sastra dan teater. Ia lelaki perindu yang setia. Alumni Bahasa dan Sastra Indonesia Unismuh Makassar. Anggota paling andalah di Komunitas Bassi.